Ketika Negara Modern Tidak Runtuh tetapi Tidak Lagi Berdaulat

Senin, 26 Januari 2026 - 18:47 WIB
loading...
Ketika Negara Modern...
Ilustrasi. Foto/Istimewa
A A A
Dharma Pongrekun
Pengamat Geopolitik Global

Membaca Krisis Sistemik di Balik Narasi Stabilitas Global


Di abad ke-21, negara jarang runtuh oleh dentuman meriam atau jatuhnya istana. Krisis tidak lagi hadir sebagai peristiwa dramatis yang mudah dikenali, melainkan muncul secara senyap melalui gangguan sistem.

Pemadaman listrik, terputusnya komunikasi, tersendatnya logistik, lumpuhnya sistem pembayaran, hingga kacaunya koordinasi institusi menjadi wajah baru krisis modern. Negara masih tampak berdiri dan pemerintahan tetap berjalan, tetapi sistem yang menopangnya tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.

Di sinilah paradoks negara modern terletak. Semakin canggih, efisien, dan terdigitalisasi sebuah negara, semakin rapuh ia ketika satu simpul sistem terganggu.

Krisis hari ini bukan kegagalan negara dalam pengertian klasik, melainkan konsekuensi dari ketergantungan ekstrem pada sistem yang saling terhubung. Negara tidak runtuh secara formal, tetapi perlahan direduksi menjadi fungsi dari sistem yang menopangnya.

72 Jam hingga 7 Hari: Fase Paling Rapuh


Dalam kajian manajemen krisis dan ketahanan nasional, dikenal satu fase kritis yang relatif konsisten lintas negara dan konteks, yakni 72 jam hingga sekitar 7 hari pertama setelah gangguan besar terjadi. Pada rentang inilah sistem berada pada kondisi paling rapuh.

Cadangan energi mulai diuji, komunikasi terfragmentasi, distribusi logistik melambat, layanan kesehatan bekerja di bawah tekanan ekstrem, dan sistem pembayaran kerap berhenti total. Rentang waktu ini bukan ramalan, bukan ancaman, dan bukan teori konspirasi.

Ia merupakan karakter alamiah dari sistem kompleks yang saling bergantung. Blackout bukan penyebab utama krisis, melainkan akibat dari ketergantungan berlapis yang selama ini tersembunyi karena sistem berjalan relatif stabil dalam kondisi normal. Ketika satu simpul gagal, efek domino menjadi tak terelakkan.

Negara Maju dan Pengakuan Keterbatasan


Kesadaran akan kerentanan sistem bukan hal baru di negara-negara maju. Belanda, Jerman, Finlandia, Jepang, Denmark, dan sejumlah negara lain yang dikenal stabil dan rasional secara terbuka mengimbau warganya untuk mampu bertahan hidup mandiri setidaknya selama 72 jam apabila sistem negara mengalami gangguan.

Kampanye kesiapsiagaan tersebut bukan narasi ketakutan, melainkan pengakuan kebijakan yang jujur bahwa bahkan negara dengan tata kelola terbaik pun membutuhkan waktu ketika krisis besar terjadi. Pertanyaan utamanya bukan apakah negara gagal, melainkan apakah masyarakat memahami bagaimana sistem bekerja ketika gagal.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Prabowo dan Jusuf Kalla...
Prabowo dan Jusuf Kalla Bahas Isu Global hingga Swasembada Energi
PKS Sebut Sinergi Pemerintah,...
PKS Sebut Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, hingga Masyarakat Kunci Jaga Stabilitas
Fokus Belanja Negara
Fokus Belanja Negara
Asta Cita dan Reposisi...
Asta Cita dan Reposisi Peran Negara versus Pasar
Prabowo Dinilai Mampu...
Prabowo Dinilai Mampu Jaga Keamanan RI Hadapi Dinamika Geopolitik Global
Kasus dr Tifa dan Roy...
Kasus dr Tifa dan Roy Suryo P-21, Akankah Polemik Ijazah Berakhir di Pengadilan?
Uni Eropa Kini Tak Lagi...
Uni Eropa Kini Tak Lagi Relevan di Pangung Geopolitik, Ini 3 Alasannya
Antisipasi Risiko Geopolitik...
Antisipasi Risiko Geopolitik Global, BUMD Jakarta Percepat Impor 7.500 Sapi
Terimbas Geopolitik...
Terimbas Geopolitik Global, Pemilik Toko Elektronik di PIK Atur Strategi Rangsang Konsumen
Rekomendasi
Beda dengan Pejabat...
Beda dengan Pejabat Eropa, Jenderal Senior NATO Ini Sebut Rusia Tak Mencari Konflik
Bersitegang dengan Aparat,...
Bersitegang dengan Aparat, Massa BEM UI Tertahan di Semanggi saat Menuju Bundaran HI
Polisi Tutup Sementara...
Polisi Tutup Sementara Jalan Sudirman Imbas Demo Mahasiswa di Bundaran HI
Berita Terkini
Pemilik Blueray Cargo...
Pemilik Blueray Cargo Ngaku Setor Rp30 Miliar ke Dedi Congor
Akvindo: Tembakau Alternatif...
Akvindo: Tembakau Alternatif Kurangi Paparan Asap Rokok
Terima Audiensi DPRD...
Terima Audiensi DPRD Malaka, BNPP Bahas Peluang Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas
KPK Jadwal Ulang Pemeriksaan...
KPK Jadwal Ulang Pemeriksaan Bos Maktour Fuad Hasan Pekan Depan
Mantan Ketua Ombudsman...
Mantan Ketua Ombudsman Terima Rumah hingga Uang Miliaran di Kasus Korupsi Tambang Nikel
World Giving Report...
World Giving Report 2026: Donasi Global Turun, Indonesia Bertahan di Atas Rata-rata Dunia
Infografis
Tanpa Italia, Ini Daftar...
Tanpa Italia, Ini Daftar Lengkap 48 Negara Kontestan Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved