Fenomena Kaum Rebahan dan Migrasi Baru Asal China di Asia Tenggara

Selasa, 20 Januari 2026 - 10:55 WIB
loading...
A A A
Berbagai jenis migrasi asal China yang berlangsung sejak era reformasi ekonomi 1978 hingga dasawarsa pertama abad 21 dapat dipahami dengan logika produksi, dan dilatarbelakangi oleh motivasi memperoleh kekayaan alias taojin (mencari emas).

Namun, sejak tahun 2010 hingga periode pasca Covid-19, terjadi sebuah fenomena yang sangat menarik untuk diamati yaitu munculnya migrasi yang tidak berangkat dari motivasi mengumpulkan uang, tetapi untuk mendapatkan gaya hidup yang dianggap lebih nyaman, santai, dan tanpa tekanan yang berlebihan.

Pengamat masalah China yang juga Ketua FSI Johanes Herlijanto menyatakan bahwa peristiwa yang dijelaskan Prof Nyiri di atas sangat penting bagi upaya memahami orang-orang China daratan serta dinamika hubungan kekuasaan yang berlangsung di China.

Menurut dia, masyarakat China merupakan masyarakat yang beragam dan dinamis. Karena itu, wacana bahwa pekerja asal China selalu memiliki etos kerja yang lebih baik dari pekerja Indonesia merupakan sebuah wacana yang tidak tepat dan mengandung bias esensialis.

Dia juga berpandangan bahwa kajian di atas memperlihatkan bahwa berbeda dari propaganda yang tersebar di media milik pemerintah RRC dan media sosial, China bukanlah sebuah negara tanpa permasalahan ekonomi dan sosial.

Sebaliknya, berbagai permasalahan dari mulai pengangguran hingga ketatnya persaingan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di sana, yang memunculkan motivasi bagi kalangan tertentu untuk meninggalkan negerinya dan menetap di negara lain.

Dan yang tak kalah penting, sistem politik otoritarian yang diwarnai dengan intervensi berlebihan pemerintah ke dalam ranah ekonomi dan private ternyata menyebabkan kekecewaan dan ketidaksukaan di kalangan tertentu dalam masyarakat China. Mereka yang memiliki kemampuan ekonomi merespons kondisi di atas dengan melakukan perlawanan, meski perlawanan itu dilakukan secara tersembunyi.

Prof Dr Edwin MB Tambunan menilai kehadiran fenomena tangping serta tren migrasi di kalangan para penganut gaya hidup di atas bukan sekadar perlawanan terhadap pihak-pihak yang berkuasa, tetapi bahkan terhadap nilai-nilai dan sistem yang telah diterapkan selama beberapa dasawarsa.

“Kaum rebahan ini menolak untuk bekerja sangat keras demi meningkatkan taraf hidup dan kelas sosial mereka, tetapi justru melakukan resistensi (perlawanan) diam-diam, untuk menentang naratif yang dominan mengenai kesuksesan, produktivitas, dan progres,” ujar Edwin.

Menurut akademisi yang memiliki kepakaran di bidang hubungan internasional ini, berbagai pertanyaan yang diajukan terkait munculnya fenomena tangping sebagai alternatif dari fenomena taojin yang telah lebih dahulu berlangsung selama beberapa dasawarsa sangat relevan bagi masyarakat hari ini.

“Isu ini menjadi sangat relevan bagi kita yang berada dalam ketidakpastian global yang ditandai dengan ketegangan-ketegangan geopolitik, rekonfigurasi ekonomi, disrupsi teknologi, dan pola globalisasi yang berubah,” kata Edwin.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Airlangga Bertolak ke...
Airlangga Bertolak ke Shanghai Tanda Tangani Pendirian WAICO
Semarak Harlah PKB,...
Semarak Harlah PKB, Panji Bangsa Harap Perkokoh Nilai Kebangsaan Generasi Muda
Kritik Baru terhadap...
Kritik Baru terhadap Putusan Arbitrase Laut China Selatan: Perspektif Realisme
Satu Dekade Laut China...
Satu Dekade Laut China Selatan: Stabilitas Kawasan Ketimbang Kontestasi
Dekopin Tegaskan Komitmen...
Dekopin Tegaskan Komitmen Modernisasi Koperasi melalui Estafet Generasi Muda
UMKM Nasional Miliki...
UMKM Nasional Miliki Ketangguhan Hadapi Serbuan Produk China
Merek-merek China Menguasai...
Merek-merek China Menguasai Sepertiga Penjualan PHEV di Eropa
Masalah Kualitas dan...
Masalah Kualitas dan Krisis Internal Hambat Ambisi Ekspor Senjata China
Kuasai 25% Kekayaan...
Kuasai 25% Kekayaan Miliarder AS: 144 Imigran Terkaya Pecahkan Rekor Rp39.261 Triliun
Rekomendasi
Perluas Akses Asuransi,...
Perluas Akses Asuransi, IFG Life Gandeng Bank Papua Lindungi Debitur KPR
Kuasa Hukum Richard...
Kuasa Hukum Richard Lee Sebut Surat Kuasa Pelapor Cacat Hukum
Jonatan Christie Tersingkir...
Jonatan Christie Tersingkir di Perempat Final China Open 2026
Berita Terkini
Soal Biaya Lepas Status...
Soal Biaya Lepas Status WNI Rp5 Juta, Menkum Supratman: Kami Kaji Kembali
Sangkal Ada Tren Kenaikan...
Sangkal Ada Tren Kenaikan Lepas Kewarganegaraan, Menkum: Yang Ingin Jadi Warga Negara Lebih Banyak
Mendagri Tito Tegaskan...
Mendagri Tito Tegaskan Kualitas Pelayanan Publik Merupakan Kunci Negara Bisa Bertahan
Bila Mangkir Pemeriksaan,...
Bila Mangkir Pemeriksaan, Febrie Adriansyah Bisa Dijemput Paksa
Tegaskan Pelimpahan...
Tegaskan Pelimpahan Kasus Febrie Adriansyah dari Polri Sah, Jamwas Kejagung: Pernah Dilakukan di Perkara Asabri
Dilantik Jadi Jampidsus,...
Dilantik Jadi Jampidsus, Kuntadi Janji Tuntaskan Kasus Besar hingga Evaluasi Perkara
Infografis
Fenomena di Kuwait:...
Fenomena di Kuwait: 34 Menit Menikah vs 75 Menit Perceraian
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved