Mudik, Ban, dan Nasib Petani Karet Indonesia

Kamis, 12 Maret 2026 - 17:58 WIB
loading...
Mudik, Ban, dan Nasib...
Irfan Ahmad Fauzi, Ketua Asosiasi Petani Karet Indonesia. Foto: Istimewa
A A A
Irfan Ahmad Fauzi
Ketua Asosiasi Petani Karet Indonesia

MENJELANG Lebaran Idulfitri, jalan-jalan di Indonesia berubah menjadi sungai kendaraan. Mobil pribadi, bus antarkota, dan sepeda motor mengalir tanpa henti menuju kampung halaman. Di rest area jalan tol, antrean kendaraan memanjang.

Di jalur arteri, kemacetan menjadi pemandangan biasa. Jutaan orang bergerak serentak dalam sebuah tradisi yang dikenal sebagai mudik. Pada musim mudik 2024, survei Kementerian Perhubungan Republik Indonesia memperkirakan sekitar 193,6 juta orang melakukan perjalanan pulang kampung sekitar 71 persen dari total penduduk Indonesia.

Angka itu menjadikan mudik sebagai salah satu mobilitas tahunan terbesar di dunia. Namun di balik arus kendaraan yang masif itu, ada satu komoditas yang jarang masuk dalam perbincangan publik yaitu karet.

Padahal, setiap mobil, bus, dan sepeda motor yang melaju menuju kampung halaman bertumpu pada komponen yang sama, ban berbahan karet. Tanpa karet, tradisi mudik tidak akan pernah menjadi mobilitas raksasa seperti sekarang.

Ketika Mobilitas Bergantung pada Kebun


Industri global bergantung sekitar 70 persen konsumsi karet alam digunakan untuk industri ban kendaraan. Artinya mobilitas manusia modern dari kendaraan pribadi hingga transportasi logistic sangat bergantung pada komoditas ini.

Indonesia sebenarnya memiliki posisi strategis dalam rantai pasok karet dunia. Negara ini merupakan produsen karet alam terbesar kedua secara global setelah Thailand, dengan produksi sekitar 3,3–3,5 juta ton per tahun.

Sebagian besar produksi tersebut berasal dari perkebunan rakyat yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Sekitar 85–90 persen kebun karet nasional dikelola oleh petani kecil. Artinya, jutaan keluarga menggantungkan hidupnya pada getah yang menetes dari pohon karet setiap hari.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
Rupiah, IHSG, dan Krisis...
Rupiah, IHSG, dan Krisis Kepercayaan
PP 20/2026: Menambah...
PP 20/2026: Menambah Penerimaan Negara atau Menambah Beban UMKM?
Ujian Kapasitas Negara,...
Ujian Kapasitas Negara, Bukan Sekadar Kasus Korupsi
Menata Demokrasi Produktif...
Menata Demokrasi Produktif untuk Kesejahteraan Lintas Generasi
Melembagakan ‘Otot’...
Melembagakan ‘Otot’ Diplomasi Prabowo
Serap Beras Petani,...
Serap Beras Petani, Kapasitas Gudang Bulog Ditambah hingga 7 Juta Ton
BRI Salurkan KUR Rp65,95...
BRI Salurkan KUR Rp65,95 Triliun, Jangkau 558.000 Petani dan 23.000 Nelayan
Polinema Bantu Petani-UMKM...
Polinema Bantu Petani-UMKM Melon Blitar Go Digital dan Hemat Energi
Rekomendasi
DPR Sahkan Revisi UU...
DPR Sahkan Revisi UU PPSK Hari Ini, Berikut Poin-poin Lengkapnya
Usai Tinggalkan NCT,...
Usai Tinggalkan NCT, Mark Resmi Dirikan Perusahaan Kreatif Upper Room
Mercedes-Benz Luncurkan...
Mercedes-Benz Luncurkan eActros Lowliner, Truk Logistik Jarak Jauh
Berita Terkini
Breaking News: Noel...
Breaking News: Noel Divonis 4,5 Tahun Penjara
Silmy Karim Ditahan...
Silmy Karim Ditahan KPK, Ini Respons Menteri Imipas Agus Andrianto
Kejagung: Proyek Motor...
Kejagung: Proyek Motor Listrik BGN Rp1 Triliun Jatuh ke Vendor yang Tak Penuhi Syarat
Dadan Hindayana Tersangka...
Dadan Hindayana Tersangka Dugaan Korupsi MBG, PDIP Minta Pengawasan Diperketat
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Jelang Vonis Kasus Sertifikasi...
Jelang Vonis Kasus Sertifikasi K3, Noel: Kalau Saya Terbukti Peras Pengusaha Hukum Mati
Infografis
Sniper Udara Paling...
'Sniper Udara' Paling Ditakuti Dunia Perkuat Pertahanan Udara Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved