Ketegangan China–Jepang, Status Taiwan, dan Normativitas Keutuhan Negara dalam Tata Internasional Asia

Minggu, 16 November 2025 - 17:20 WIB
loading...
Ketegangan China–Jepang,...
Harryanto Aryodiguno, Ph.D, Associate Professor of International Relations, President University. Foto/SindoNews
A A A
Harryanto Aryodiguno, Ph.D
Associate Professor of International Relations, President University

PERNYATAAN Perdana Menteri Jepang, Takaichi Sanae, pada 7 November 2025 bahwa “jika Taiwan terjadi sesuatu, itu dapat menjadi situasi krisis eksistensial bagi Jepang” telah memunculkan babak baru ketegangan geopolitik Asia Timur. Respons keras Beijing, pemanggilan duta besar Jepang, imbauan larangan berkunjung bagi warga China ke Jepang, serta maraknya retorika publik menandai bahwa isu Taiwan kembali menjadi pusat gesekan struktural antara kekuatan besar Asia.

Namun perdebatan publik atas isu ini kerap dikaburkan oleh politik sensasional. Agar masyarakat internasional dapat memahami esensi persoalan, analisis perlu kembali pada rekonstruksi sejarah, norma hukum internasional, serta kerangka teoritis hubungan internasional yang relevan—mulai dari konsep relationality Qin Yaqing hingga norm localization Amitav Acharya.

Dalam konteks inilah, artikel ini berusaha menyajikan pembacaan akademis yang menyeluruh, netral, dan analitis atas dinamika yang tengah berkembang.

Konteks Sejarah: Taiwan sebagai Bagian dari Arsitektur Pascaperang

Ketika Jepang menyerah pada tahun 1945, tatanan dunia baru yang muncul pascaperang didorong oleh visi Amerika Serikat untuk membentuk dunia yang damai, stabil, dan bebas dari imperialisme—sejalan dengan nilai-nilai liberalisme internasional.

Dalam kerangka inilah, seluruh wilayah jajahan Jepang dikembalikan kepada pemilik kedaulatan sebelumnya, termasuk Taiwan yang telah berada di bawah kekuasaan kolonial Jepang sejak 1895.

Deklarasi Kairo (1943), Deklarasi Potsdam (1945), dan penerimaan Jepang atas syarat-syarat sekutu secara tegas menyatakan:Artinya, status historis Taiwan telah selesai pada 1945, dan dunia pascaperang menganggap Taiwan kembali menjadi bagian dari Republik China (ROC).

Sumber sejarah Taiwan memperlihatkan bahwa pada 1945, banyak warga Taiwan merasa bangga, haru, dan Bahagia menyambut kembalinya pemerintahan “leluhur” setelah 50 tahun kolonialisme Jepang. Masyarakat tidak melihat diri sebagai bangsa terpisah, tetapi sebagai bagian dari komunitas budaya China yang lebih luas.

Konflik Internal, Bukan Konflik Kedaulatan

Konflik yang kemudian muncul bukanlah persoalan penolakan rakyat Taiwan terhadap China, melainkan: Kesalahan pemerintahan KMT pada masa awal (mismanaged governance, represi, korupsi), Perang saudara di China antara Komunis dan Nasionalis, Intervensi geopolitik eksternal selama Perang Dingin. Karena itu, secara politik hingga hari ini, hubungan Taiwan–China adalah sisa perang saudara yang belum tuntas, bukan konflik dua negara berdaulat.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Suvenir Kapal Perang...
Suvenir Kapal Perang Mikasa dari Menhan Jepang untuk Presiden Prabowo
Menhan Jepang Temui...
Menhan Jepang Temui Presiden Prabowo di Kertanegara, Penguatan Kerja Sama Pertahanan Dibahas
Dubes Wang Lutong Ungkap...
Dubes Wang Lutong Ungkap Purbaya Bakal ke China Pekan Depan, Bahas Apa?
Prabowo dan Jusuf Kalla...
Prabowo dan Jusuf Kalla Bahas Isu Global hingga Swasembada Energi
PKS Sebut Sinergi Pemerintah,...
PKS Sebut Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, hingga Masyarakat Kunci Jaga Stabilitas
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Pertama Kalinya, China...
Pertama Kalinya, China Pamer Peluncuran Rudal Hipersonik Dongfeng-17 sebagai Pesan untuk AS
Rekomendasi
Messi Pecahkan Rekor...
Messi Pecahkan Rekor Gol Piala Dunia, Argentina Ungguli Austria di Babak Pertama
Perkuat Layanan Digital...
Perkuat Layanan Digital melalui Care+, LGI Hadirkan Fitur Wellness
Tokocrypto Resmi Bergabung...
Tokocrypto Resmi Bergabung ke Ekosistem ICEX Group, Proses Migrasi Lima PAKD Selesai
Berita Terkini
6 Poin Pernyataan Roy...
6 Poin Pernyataan Roy Suryo dan Dokter Tifa setelah Penahanan Ditangguhkan
Tim Hukum Merah Putih:...
Tim Hukum Merah Putih: Tawaran RJ untuk Roy Suryo dan Dokter Tifa Bukan Ajakan Jokowi
Bukan Sekadar Insinyur,...
Bukan Sekadar Insinyur, Alumni ITS Didorong Kuasai Kepemimpinan dan Finansial
Roy Suryo-Tifa Tak Ditahan,...
Roy Suryo-Tifa Tak Ditahan, Relawan Jokowi: Ini Bukan Akhir dari Segalanya
Hadapi Masa Depan yang...
Hadapi Masa Depan yang Tak Pasti, Mahasiswa Diajarkan Kepemimpinan, Inovasi, dan Talenta Digital
APHI Dorong Pemegang...
APHI Dorong Pemegang PBPH Manfaatkan Permenhut untuk Kembangkan Proyek Karbon
Infografis
Perbandingan Jet Tempur...
Perbandingan Jet Tempur J-15 China dan F-15 Jepang, Mana Lebih Hebat?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved