Perubahan AS dalam Perang Iran 2026: Tanda Kekalahan?

Senin, 06 April 2026 - 16:33 WIB
loading...
A A A
Sementara itu, ada dimensi lain yang tidak kalah penting dalam pergantian jenderal, yaitu konsolidasi kekuasaan. Dalam kondisi tekanan politik yang kuat, pemimpin cenderung memperkuat kontrol terhadap institusi-institusi kunci, termasuk militer.

Mengganti jenderal bukan hanya soal efisiensi atau kinerja. Ia adalah cara untuk memastikan tidak ada deviasi. Tidak ada suara yang terlalu berbeda, dan juga tidak ada keberanian untuk mempertanyakan arah perang. Pergantian jenderal, karenanya, dapat menjadi cara untuk memastikan bahwa tidak ada resistensi internal terhadap arah kebijakan perang.

Namun, langkah ini membawa konsekuensi serius. Ia menggeser keseimbangan antara kekuasaan sipil dan profesionalisme militer, yaitu sebuah keseimbangan yang selama ini menjadi fondasi penting dalam sistem demokrasi Amerika. Dalam sistem demokrasi, militer berada di bawah kendali sipil—tetapi bukan tanpa ruang untuk profesionalisme. Ia harus tunduk, tetapi tidak kehilangan integritas.

Ketika jenderal diganti karena perbedaan pandangan strategis, batas itu mulai kabur. Militer tidak lagi menjadi penyeimbang rasional, tetapi hanya sebagai pelaksana. Dan, ketika itu terjadi, keputusan perang menjadi semakin sempit yang dibentuk oleh lingkaran kecil kekuasaan tanpa koreksi internal.

Pungkasannya, sejarah telah berulang kali menunjukkan bahwa perang yang diputuskan dalam ruang sempit seperti itu jarang yang berakhir baik, dan juga sinyal kekalahan yang memalukan untuk diakui. Apakah AS sedang menuju kekalahannya pada medan tempur ini? Mahkamah sang waktu yang akan menjawabnya.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
DPR Minta Pemerintah...
DPR Minta Pemerintah Evaluasi Harga BBM Non-Subsidi Pascaanjloknya Harga Minyak Dunia
Birokrasi dan Paradoks...
Birokrasi dan Paradoks Belanja Negara
Perang Iran: Dari Bertahan...
Perang Iran: Dari Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan?
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Islam: Agama yang Paling...
Islam: Agama yang Paling Disalahpahami
Yusril Bicara Kedekatan...
Yusril Bicara Kedekatan Prabowo-Trump, Sebut Hubungan RI-AS Tak Sekadar Urusan Pemerintah
Pengaktifan Kembali...
Pengaktifan Kembali Transit Lewat Selat Hormuz Mungkin Perlu Waktu Beberapa Pekan
Menlu Iran Tegaskan...
Menlu Iran Tegaskan Akhir Perang Dideklarasikan Senin, Resmi Berlaku Jumat
Hamas Sambut Baik Kesepakatan...
Hamas Sambut Baik Kesepakatan AS-Iran, Serukan Penghentian Serangan di Gaza dan Lebanon
Rekomendasi
Menlu Iran Tegaskan...
Menlu Iran Tegaskan Akhir Perang Dideklarasikan Senin, Resmi Berlaku Jumat
Hamas Sambut Baik Kesepakatan...
Hamas Sambut Baik Kesepakatan AS-Iran, Serukan Penghentian Serangan di Gaza dan Lebanon
Prancis di Persimpangan...
Prancis di Persimpangan Mimpi dan Trauma
Berita Terkini
Usai Temui Jokowi, IKA...
Usai Temui Jokowi, IKA BEM Nusantara Akan Bertemu Gibran, Bahas Apa?
Bonatua Silalahi Ungkap...
Bonatua Silalahi Ungkap Kejanggalan di Fotokopi Ijazah Jokowi: Tak Ada Tanggal Legalisir, Melanggar Peraturan
Digeruduk Mahasiswa...
Digeruduk Mahasiswa UGM saat Diskusi, Budiman Sudjatmiko: Kami Bersedia untuk Dikritik
Kemenag Susun Kosa Isyarat...
Kemenag Susun Kosa Isyarat Istilah Fikih dan Teologi Islam untuk Disabilitas
Wali Kota Agustina Tegaskan...
Wali Kota Agustina Tegaskan Kerukunan Jadi Kekuatan Utama Membangun Kota Semarang
Dukung Tambahan Anggaran...
Dukung Tambahan Anggaran Komnas HAM dan Komnas Perempuan, Marinus Gea: Penting untuk Pemenuhan Hak Asasi Manusia
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved