Fenomena Kaum Rebahan dan Migrasi Baru Asal China di Asia Tenggara

Selasa, 20 Januari 2026 - 10:55 WIB
loading...
Fenomena Kaum Rebahan...
Pakar Hubungan Internasional Edwin MB Tambunan (kiri) hadir bersama Sinolog Pal Nyiri (tengah) dan Ketua FSI Johanes Herlijanto dalam seminar yang digelar bersama FSI dan Program Pascasarjana Ilmu Sosial Politik UPH, Jakarta. Foto: Ist
A A A
JAKARTA - Fenomena kaum rebahan semakin marak di China . Sebagian masyarakat di China mencanangkan gaya hidup santai yang dikenal dengan sebutan tangping atau rebahan. Mereka pergi meninggalkan kota besar dan hidup di kota kecil dengan lingkungan yang jauh lebih menyenangkan dengan tekanan yang lebih rendah. Namun, sebagian dari mereka memilih meninggalkan China.

Demikian pemaparan sinolog terkemuka yang mengajar di Budapest University of Economics (Corvinus), Budapest, dan Vrije Universiteit (VU) Amsterdam Prof Dr Pal Nyiri saat menjadi pembicara tunggal dalam seminar berjudul, “From Taojin To Tangping: Southeast Asia, Chinese Migration, and the Waves of China’s Re-globalisation,” yang diselenggarakan bersama Forum Sinologi Indonesia (FSI) dan Program Pascasarjana Ilmu Sosial Politik UPH, Jakarta, Sabtu (17/1/2026).

Seminar dibuka pakar Hubungan Internasional yang juga Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pelita Harapan (UPH) Prof Edwin MB Tambunan, serta bertindak sebagai moderator dalam acara tersebut yakni Dr Johanes Herlijanto, ketua sekaligus pendiri FSI, yang juga mengajar di Program Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM) UPH.

Baca juga: Buat Kaum Rebahan, Ini Cara Dapat Uang dari Internet

Fenomena migran baru asal Republik Rakyat China (RRC) yang oleh para ahli ilmu sosial dijuluki sebagai fenomena xinyimin, bukan hanya mencakup fenomena kedatangan para pekerja asal negara itu untuk bekerja di berbagai proyek yang didanai pinjaman asal RRC.

Memang di Indonesia kehadiran para pekerja asing asal RRC itu mendapatkan perhatian sangat besar bagi masyarakat. Pekerja RRC ini menghadirkan berbagai persoalan sosial antara lain persaingan dengan pekerja nasional Indonesia, ketegangan dengan masyarakat setempat akibat perbedaan budaya, serta permasalahan legalitas yang kerap dilanggar oleh pihak asal RRC.

Selain para pekerja itu, fenomena xinyimin merujuk pula kepada berbagai fenomena migrasi yang jauh lebih menarik untuk diamati dan dipelajari. Fenomena itu bukan hanya menjadi jendela untuk memahami karakteristik masyarakat RRC secara lebih lengkap dan akurat. Ini juga cerminan hubungan yang dinamis antara negara RRC yang berada di bawah kekuasaan Partai Komunis China (PKC) dengan berbagai lapisan masyarakat, termasuk para pejabat dan pengusaha yang selama ini dipersepsikan sebagai simbol kesuksesan RRC.

Baca juga: Multiverse, Global IR, dan Tianxia: Membaca Ulang Dunia di Tengah Kesombongan dan Pengulangan Sejarah

Melalui fenomena migrasi, kita yang tinggal di luar RRC memahami bahwa hubungan antara negara dan masyarakat di negara itu bukan sekadar diwarnai dengan ketaatan dan kepatuhan semata, tetapi juga dengan ketegangan dan perlawanan, meski perlawanan tersebut lebih bersifat perlawanan tersembunyi, dan bukan berupa konflik terbuka.

Salah satu dari fenomena migrasi yang memperlihatkan adanya perlawanan tersembunyi terhadap pihak yang berkuasa di China adalah fenomena migrasi yang terkait erat dengan gaya hidup santai, yang dikenal dengan istilah gaya hidup rebahan alias tangping.

Migrasi ini dapat berupa tren di kalangan masyarakat kelas menengah dan kelas atas di RRC untuk mengirim anak-anak mereka untuk bersekolah di luar China, seperti di Thailand atau Malaysia, serta turut tinggal bersama mereka demi gaya hidup yang lebih santai.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Menjaga Kampus Tetap...
Menjaga Kampus Tetap Relevan Tanpa Menjadi 'Pabrik'
Dubes Wang Lutong Ungkap...
Dubes Wang Lutong Ungkap Purbaya Bakal ke China Pekan Depan, Bahas Apa?
Kolaborasi Generasi...
Kolaborasi Generasi Muda Jadi Penggerak Perubahan Lingkungan
Indonesia Kompeten 2045,...
Indonesia Kompeten 2045, Wamenaker Dorong Kampus Perkuat Sertifikasi Kompetensi
Hadapi Dominasi China...
Hadapi Dominasi China Dalam Ranah Digital, Indonesia Diimbau Waspadai Risiko Ketergantungan
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
Purbaya Temui Menkeu...
Purbaya Temui Menkeu China, Perkuat Kerja Sama Pembiayaan dan Investasi
Banyuwangi Kota Pembuka...
Banyuwangi Kota Pembuka Satu Indonesia Awards 2026, Bupati: SDM Kunci Kemajuan Daerah
Rekomendasi
Elnusa Petrofin dan...
Elnusa Petrofin dan Pertamina Patra Niaga Perkuat Distribusi Avtur Bali-Nusra
Indo Livestock 2026...
Indo Livestock 2026 Satukan Pelaku Industri dari 30 Negara, Perkuat Daya Saing Industri Peternakan RI
BMKG Catat 612 Gempa...
BMKG Catat 612 Gempa Susulan Guncang Sulteng usai Gempa Besar M6,7
Berita Terkini
Qodari: Stimulus Tarif...
Qodari: Stimulus Tarif Transportasi Dikucurkan saat Libur Sekolah dan Nataru
PB PMII Serukan Persatuan...
PB PMII Serukan Persatuan Nasional, Kembalikan Intelektualitas Jadi Navigasi Gerakan
Kejagung Segel Gudang...
Kejagung Segel Gudang Motor Listrik Milik BGN di Bogor
KPK Telusuri Dugaan...
KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus Kuota Haji dari Kemenag ke Pansus DPR
Dharma Pongrekun Gugat...
Dharma Pongrekun Gugat UU Kesehatan, Berharap Hakim MK 'Diketuk Hatinya oleh Tuhan'
Prabowo Apresiasi Pelaksanaan...
Prabowo Apresiasi Pelaksanaan Haji 2026, Beri Catatan Ini untuk Tahun Depan
Infografis
Fenomena di Kuwait:...
Fenomena di Kuwait: 34 Menit Menikah vs 75 Menit Perceraian
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved