Kelelahan Kognitif dan Dugaan Ijazah Palsu Jokowi

Jum'at, 19 Desember 2025 - 21:20 WIB
loading...
A A A
Studi dari M.M Kates dkk (2021) pada 43 dokter radiologi mendapat kesimpulan bahwa bahkan profesional medis terlatih dapat “melihat tetapi tidak menyadari”, terutama ketika fokus perhatian sudah diarahkan pada tugas tertentu atau adanya kelelahan kognitif. Dengan kata lain, keahlian tidak menghilangkan batas biologis dan kognitif otak manusia.

Saya bisa memastikan bahwa ketika lembaran kertas (yang disebut sebagai ijazah Jokowi) itu ditunjukkan dalam Gelar Perkara Khusus selasa lalu itu, secara fisik hadirin bisa melihat, tapi kecil kemungkinan memahami secara cermat.

Dalam gelar perkara tersebut, objek yang menjadi sentral perhatian publik—dokumen ijazah—baru diperlihatkan di ujung proses, sekitar pukul 23.00, setelah hampir 7 jam peserta gelar perkara berdebat dll. Dalam psikologi kognitif, urutan dan timing penyajian informasi sangat menentukan kualitas penilaian.

Ketika informasi kunci disajikan setelah durasi panjang yang menguras energi mental, otak cenderung beralih dari mode analitis ke mode heuristik: menerima secara global, cepat, dan kurang kritis terhadap detail. Kecermatan menjadi ilusi—perasaan bahwa penilaian telah memadai, padahal kapasitas kognitif untuk itu sedang tidak optimal.

Saya tidak heran—sebagaimana saya sudah menduga sebelum gelar perkara dilakukan—jika kemudian ada salah satu anggota penasihat hukum pada kloter pertama menyatakan bahwa ia telah melihat ijazah ‘asli’. Kelelahan kognitif membuatnya hilang kecermatan.

Karena itu penting saya tegaskan kepada publik: tidak ada kesimpulan apa pun yang dapat ditarik dari apa yang diperlihatkan dalam kondisi tersebut untuk memastikan apakah ijazah itu asli atau tidak. Pernyataan ini bukan penolakan terhadap proses, dan bukan pula tudingan terhadap institusi kepolisian. Sama sekali tidak. Saya hanya ingin bercerita tentang keterbatasan manusia dalam situasi bertekanan tinggi dan berdurasi panjang. Dan karena itu patut menjadi perhatian serius.

Saya telah menguraikan hal itu secara ringkas dalam acara Rakyat Bersuara-iNewsTV (Selasa, 16 Desember 2025). Tulisan ini dimaksudkan untuk memperdalamnya: transparansi sejati tidak hanya ditentukan oleh keterbukaan prosedur, tetapi juga oleh desain situasi yang memungkinkan manusia berpikir pada kapasitas terbaiknya. Ilmu perilaku hadir untuk membantu sistem memahami manusia—bukan untuk mengabaikannya.

Kelelahan kognitif diakui luas dalam riset psikologi dan neurokognisi. Ia memengaruhi hakim, dokter, pilot, peneliti—siapa pun yang harus mengambil keputusan penting dalam durasi panjang. Karena itu, berbagai disiplin merekomendasikan pengaturan durasi, jeda, dan urutan penyajian informasi agar penilaian tetap akurat. Bukan karena niat buruk, melainkan karena otak manusia memiliki batas.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Roy Suryo Buka Wacana...
Roy Suryo Buka Wacana Praperadilan Keempat: Tunggu Saja Tanggal Mainnya
Praperadilan Jilid II...
Praperadilan Jilid II Roy Suryo Ditolak, Refly Harun Nilai Substansi Alat Bukti Tak Dijawab Hakim
Praperadilannya Ditolak,...
Praperadilannya Ditolak, Roy Suryo: Semoga Hakim Diberi Pencerahan di Sidang Berikutnya
Status Tersangka Roy...
Status Tersangka Roy Suryo Tetap Sah, Polda Metro Jaya: Putusan Hakim Harus Dihormati
Praperadilan Jilid II...
Praperadilan Jilid II Roy Suryo Ditolak Hakim
Jelang Putusan Praperadilan,...
Jelang Putusan Praperadilan, Roy Suryo Dapat Kejutan Ulang Tahun dari Pendukung di PN Jaksel
Polda Metro Patroli...
Polda Metro Patroli ke Lokasi-lokasi Nobar Final Argentina vs Spanyol, Warga Diminta Tetap Sportif
Sidang Gugatan Praperadilan...
Sidang Gugatan Praperadilan Roy Suryo Jilid III di PN Jaksel Digelar Rabu 22 Juli
Roy Suryo Ajukan Gugatan...
Roy Suryo Ajukan Gugatan Praperadilan ke 3 Terkait Ganti Kerugian ke PN Jaksel
Rekomendasi
Tim Futsal MNC University...
Tim Futsal MNC University Borong Dua Gelar Juara dalam Dua Turnamen Bergengsi
Tabungan Kelas Menengah...
Tabungan Kelas Menengah Melambat, LPS Menyoroti Anomali Melejitnya Simpanan di Atas Rp5 Miliar
Eropa Luncurkan Perisai...
Eropa Luncurkan Perisai Udara yang Bakal Jadi Lawan Tangguh Drone
Berita Terkini
KPK Masih Periksa 8...
KPK Masih Periksa 8 Orang Terkait OTT Lombok Barat: Bupati, Kepala Dinas, hingga Sopir
KPK Sebut OTT Bupati...
KPK Sebut OTT Bupati Lombok Barat Naik ke Tahap Penyidikan
Rapat Paripurna DPR...
Rapat Paripurna DPR RI Hari Ini Sahkan RUU PFII hingga Tetapkan Anggota KPI
Evaluasi Program MBG,...
Evaluasi Program MBG, BGN Cek Ulang Validitas 63 Juta Penerima Manfaat-Insentif SPPG
Heboh Kipas Angin Rp1,8...
Heboh Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes, KPK Ingatkan Pengadaan Barang Titik Rawan Korupsi
Komisi I DPR Setujui...
Komisi I DPR Setujui Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi, Nurul Arifin: Perkuat Pertahanan dan Tingkatkan Daya Gentar
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved