Hindari Masker Scuba dan Buff

loading...
Hindari Masker Scuba dan Buff
Foto/Koran SINDO
A+ A-
JAKARTA - Penggunaan masker jenis scuba dan buff hendaknya dihindari secara luas, bukan hanya bagi masyarakat yang hendak menggunakan jasa kereta rel listrik (KRL) komuter Jabodetabek. Langkah ini urgen dilakukan mengingat kedua jenis masker tersebut memang tidak layak dimanfaatkan untuk mencegah paparan virus corona (Covid-19).

Selain tipis, bahan kedua jenis masker tersebut mudah molor dan tidak berlapis sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya untuk mencegah paparan droplet sesuai dengan rekomendasi badan kesehatan dunia WHO. Penggunaan kedua jenis masker juga sering tidak sesuai dengan protokol kesehatan karena memang multifungsi.

Selain untuk efektivitas dalam menyaring virus corona, dorongan penggunaan masker yang berkualitas juga patut mendapat perhatian mengingat kasus Covid-19, terutama di DKI Jakarta, terus meningkat. Bahkan kemarin penambahan kasus di Ibu Kota mencapai rekor baru, bertambah 3.963 kasus. (Baca: MAKI Sebut ada 'King Maker' di Kasus Djoko Tjandra)

Wakil Ketua DPR Koordinator Ekonomi dan Keuangan (Korekku) Sufmi Dasco Ahmad sepakat penggunaan masker jenis scuba dan buff dihindari untuk aktivitas secara luas selama pandemi ini karena tidak terlalu efektif menangkal persebaran Covid-19. “Jadi memang menurut hasil penelitian masker scuba atau buff itu untuk bakteri atau virus ketahanannya lebih rentan,” kata Dasco kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, kemarin.

Sebagai kompensasi, politikus Partai Gerindra itu meminta pemerintah menjamin ketersediaan masker yang dianjurkan di masyarakat sehingga masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan kelangkaan masker. “Terlebih lagi pemerintah harus mencari jalan keluar bagaimana penyediaan dan ketersediaan masker di masyarakat,” ujar mantan Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR itu.



Pakar epidemiologi, Tri Yunis Miko Wahyono, menuturkan, masker scuba mempunyai pori-pori lebar, sedangkan masker buff hanya satu lapis. Karena itu kedua masker itu tidak bisa memproteksi orang dari bakteri apalagi dari virus yang ukurannya lebih kecil.

Karena itu Tri menyarankan masyarakat menggunakan masker yang bahannya memiliki pori-pori rapat demi mencegah penularan virus Sars Cov-II sebagai penyebab penyakit Covid-19. “Maskernya harus tidak bisa dilewati virus. Harus berlapis. Kalau pori-porinya kurang rapat harus dua lapis. Lapisan pertama lebih besar, maka lapis kedua harus lebih kecil. Misalnya masker bedah itu pori-pori yang depan lebih lebar, tapi kain putih yang lapis dalam lebih tipis tapi rapat,” ujarnya saat dihubungi KORAN SINDO, Rabu (16/9/2020).

Bahkan, ketika berada di KRL yang tengah penuh sesak atau di zona merah, masyarakat tidak cukup mengenakan masker saja, tapi juga face shield. "Dan betul-betul menjaga jarak karena zona merah kemungkinan kasusnya banyak. Zona oranye sama dengan merah. Zona kuning harus hati-hati, enggak usah pakai face shield. Hijau boleh enggak pakai face shield,” kata Tri. (Baca juga: Sifat Malu Adalah Kunci dari Semua Kebaikan)

Hingga kemarin Satgas Penanganan Covid-19 belum tegas melarang penggunaan masker scuba dan buff untuk perlindungan diri selama pandemi ini. Namun satgas mengakui kedua jenis masker tersebut terlalu tipis dan hanya satu lapis sehingga kemungkinan untuk tembus atau tidak bisa menyaring virus lebih besar. Karena itu satgas menyarankan masyarakat menggunakan masker yang berkualitas.

Selain itu masker scuba sering mudah untuk ditarik ke bawah, ke dagu sehingga fungsi masker jadi hilang. Maka dari itu gunakan masker dengan cara yang tepat untuk melindungi dan menutup area batang hidung, hidung, sampai mulut dan rapat di pipi,” ujar Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito.



Wiku menuturkan, masker yang baik adalah masker bedah. Masker kain berbahan katun juga bagus jika berlapis tiga sehingga memiliki kemampuan filtrasi atau menyaring partikel virus ini lebih baik dengan jumlah lapisan yang lebih banyak.

“Jadi masker ini adalah salah satu cara yang digunakan untuk mencegah penularan Covid-19. Kita pahami ini semua dengan baik dan semua masyarakat, terutama yang ada di daerah publik dan berinteraksi dengan orang lain, harus menggunakan masker,” katanya.

Efektivitas penggunaan masker jenis scuba dan buff untuk mencegah persebaran Covid-19 mendapat perhatian setelah PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mengeluarkan aturan baru mengenai pencegahan penularan virus corona (Covid-19) di dalam KRL komuter Jabodetabek. (Baca juga: Rusia Jual 100 Juta Dosis Vaksin Covid-19 ke India)

Dalam akun Instagramnya PT KCI meminta para penumpang yang hendak melakukan perjalanan dengan menggunakan layanan KRL tidak menggunakan masker scuba dan buff dengan alasan masker jenis tersebut terlalu tipis sehingga tak bisa menjamin droplet yang menjadi media virus corona teradang. PT KCI pun menyatakan persentase penyaringan dari masker jenis tersebut amatlah minim, yakni 0–5%.

Sebagai gantinya PT KCI menyarankan calon pengguna KRL memakai masker N95, yaitu jenis masker yang memiliki efektivitas tertinggi untuk mencegah paparan debu, virus, dan bakteri sebesar 95­–100%. Kemudian masker bedah memiliki efektivitas 80–95%, masker jenis FFPI 80–95%, masker bahan tiga lapis 50–70%.

Vice President Coorporate Communication PT KCI, Anne Purba, yang dimintai konfirmasi membenarkan hal tersebut. Dia menandaskan, penggunaan masker memang menjadi salah satu prosedur keselamatan yang diterapkan KRL. Bahkan kewajiban ini telah ditetapkan sejak April 2020 saat pandemi corona ini menyebar di Indonesia dan Jakarta.

Sebagai upaya mengantisipasi persebaran Covid-19 dalam perjalanan KRL itu pula PT KCI melarang penggunaan masker scuba dan buff karena terlalu tipis dan hanya selapis. “Hindari penggunaan jenis scuba ataupun hanya menggunakan buff atau kain untuk menutupi mulut dan hidung,” ujar dia kemarin. (Baca juga: Tim Repsol Honda Suram tanpa Marquez)

Patuhi Protokol Kesehatan
halaman ke-1 dari 2
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top