Dukungan Indonesia atas Imperium Amerika dalam Board of Peace
Senin, 26 Januari 2026 - 07:31 WIB
loading...
A
A
A
Pertanyaan terhadap kebijakan politik luar negeri Prabowo bergabung di dalam BoP:
Pertama, Apakah Indonesia percaya kepada kepemimpinan Amerika, Donald Trump untuk menciptakan perdamaian di Gaza? Sementara itu, Amerika adalah pendukung utama Israel. Di saat itu pula Trump berniat ekspansi ke Greenland, menyerang Iran, telah menculik Presiden Venezuela, Nicolás Maduro dan kini Trump menjadi Venezuela’s acting President. Dalam ekonomi politik global, Trump melakukan pem-‘bully’-an tariff dalam ekonomi-politik global agar negara negara yang diancamnya mengikuti kehendak kepentingan Amerika.
Kedua, mengapa Indonesia percaya kepada Trump yang kebijakan dalam negerinya sangat rasis dan anti imigran?
Ketiga, pernahkah team Presiden membaca dengan membandingkan Resolusi PBB 2803 yang ada 20 poin Trump dan 13 poin yang diresmikan? Apakah tidak terlalu naif, jika hanya berpatokan pada resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 saja seolah olah hidup sudah selesai dengan taat terhadap aturan DK PBB ini?
Keempat, apakah Indonesia tidak berpikir bahwa isi dari 13 poin itu mendukung Imperium Amerika (Chapter III)? Mengapa di Chapter I isinya umum tidak fokus di Gaza? Mengapa isi di strukturnya orang Trump dan mayoritas pendukung Israel? Jika ada dispute resolution, mengapa yang menentukan adalah Trump (Chapter VII)? Mengapa semua aturan di BoP yang menentukan Trump (chair) (XI)?
Kelima, apakah Indonesia tidak pernah mempertimbangkan alasan negara-negara sekutu Amerika yang juga tidak bergabung di Board of Peace seperti Inggris, Jerman, Perancis, Norway, Sweden, Italia, Spanyol, Jepang, Korea Selatan, Singapura?
Keenam, apakah Indonesia mendukung Imperium Amerika untuk membisniskan Gaza sebagai real estate? Sampai Macron menyatakan “peace is not a real estate transaction”.
Ketujuh, mengapa Indonesia tidak pernah berpikir bahwa BoP adalah cara halus, seolah-olah sesuai dengan hukum Internasional untuk mengusir orang-orang di Gaza atas nama perdamaian? Dalam konteks ini, mengapa BoP justru melibatkan Israel sebagai penjahat perang yang tidak berani ke Davos karena takut ditangkap International Criminal Court?
Artikel menyimpulkan Imperium Amerika sedang mempertahankan power politics dengan mendirikan BoP. Bergabungnya Indonesia dalam BoP merupakan wujud nyata dukungan menciptakan ‘perdamaian Palestina’ dalam delusi Trump. Faktanya, Indonesia mendukung Imperium Amerika. Kebijakan Indonesia ini merupakan politik luar negeri Indonesia bebas aktif yang pragmatis dan realistis.
Pertama, Apakah Indonesia percaya kepada kepemimpinan Amerika, Donald Trump untuk menciptakan perdamaian di Gaza? Sementara itu, Amerika adalah pendukung utama Israel. Di saat itu pula Trump berniat ekspansi ke Greenland, menyerang Iran, telah menculik Presiden Venezuela, Nicolás Maduro dan kini Trump menjadi Venezuela’s acting President. Dalam ekonomi politik global, Trump melakukan pem-‘bully’-an tariff dalam ekonomi-politik global agar negara negara yang diancamnya mengikuti kehendak kepentingan Amerika.
Kedua, mengapa Indonesia percaya kepada Trump yang kebijakan dalam negerinya sangat rasis dan anti imigran?
Ketiga, pernahkah team Presiden membaca dengan membandingkan Resolusi PBB 2803 yang ada 20 poin Trump dan 13 poin yang diresmikan? Apakah tidak terlalu naif, jika hanya berpatokan pada resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 saja seolah olah hidup sudah selesai dengan taat terhadap aturan DK PBB ini?
Keempat, apakah Indonesia tidak berpikir bahwa isi dari 13 poin itu mendukung Imperium Amerika (Chapter III)? Mengapa di Chapter I isinya umum tidak fokus di Gaza? Mengapa isi di strukturnya orang Trump dan mayoritas pendukung Israel? Jika ada dispute resolution, mengapa yang menentukan adalah Trump (Chapter VII)? Mengapa semua aturan di BoP yang menentukan Trump (chair) (XI)?
Kelima, apakah Indonesia tidak pernah mempertimbangkan alasan negara-negara sekutu Amerika yang juga tidak bergabung di Board of Peace seperti Inggris, Jerman, Perancis, Norway, Sweden, Italia, Spanyol, Jepang, Korea Selatan, Singapura?
Keenam, apakah Indonesia mendukung Imperium Amerika untuk membisniskan Gaza sebagai real estate? Sampai Macron menyatakan “peace is not a real estate transaction”.
Ketujuh, mengapa Indonesia tidak pernah berpikir bahwa BoP adalah cara halus, seolah-olah sesuai dengan hukum Internasional untuk mengusir orang-orang di Gaza atas nama perdamaian? Dalam konteks ini, mengapa BoP justru melibatkan Israel sebagai penjahat perang yang tidak berani ke Davos karena takut ditangkap International Criminal Court?
Artikel menyimpulkan Imperium Amerika sedang mempertahankan power politics dengan mendirikan BoP. Bergabungnya Indonesia dalam BoP merupakan wujud nyata dukungan menciptakan ‘perdamaian Palestina’ dalam delusi Trump. Faktanya, Indonesia mendukung Imperium Amerika. Kebijakan Indonesia ini merupakan politik luar negeri Indonesia bebas aktif yang pragmatis dan realistis.
(cip)
Lihat Juga :