Komisi IX DPR Nilai Pakta Integritas Tak Perlu Jadi Polemik
Rabu, 16 September 2020 - 07:55 WIB
loading...
A
A
A
“Persoalannya pada infiltrasi budaya yang demikian masif. Budaya dari luar yang masuk begitu saja. Yang jika generasi muda, terutama mahasiswa, tidak kita bantu untuk mem-filternya, mereka akan adopsi begitu saja. Padahal, banyak nilai-nilai itu yang bertentangan dengan watak bangsa, kebudayaan kita, dan dasar negara kita, Pancasila,” tuturnya.
Agustina memandang ada persoalan kebudayaan yang harus segera dijawab di kampus. Mahasiswa harus diperkaya dan dimudahkan untuk mengakses dan mengenali budaya bangsa. Ada nilai-nilai bangsa yang tidak boleh tidak harus dipelajari dan dijadikan karakter diri, yang nantinya akan menjadi benteng ketika menghadapi terpaan budaya asing.
“Kita tentu tidak ingin mahasiswa diterpa budaya asing justru ketika mereka dalam kekosongan budaya kita sendiri. Bahaya itu. Itu sebabnya, dalam RAPBN 2021 dengan Dirjen Dikti dan Dirjen Kebudayaan, saya mengusulkan agar dibangun pusat studi kebudayaan di tiap kampus. Tujuannya apa? Pewarisan nilai-nilai budaya bangsa. Agar ketika mereka nanti lulus sudah memiliki modal budaya,” katanya.
Ketua IKA Fakultas Ilmu Budaya Undip itu menilai jika modal budaya bangsa sudah dimiliki mahasiswa, tidak akan jadi masalah jika kemudian mereka mengakses budaya lain. Yang terjadi kemudian, menurutnya, adalah adaptasi, dan bukan adopsi.
“Yang terjadi sekarang kan adopsi, kagum dan mengikuti budaya luar, dan menjauhkan budaya sendiri. Sebabnya satu, mereka tidak mengenal dengan benar budaya bangsa ini, lalu menganggap budaya lain lebih oke, lebih luhur, dan lainnya. Nah, kondisi kekosongan budaya di kampus ini yang harus segera diisi. Kampus harus menjadi ibu susuan atau almamater budaya bagi mahasiswa,” tuturnya.
Agustina memandang ada persoalan kebudayaan yang harus segera dijawab di kampus. Mahasiswa harus diperkaya dan dimudahkan untuk mengakses dan mengenali budaya bangsa. Ada nilai-nilai bangsa yang tidak boleh tidak harus dipelajari dan dijadikan karakter diri, yang nantinya akan menjadi benteng ketika menghadapi terpaan budaya asing.
“Kita tentu tidak ingin mahasiswa diterpa budaya asing justru ketika mereka dalam kekosongan budaya kita sendiri. Bahaya itu. Itu sebabnya, dalam RAPBN 2021 dengan Dirjen Dikti dan Dirjen Kebudayaan, saya mengusulkan agar dibangun pusat studi kebudayaan di tiap kampus. Tujuannya apa? Pewarisan nilai-nilai budaya bangsa. Agar ketika mereka nanti lulus sudah memiliki modal budaya,” katanya.
Ketua IKA Fakultas Ilmu Budaya Undip itu menilai jika modal budaya bangsa sudah dimiliki mahasiswa, tidak akan jadi masalah jika kemudian mereka mengakses budaya lain. Yang terjadi kemudian, menurutnya, adalah adaptasi, dan bukan adopsi.
“Yang terjadi sekarang kan adopsi, kagum dan mengikuti budaya luar, dan menjauhkan budaya sendiri. Sebabnya satu, mereka tidak mengenal dengan benar budaya bangsa ini, lalu menganggap budaya lain lebih oke, lebih luhur, dan lainnya. Nah, kondisi kekosongan budaya di kampus ini yang harus segera diisi. Kampus harus menjadi ibu susuan atau almamater budaya bagi mahasiswa,” tuturnya.
Lihat Juga :