Teror Atas Perayaan Hanukkah Yahudi di Bondi Beach Australia
Senin, 15 Desember 2025 - 16:07 WIB
loading...
A
A
A
Inilah mekanisme klasik erosi kohesi sosial: ketakutan yang perlahan membatasi siapa yang merasa “aman” untuk hadir sebagai diri sendiri. Padahal sesungguhnya eksistensi tidak harus menjadi ruang kompetisi antara kelompok yang berbeda.
Bagi komunitas Yahudi, serangan di Bondi Beach adalah pengingat pahit bahwa rasa aman tidak pernah sepenuhnya terjamin, bahkan di negara demokratis yang mapan. Bagi warga Australia lainnya, dan juga bagi kita yang menyaksikan dari luar, peristiwa teror ini seharusnya menjadi momen solidaritas lintas identitas.
Selain itu, peristiwa ini menegaskan kembali kerentanan yang sering tidak terlihat dalam masyarakat mayoritas. Bagi publik yang lebih luas, ini adalah pengingat bahwa keamanan satu kelompok tidak pernah terpisah dari keamanan kelompok lain.
Multikulturalisme runtuh bukan karena perbedaan terlalu besar, tetapi karena empati terlalu kecil. Sebagian kawan-kawan Muslim saya di Perth telah mengutuk peristiwa ini karena mereka menilai kejadian itu juga akan berimbas ke persepsi publik Australia yang belum sepenuhnya melihat Islam sebagai agama yang damai.
Peristiwa teror di Bondi Beach adalah manisfestasi dari Antisemitisme. Namun, antisemitisme hari ini jarang tampil dengan wajah klasiknya. Ia acap menyusup melalui bahasa yang tampak sah, entah itu kemarahan geopolitik, aktivisme digital yang serba hitam-putih, atau narasi konflik global yang disederhanakan.
Kritik terhadap kebijakan negara mana pun adalah hak demokratis. Namun, ketika kritik itu berubah menjadi stigmatisasi kolektif, di mana identitas Yahudi diperlakukan sebagai target teror yang sah, maka, yang terjadi adalah pergeseran berbahaya dari kritik politik ke kebencian identitas.
Serangan saat Hanukkah menunjukkan betapa tipisnya batas itu jika tidak dijaga. Melawan antisemitisme bukanlah soal membela satu kelompok semata, melainkan mempertahankan prinsip bahwa hak dan keselamatan tidak ditentukan oleh agama, etnis, atau asal-usul.
Dalam situasi seperti ini, peran negara semestinya tidak bisa ambigu. Australia telah cekatan mengutuk peritiwa terir tesebut. Namun, kecaman simbolik penting, tetapi tidak cukup.
Penegakan hukum harus tegas dan transparan, namun itu baru langkah awal. Yang lebih mendasar adalah upaya jangka panjang untuk membendung normalisasi kebencian melalui pendidikan keberagaman, literasi media, dan penguatan etika publik. Ketika bahasa kebencian dibiarkan beredar tanpa koreksi, ia perlahan menjadi banal, lalu legitim.
Bagi komunitas Yahudi, serangan di Bondi Beach adalah pengingat pahit bahwa rasa aman tidak pernah sepenuhnya terjamin, bahkan di negara demokratis yang mapan. Bagi warga Australia lainnya, dan juga bagi kita yang menyaksikan dari luar, peristiwa teror ini seharusnya menjadi momen solidaritas lintas identitas.
Selain itu, peristiwa ini menegaskan kembali kerentanan yang sering tidak terlihat dalam masyarakat mayoritas. Bagi publik yang lebih luas, ini adalah pengingat bahwa keamanan satu kelompok tidak pernah terpisah dari keamanan kelompok lain.
Multikulturalisme runtuh bukan karena perbedaan terlalu besar, tetapi karena empati terlalu kecil. Sebagian kawan-kawan Muslim saya di Perth telah mengutuk peristiwa ini karena mereka menilai kejadian itu juga akan berimbas ke persepsi publik Australia yang belum sepenuhnya melihat Islam sebagai agama yang damai.
Peristiwa teror di Bondi Beach adalah manisfestasi dari Antisemitisme. Namun, antisemitisme hari ini jarang tampil dengan wajah klasiknya. Ia acap menyusup melalui bahasa yang tampak sah, entah itu kemarahan geopolitik, aktivisme digital yang serba hitam-putih, atau narasi konflik global yang disederhanakan.
Kritik terhadap kebijakan negara mana pun adalah hak demokratis. Namun, ketika kritik itu berubah menjadi stigmatisasi kolektif, di mana identitas Yahudi diperlakukan sebagai target teror yang sah, maka, yang terjadi adalah pergeseran berbahaya dari kritik politik ke kebencian identitas.
Serangan saat Hanukkah menunjukkan betapa tipisnya batas itu jika tidak dijaga. Melawan antisemitisme bukanlah soal membela satu kelompok semata, melainkan mempertahankan prinsip bahwa hak dan keselamatan tidak ditentukan oleh agama, etnis, atau asal-usul.
Dalam situasi seperti ini, peran negara semestinya tidak bisa ambigu. Australia telah cekatan mengutuk peritiwa terir tesebut. Namun, kecaman simbolik penting, tetapi tidak cukup.
Penegakan hukum harus tegas dan transparan, namun itu baru langkah awal. Yang lebih mendasar adalah upaya jangka panjang untuk membendung normalisasi kebencian melalui pendidikan keberagaman, literasi media, dan penguatan etika publik. Ketika bahasa kebencian dibiarkan beredar tanpa koreksi, ia perlahan menjadi banal, lalu legitim.
Lihat Juga :