Mengapa Iran menerapkan Strategi Perang Atrisi melawan Israel-AS?

Senin, 09 Maret 2026 - 17:17 WIB
loading...
A A A
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, dengan nada yang lebih mirip pernyataan perang daripada diplomasi, menyatakan bahwa Iran telah menghabiskan dua dekade untuk “mempelajari kekalahan militer AS di timur dan barat kami”. Kata kuncinya adalah pukullah musuh di mana mereka paling lemah, yaitu kesabaran politik dan biaya ekonomi.

Tewasnya Sang Rahbar Khamenei pada 28 Februari 2026, jika dibaca dengan kacamata Barat, adalah “decapitation strike” (pemenggalan kepala rezim) yang sukses. Itu berlaku di Venezuela, misalnya. Namun, di tanah Syiah, kematian memiliki makna yang berbeda. Ia bukan akhir, melainkan transformasi. Konsep syahadat dalam teologi Syiah mengubah kekalahan fisik menjadi kemenangan moral, dari terminal menjadi eternal (abadi).

Para pembuat kebijakan dan jenderal di Washington dan Tel Aviv tampaknya tidak menyadari bahwa mereka telah secara tidak sengaja mengaktifkan “martyrdom economy” Iran. Ketika Presiden Masoud Pezeshkian menyebut balas dendam sebagai “hak agama dan kewajiban nasional”, dia menggabungkan dua sumber legitimasi paling kuat, yaitu spiritual dan patriotik.

Jenderal Qassem Soleimani yang terbunuh tahun 2020 kini telah menjadi simbol perlawanan lintas generasi. Khamenei sedang bertransformasi menjadi situs perlawanan. Setiap rudal yang diluncurkan, setiap pangkalan AS yang diserang, akan menjadi bagian dari warisan (legacy) mereka.

Dalam kerangka berpikir ini, perang tidak lagi diukur dari jumlah target yang dihancurkan, tetapi dari kapasitas untuk terus menimbulkan biaya perang. Inilah mengapa serangan balasan Iran tidak hanya menargetkan instalasi militer, tetapi juga menutup Selat Hormuz, yang dilalui 20 persen minyak dunia, dan juga dan menyerang infrastruktur sipil di Uni Emirat Arab, Bahrain, hingga Qatar.

Iran tampaknya berusaha menarik negara-negara Teluk ke dalam pusaran konflik sebagai tujuan utama. Karena jika harga minyak melonjak tinggi dan investor asing hengkang dari Dubai, tekanan domestik di negara-negara Arab akan memaksa mereka menekan Washington untuk menghentikan perang. Dengan ujaran lain, Iran menggunakan stabilitas kawasan sebagai sandera perang, yaitu sebuah strategi berisiko tinggi, namun terbukti efektif dalam perang asimetris.

Ali Larijani, kepala Dewan Keamanan Nasional Iran, dengan terus terang menyatakan bahwa “Iran, tidak seperti Amerika Serikat, telah mempersiapkan diri untuk perang Panjang”. Bandingkan dengan target Presiden Trump yang membayangkan operasi hanya akan berlangsung empat minggu. Di sinilah letak ketimpangan strategis, di mana satu pihak berpikir dalam hitungan minggu, pihak lain berpikir dalam hitungan tahun, bahkan dekade.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mahalnya Harga Stabilitas
Mahalnya Harga Stabilitas
Perang Iran Menjadi...
Perang Iran Menjadi Warisan Buruk Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
Apakah Pengadilan Tengah...
Apakah Pengadilan Tengah Mengadili Metode Berpikir dr Tifa dan Roy Suryo?
Perang Berkepanjangan...
Perang Berkepanjangan AS Vs Iran, Indonesia Wajib Perkuat Ketahanan Nasional dan Diplomasi Strategis
Perubahan UU Pemilu:...
Perubahan UU Pemilu: Membangun Sistem Pemilu yang Demokratis, Berkeadilan, dan Berintegritas
Palapa di Pundak Sang...
Palapa di Pundak Sang Jenderal: Gajah Mada, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Siklus 7 Abad Nusantara
Baku Tembak Pecah di...
Baku Tembak Pecah di Tepi Barat, 1 Ekstremis Israel Tewas, 4 Warga Palestina Meninggal
Dituding Dukung Militer...
Dituding Dukung Militer AS, Iran Serang Pusat Data Amazon di Bahrain
AS Gencarkan Serangan...
AS Gencarkan Serangan di Iran, Houthi Izinkan Kapal-kapal China lewat Selat Bab al-Mandeb
Rekomendasi
Pasar Cemas Tarif Baru...
Pasar Cemas Tarif Baru AS, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.963
Purbaya Sebut Penyaluran...
Purbaya Sebut Penyaluran Bansos lewat Kopdes Arahan Langsung Prabowo
Tidar Jakarta Barat...
Tidar Jakarta Barat Yakin Sudaryono Mampu Perkuat Tata Kelola Program MBG
Berita Terkini
Kritisi Rapat Pleno...
Kritisi Rapat Pleno IX AMPI, Wasekjen Leriadi: Produknya Cacat Hukum
Petani Tebu yang Belum...
Petani Tebu yang Belum Merdeka
Pemerintah Perkuat Pengelolaan...
Pemerintah Perkuat Pengelolaan Dana Lingkungan Hidup via BPDLH
Hormati Putusan MK,...
Hormati Putusan MK, Komdigi Siap Kaji Aturan Kuota Internet
Kasus Korupsi MBG, Kejagung...
Kasus Korupsi MBG, Kejagung Buka Kemungkinan Periksa Nanik S Deyang
Penipuan Kursus Bahasa...
Penipuan Kursus Bahasa Arab dengan Bonus Umrah Dilaporkan ke Bareskrim, Korban Rugi Ratusan Juta
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved