Ketahanan Pangan dan Energi Jadi Kunci Keberlanjutan Program MBG
Rabu, 08 April 2026 - 16:28 WIB
loading...
A
A
A
Esther juga menyoroti dampak konflik geopolitik global, termasuk ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Konflik tersebut berpotensi menghambat perdagangan internasional, terutama pada jalur distribusi energi dan bahan baku industri. Ketika distribusi global terganggu, biaya logistik meningkat dan harga bahan baku impor naik.
Indonesia sebagai negara yang masih bergantung pada impor sejumlah bahan baku akan terkena dampaknya. Kenaikan biaya produksi akibat mahalnya bahan baku impor akan mendorong kenaikan harga produk dalam negeri.
“Jika kondisi ini berlangsung lama, maka inflasi akan meningkat dan daya beli masyarakat bisa tertekan. Pada akhirnya, situasi tersebut juga akan memengaruhi keberlanjutan program sosial pemerintah,” terangnya.
Dalam konteks itu, Esther menekankan bahwa kunci keberhasilan Program MBG adalah memastikan pasokan bahan baku berasal dari dalam negeri. Ia menyebut bahwa program swasembada pangan dan swasembada energi yang dicanangkan pemerintah menjadi sangat penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar global.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan energi alternatif. Sumber energi terbarukan seperti tenaga air, angin, dan matahari tersedia melimpah. Selain itu, pengolahan sampah menjadi energi juga dapat menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Jika energi domestik dapat dipenuhi secara mandiri, maka tekanan kenaikan harga energi global tidak terlalu berdampak pada biaya produksi pangan. Di sektor pangan, Esther mendorong pemerintah memberikan dukungan penuh terhadap penguatan infrastruktur pertanian.
Dukungan tersebut meliputi pembangunan irigasi, penyediaan pupuk, teknologi pertanian modern, akses pembiayaan petani, serta penguatan distribusi hasil panen. Dengan infrastruktur yang memadai, produktivitas pertanian dapat meningkat dan Indonesia bisa memperkuat ketahanan pangan dan sangat efektif untuk mendukung ketersediaan pasokan lokal MBG.
Ia juga menegaskan bahwa dalam teori ekonomi, suatu negara tidak harus memproduksi semua barang. Negara sebaiknya fokus pada komoditas yang memiliki keunggulan komparatif dan dapat diproduksi lebih efisien. Dalam konteks Indonesia, beras merupakan komoditas yang realistis untuk kembali mencapai swasembada.
Esther mengingatkan bahwa Indonesia pernah berhasil swasembada beras pada tahun 1984, sehingga capaian tersebut bukan hal yang mustahil untuk diulang. Selain beras, diversifikasi pangan juga perlu didorong. Esther menyebut bahwa tidak semua masyarakat Indonesia bergantung pada beras sebagai makanan pokok.
Komoditas seperti singkong, porang, sukun, dan sagu memiliki potensi besar sebagai alternatif sumber karbohidrat. Dengan dukungan teknologi pengolahan pangan, komoditas tersebut dapat diolah menjadi produk pengganti beras yang bergizi dan memiliki nilai ekonomi.
Indonesia sebagai negara yang masih bergantung pada impor sejumlah bahan baku akan terkena dampaknya. Kenaikan biaya produksi akibat mahalnya bahan baku impor akan mendorong kenaikan harga produk dalam negeri.
“Jika kondisi ini berlangsung lama, maka inflasi akan meningkat dan daya beli masyarakat bisa tertekan. Pada akhirnya, situasi tersebut juga akan memengaruhi keberlanjutan program sosial pemerintah,” terangnya.
Dalam konteks itu, Esther menekankan bahwa kunci keberhasilan Program MBG adalah memastikan pasokan bahan baku berasal dari dalam negeri. Ia menyebut bahwa program swasembada pangan dan swasembada energi yang dicanangkan pemerintah menjadi sangat penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar global.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan energi alternatif. Sumber energi terbarukan seperti tenaga air, angin, dan matahari tersedia melimpah. Selain itu, pengolahan sampah menjadi energi juga dapat menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Jika energi domestik dapat dipenuhi secara mandiri, maka tekanan kenaikan harga energi global tidak terlalu berdampak pada biaya produksi pangan. Di sektor pangan, Esther mendorong pemerintah memberikan dukungan penuh terhadap penguatan infrastruktur pertanian.
Dukungan tersebut meliputi pembangunan irigasi, penyediaan pupuk, teknologi pertanian modern, akses pembiayaan petani, serta penguatan distribusi hasil panen. Dengan infrastruktur yang memadai, produktivitas pertanian dapat meningkat dan Indonesia bisa memperkuat ketahanan pangan dan sangat efektif untuk mendukung ketersediaan pasokan lokal MBG.
Ia juga menegaskan bahwa dalam teori ekonomi, suatu negara tidak harus memproduksi semua barang. Negara sebaiknya fokus pada komoditas yang memiliki keunggulan komparatif dan dapat diproduksi lebih efisien. Dalam konteks Indonesia, beras merupakan komoditas yang realistis untuk kembali mencapai swasembada.
Esther mengingatkan bahwa Indonesia pernah berhasil swasembada beras pada tahun 1984, sehingga capaian tersebut bukan hal yang mustahil untuk diulang. Selain beras, diversifikasi pangan juga perlu didorong. Esther menyebut bahwa tidak semua masyarakat Indonesia bergantung pada beras sebagai makanan pokok.
Komoditas seperti singkong, porang, sukun, dan sagu memiliki potensi besar sebagai alternatif sumber karbohidrat. Dengan dukungan teknologi pengolahan pangan, komoditas tersebut dapat diolah menjadi produk pengganti beras yang bergizi dan memiliki nilai ekonomi.
Lihat Juga :