Mengimajinasikan Indonesia
Sabtu, 25 Oktober 2025 - 10:47 WIB
loading...
A
A
A
Di gedung inilah Soekarno muda dengan gagah perkasa membacakan pledoi fenomenal berjudul "Indonesia Menggugat". Dari pledoi ini nama Soekarno justru mendunia, meski membuatnya harus mendekam di Penjara Sukamiskin.
Kelak karena pengaruhnya semakin besar, Soekarno dibuang ke Ende, Flores. Tapi justru disanalah Soekarno muda mendapatkan ide cemerlang tentang dasar negara: Pancasila. Mengapa harus orang muda? Karena Soeharto terbaik adalah Soeharto muda.
Saat ia menstabilkan kondisi sosial politik dan keamanan ditengah krisis, lalu membangkitkan Indonesia dari keterpurukan ekonomi di masa orde lama, mencapai swasembada pangan, sembako yang terjangkau, nilai tukar rupiah yang kuat, pembangunan infrastruktur yang masif, hingga program transmigrasi untuk pemerataan pembangunan yang me jadi legacy kepemimpinan Soeharto.
Tak seperti saat muda, di masa tuanya, banyak para pemimpin bangsa yang seringkali mulai kehilangan kendali atas dirinya dan keputusan politiknya. Ada yang ingin menjadikan diri sebagai presiden seumur hidup, melindungi bisnis keluarga, maupun menjaga kekuasaannya dengan segala cara.
Rekan seperjuangan yang berbeda pandangan disingkirkan, dijebloskan ke penjara, hingga diberi cap radikal dalam catatan sejarah. Demokrasi tercederai karena mulai masuknya kepentingan kelompok, politik dinasti, dan oligarki dari bisnis anak-anak pemimpin negeri yang tak lagi bisa dihindari.
Indonesia butuh banyak orang muda berkualitas untuk masuk ke politik. Kita rindu Indonesia diisi oleh pemuda berintegritas seperti Soekarno - Hatta - Tan Malaka - Sjahrir - Natsir muda, para pendiri bangsa yang masa mudanya dihabiskan untuk mendiskusikan bentuk Indonesia impian yang ingin diciptakan.
Muda bukan hanya tentang usia, tapi juga keberpihakan pada kebaruan dan kemajuan. Muda adalah tentang keberanian mendobrak cara-cara berdemokrasi berbiaya tinggi yang jadi hulunya praktik korupsi.
Jadi percuma usia muda, jika cara politiknya dengan gaya-gaya lama orang tua, transaksional, miskin inovasi, dan minim substansi. Kita rindu para pemimpin muda yang idealisme dan keputusan politiknya murni tanpa didasari kepentingan politik dinasti dan oligarki.
Kelak karena pengaruhnya semakin besar, Soekarno dibuang ke Ende, Flores. Tapi justru disanalah Soekarno muda mendapatkan ide cemerlang tentang dasar negara: Pancasila. Mengapa harus orang muda? Karena Soeharto terbaik adalah Soeharto muda.
Saat ia menstabilkan kondisi sosial politik dan keamanan ditengah krisis, lalu membangkitkan Indonesia dari keterpurukan ekonomi di masa orde lama, mencapai swasembada pangan, sembako yang terjangkau, nilai tukar rupiah yang kuat, pembangunan infrastruktur yang masif, hingga program transmigrasi untuk pemerataan pembangunan yang me jadi legacy kepemimpinan Soeharto.
Tak seperti saat muda, di masa tuanya, banyak para pemimpin bangsa yang seringkali mulai kehilangan kendali atas dirinya dan keputusan politiknya. Ada yang ingin menjadikan diri sebagai presiden seumur hidup, melindungi bisnis keluarga, maupun menjaga kekuasaannya dengan segala cara.
Rekan seperjuangan yang berbeda pandangan disingkirkan, dijebloskan ke penjara, hingga diberi cap radikal dalam catatan sejarah. Demokrasi tercederai karena mulai masuknya kepentingan kelompok, politik dinasti, dan oligarki dari bisnis anak-anak pemimpin negeri yang tak lagi bisa dihindari.
Indonesia butuh banyak orang muda berkualitas untuk masuk ke politik. Kita rindu Indonesia diisi oleh pemuda berintegritas seperti Soekarno - Hatta - Tan Malaka - Sjahrir - Natsir muda, para pendiri bangsa yang masa mudanya dihabiskan untuk mendiskusikan bentuk Indonesia impian yang ingin diciptakan.
Muda bukan hanya tentang usia, tapi juga keberpihakan pada kebaruan dan kemajuan. Muda adalah tentang keberanian mendobrak cara-cara berdemokrasi berbiaya tinggi yang jadi hulunya praktik korupsi.
Jadi percuma usia muda, jika cara politiknya dengan gaya-gaya lama orang tua, transaksional, miskin inovasi, dan minim substansi. Kita rindu para pemimpin muda yang idealisme dan keputusan politiknya murni tanpa didasari kepentingan politik dinasti dan oligarki.