Ketika Kebenaran Didamaikan

Jum'at, 13 Maret 2026 - 01:48 WIB
loading...
Ketika Kebenaran Didamaikan
Ramdansyah (paling kanan) bersama Roy Suryo, Tifauzia Tyassuma, Refly Harun, dan beberapa kuasa hukum lainnya di Mahkamah Konstitusi (MK). Foto: Istimewa
A A A
Ramdansyah
Penasihat Hukum Troya - Tifa & Roy’s Advocate

PERDAMAIAN sering dipandang sebagai nilai tertinggi dalam kehidupan sosial. Konflik yang berkepanjangan dianggap merusak kohesi masyarakat, sehingga rekonsiliasi menjadi jalan keluar yang diharapkan. Dalam banyak perkara, logika ini masuk akal. Perdamaian mampu memulihkan relasi yang rusak sekaligus menghentikan spiral permusuhan.

Namun demokrasi modern berdiri di atas prinsip yang lebih kompleks. Ia tidak hanya membutuhkan perdamaian, tetapi juga kepastian tentang apa yang dapat dianggap benar. Dalam batas tertentu, konflik memang dapat didamaikan. Tetapi ketika yang dipertaruhkan adalah fakta, perdamaian tidak selalu menjadi solusi.

Ada perkara yang memang menuntut rekonsiliasi. Tetapi ada pula perkara yang justru menuntut sesuatu yang lebih mendasar—kebenaran yang dapat diverifikasi. Di sinilah batas antara perdamaian dan kebenaran mulai terlihat

Ketika Fakta Menjadi Sengketa


Pertanyaan ini muncul kembali ketika mekanisme restorative justice (RJ) disebut sebagai kemungkinan jalan keluar dalam polemik dugaan ijazah Presiden Joko Widodo. Beberapa pihak yang sebelumnya mengajukan laporan—antara lain Eggi Sudjana, Damai Hari Lubis, dan Rismon Sianipar—mengajukan penyelesaian melalui mekanisme perdamaian.

Secara hukum, gagasan tersebut bukan tanpa landasan. Howard Zehr (2015) menyebutkan bahwa restorative justice berkembang sebagai pendekatan yang menempatkan pemulihan relasi sosial di atas penghukuman. Dalam berbagai perkara pidana yang melibatkan kerugian personal, pendekatan ini terbukti mampu meredakan konflik sekaligus memulihkan hubungan sosial yang retak.

Namun demokrasi modern tidak hanya membutuhkan perdamaian. Ia juga membutuhkan kejelasan tentang apa yang dapat dianggap benar.

Persoalannya menjadi berbeda ketika yang disengketakan bukan sekadar konflik antarindividu, melainkan kebenaran faktual yang berada di ruang publik.

Krisis Epistemologis di Ruang Publik


Pertanyaan ini membawa kita pada persoalan yang lebih mendasar dalam demokrasi kontemporer: krisis epistemologis di ruang publik. Ilmuwan politik Jeffrey Friedman (2023) menyebut bahwa polarisasi politik modern sering berakar pada krisis epistemologis—situasi ketika masyarakat tidak lagi berbagi kerangka bersama tentang apa yang dapat dianggap benar.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jokowi Bakal Masuk PSI,...
Jokowi Bakal Masuk PSI, Deddy Sitorus PDIP: Terus Terang Kami Tidak Takut
Birokrasi dan Paradoks...
Birokrasi dan Paradoks Belanja Negara
Perang Iran: Dari Bertahan...
Perang Iran: Dari Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan?
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Demonstrasi Ketidakpastian...
Demonstrasi Ketidakpastian Hukum dalam Penanganan Perkara dr Tifa dan Roy Suryo pada Polemik Ijazah Joko Widodo
Islam: Agama yang Paling...
Islam: Agama yang Paling Disalahpahami
Roy Suryo Titip Pesan...
Roy Suryo Titip Pesan ke Massa Aksi Demo: Jangan Disusupi, Aparat Harus Humanis
Roy Suryo Laporkan Lechumanan...
Roy Suryo Laporkan Lechumanan dan Rismon Sianipar ke Polda Metro Jaya
Jokowi Buka Suara! Soal...
Jokowi Buka Suara! Soal Kasus Laptop Nadiem: Semua Kebijakan dari Presiden
Rekomendasi
Soal Insiden di UGM,...
Soal Insiden di UGM, Wamentan: Kita Demokratis, Siap Diskusi dengan Siapapun
Kapal Tanker India Lintasi...
Kapal Tanker India Lintasi Selat Hormuz, Tandai Pulihnya Jalur Strategis usai Kesepakatan Damai AS-Iran
Ford Batal Gunakan Baterai...
Ford Batal Gunakan Baterai LFP untuk Mobil Listriknya
Berita Terkini
Indonesia Tunjukkan...
Indonesia Tunjukkan Kerukunan Antaragama ke Presiden Jerman di Istiqlal dan Katedral
Gelombang I Berakhir,...
Gelombang I Berakhir, 245 Kloter Jemaah Haji Telah Diberangkatkan ke Tanah Air
Kolonel Inf Achmad Fikri...
Kolonel Inf Achmad Fikri Dalimunthe, Prajurit TNI Pertama yang Lulus National Defence College Yordania
Jamu Presiden Steinmeier,...
Jamu Presiden Steinmeier, Prabowo Sebut Jerman Jadi Inspirasi Inovasi Teknologi
Telusuri Aset Tersangka...
Telusuri Aset Tersangka Kasus Kuota Haji, KPK Periksa Pengelola Apartemen
Tahun Baru Islam, Menag:...
Tahun Baru Islam, Menag: Momentum Pentingnya Dialog dan Merangkul Perbedaan
Infografis
3 Negara yang Tetap...
3 Negara yang Tetap Mendukung Israel Ketika Dunia Mengutuknya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved