Fenomena Kaum Rebahan dan Migrasi Baru Asal China di Asia Tenggara

Selasa, 20 Januari 2026 - 10:55 WIB
loading...
A A A
Pada saat yang sama, terdapat pula kecenderungan di kalangan kaum berada di China untuk memiliki perusahaan-perusahaan keluarga di luar negeri agar dapat memindahkan kekayaan dan keluarga mereka ke luar RRC, khususnya di negara-negara Asia Tenggara seperti Singapura.

Menurut Prof Nyiri, fenomena seperti yang tergambar di atas telah muncul sejak tahun 1990-an, ketika sejumlah pengusaha dan pejabat kaya di China mempersiapkan opsi penyelamatan untuk keluarga dan anak-anak mereka sebagai antisipasi bila terjadi permasalahan politik dan ekonomi di China.

Gejala semacam ini meningkat drastis sejak Presiden Xi Jinping menerapkan tindakan keras terhadap perusahaan-perusahaan teknologi di tahun 2022. “Ini menyebabkan orang-orang kaya semakin merasa tidak aman (insecure) terhadap kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di masa datang dan sebagai respons mereka membuat perusahaan-perusahaan keluarga di Singapura dan memindahkan kekayaan dan keluarga mereka ke luar RRC,” ungkap Nyiri.

Menurut dia, meningkatnya penghasilan, namun juga semakin tingginya harga real estate di China sejak 2008 menjadi salah satu faktor di balik fenomena di atas. Lagipula sejak 2010 China menghadapi berbagai persoalan yang menimbulkan ketidakpuasan dan kekhawatiran di kalangan warganya.

Persoalan itu yakni meningkatnya pengangguran di kalangan lulusan universitas, menurunnya fenomena peningkatan strata yang artinya semakin sulit bagi orang orang yang tidak lahir dari kalangan istimewa untuk memperoleh kesuksesan dalam masyarakat China.

Kemudian muncul fenomena involusi atau neijuan. Fenomena involusi ini merujuk pada fakta bahwa seorang di China harus melakukan investasi berlebih dalam hal uang dan waktu demi mempertahankan status sebagai kelas menengah.

Berbagai permasalahan sosial di atas dibarengi dengan kontrol politik yang ketat membuat kelas menengah di China tidak menemukan kebahagiaan. Mereka memimpikan kebebasan. Meski tidak serta-merta melakukan oposisi terhadap pemerintah, mereka merasa keberatan diwajibkan untuk mempelajari ide-ide Xi Jinping dan berbagai hal lainnya.

Sebagai respons terhadap keadaan di atas, sebagian masyarakat di China mencanangkan gaya hidup santai yang dikenal dengan sebutan “tangping” atau “rebahan”. Mereka pergi meninggalkan kota besar dan hidup di kota kecil dengan lingkungan yang jauh lebih menyenangkan dengan tekanan yang lebih rendah. Namun sebagian dari mereka memilih untuk meninggalkan China.

Menurut Nyiri, fenomena ini semakin marak berlangsung sejak pandemi Covid-19 sebagai akibat dari kebijakan penguncian (lockdown) ketat yang dilaksanakan oleh RRC terhadap warganya. “Penguncian ini menimbulkan efek kejut (shock) yang dalam bagi orang-orang tertentu di China. Orang-orang yang memiliki gaya hidup kelas atas akhirnya menyadari bahwa pemerintah bisa saja membuat mereka terkurung. Intervensi ini sangat mengejutkan bagi generasi dan kelas (atas) ini, sehingga mereka mencari tujuan di luar Cina untuk berpindah,” ujarnya.

Dia menyampaikan pandangannya bahwa terdapat hubungan erat antara fenomena migrasi baru asal China dengan kembalinya negara itu ke dalam tatanan ekonomi global. Fenomena migrasi itu bukan merupakan fenomena tunggal yang bersifat statis melainkan sebuah fenomena yang dinamis sesuai dengan perkembangan situasi yang terjadi di China.

Dia juga menjelaskan bagaimana migrasi baru di atas pertama kali muncul seiring dengan dicanangkannya reformasi ekonomi 1978 oleh Deng Xiaoping, yang saat itu membuat pernyataan bahwa hubungan dengan negara luar sebagai hal yang baik (haiwai guanxi shi ge hao dongxi). Sejak masa itu, muncullah fenomena migrasi dari RRC ke berbagai negara Asia Tenggara, dengan Laos dan Thailand sebagai tujuan utama.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
BSKDN Kemendagri Perkuat...
BSKDN Kemendagri Perkuat Kolaborasi dengan Uncen Dorong Lahirkan Inovasi Daerah
Airlangga Bertolak ke...
Airlangga Bertolak ke Shanghai Tanda Tangani Pendirian WAICO
Semarak Harlah PKB,...
Semarak Harlah PKB, Panji Bangsa Harap Perkokoh Nilai Kebangsaan Generasi Muda
Kritik Baru terhadap...
Kritik Baru terhadap Putusan Arbitrase Laut China Selatan: Perspektif Realisme
Satu Dekade Laut China...
Satu Dekade Laut China Selatan: Stabilitas Kawasan Ketimbang Kontestasi
Dekopin Tegaskan Komitmen...
Dekopin Tegaskan Komitmen Modernisasi Koperasi melalui Estafet Generasi Muda
Pasokan Minyak Global...
Pasokan Minyak Global Semakin Ketat, India dan China Berebut Diskon dari Rusia
Tembus Blokade Laut...
Tembus Blokade Laut Merah, Tanker Raksasa China Bawa Pulang 4 Juta Barel Minyak Arab Saudi
AS Gencarkan Serangan...
AS Gencarkan Serangan di Iran, Houthi Izinkan Kapal-kapal China lewat Selat Bab al-Mandeb
Rekomendasi
Wali Kota Semarang:...
Wali Kota Semarang: Butuh Komitmen Bersama dalam Pemberantasan Korupsi
Hasil Piala AFF 2026:...
Hasil Piala AFF 2026: Vietnam Pesta 7 Gol ke Gawang Timor Leste
Kisah Paredes Dicuekin...
Kisah Paredes Dicuekin Messi Sampai 3 Bulan Gara-gara Liga Champions
Berita Terkini
Penyesuaian Tarif PNBP...
Penyesuaian Tarif PNBP Berkeadilan, Tarif Merek UMKM Tetap dan Pendaftaran Hak Cipta Lagu Gratis
Febrie Adriansyah Ditahan...
Febrie Adriansyah Ditahan Tanpa Rompi Pink, PB PMII: Cetak Sejarah
PWNU Jateng dan Konjen...
PWNU Jateng dan Konjen Tiongkok Jalin Kerja Sama Pendidikan, Gus Rozin Ikuti Jejak Gus Dur
Pakar Kebijakan Publik...
Pakar Kebijakan Publik Soroti Ego Sektoral Penegakan Hukum, Sarankan Pelibatan KPK
Smartwatch AI, Kala...
Smartwatch AI, Kala Algoritma Mulai Membentuk Cara Kita Menilai Diri
Ditahan di Rutan KPK,...
Ditahan di Rutan KPK, Febrie Adriansyah: Alat Bukti Masih Didalami, Belum Cukup Dilakukan Penahanan
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved