AICIS+ di UIII: Mengokohkan Peran Indonesia dalam Keilmuan Islam Global
Rabu, 15 Oktober 2025 - 17:49 WIB
loading...
A
A
A
Kehadiran para akademisi lokal dan asing dari berbagai daerah di Indonesia dan negara akan bermakna jika terjadi pertukaran sejati, di mana kearifan lokal dari pesantren, tasawuf, dan gerakan sosial Islam Indonesia dapat memperkaya teori global, dan sebaliknya. Sebagai satu akibat, UIII harus menjadi rumah bagi keilmuan yang percaya diri, yang berakar pada pengalaman keindonesiaan tanpa kehilangan horizon universalnya.
Untuk itu, ada beberapa langkah konkret yang bisa diambil. Pertama, AICIS+ perlu dikembangkan sebagai platform riset kolaboratif antara UIII dan universitas luar negeri dalam bidang seperti perdamaian, pendidikan lintas iman, perubahan iklim, agama hijau dan ekonomi syariah.
Kedua, hasil-hasil konferensi sebaiknya disebarluaskan secara massif melalui publikasi populer, kebijakan publik, dan media digital agar pengetahuan dan manfaatnya dirasakan luas. Ketiga, pelibatan para ulama dan akademisi daerah harus diperkuat, sehingga forum ini tidak kehilangan akar sosialnya.
Di tengah wacana global yang kerap menampilkan Islam secara problematis, AICIS+ di UIII menawarkan oase, yaitu, wajah Islam yang berpikir, berdialog, dan berinovasi. Ia menunjukkan bahwa keilmuan Islam di Indonesia mampu berbicara dengan bahasa kemanusiaan universal—bahwa Islam bukan sumber masalah, tetapi sumber solusi.
Karenanya, AICIS+ bukan sekadar konferensi, namun ia adalah pernyataan visi. Ia menegaskan bahwa kontribusi Indonesia bagi dunia Islam tidak diukur dari jumlah penduduk Muslim atau masjid/mushallah, tetapi dari kekuatan gagasan dan pengetahuan. Singkatnya, UIII menjadi simbol optimisme itu—bahwa dari Indonesia, Islam dapat tampil sebagai energi intelektual yang menyejukkan dan membangun perdamaian.
Sebagai kesimpulan, ketika nanti diskusi-diskusi AICIS+ berakhir digelar dan lampu auditorium UIII mulai redup, pekerjaan sejati justru dimulai. Apakah ide-ide yang didiskusikan di ruang-ruang konferensi dapat menjelma menjadi kolaborasi nyata, kebijakan baru, dan jejaring riset yang berkelanjutan?
Jika iya, maka AICIS+ di UIII akan tercatat sejarah bukan hanya sebagai pertemuan ilmiah tahunan, tetapi sebagai tonggak sejarah, yang memantapkan posisi Indonesia meneguhkan kembali perannya sebagai pusat keilmuan Islam yang terbuka, damai, dan berwawasan global. Selamat berkonferensi!
Untuk itu, ada beberapa langkah konkret yang bisa diambil. Pertama, AICIS+ perlu dikembangkan sebagai platform riset kolaboratif antara UIII dan universitas luar negeri dalam bidang seperti perdamaian, pendidikan lintas iman, perubahan iklim, agama hijau dan ekonomi syariah.
Kedua, hasil-hasil konferensi sebaiknya disebarluaskan secara massif melalui publikasi populer, kebijakan publik, dan media digital agar pengetahuan dan manfaatnya dirasakan luas. Ketiga, pelibatan para ulama dan akademisi daerah harus diperkuat, sehingga forum ini tidak kehilangan akar sosialnya.
Di tengah wacana global yang kerap menampilkan Islam secara problematis, AICIS+ di UIII menawarkan oase, yaitu, wajah Islam yang berpikir, berdialog, dan berinovasi. Ia menunjukkan bahwa keilmuan Islam di Indonesia mampu berbicara dengan bahasa kemanusiaan universal—bahwa Islam bukan sumber masalah, tetapi sumber solusi.
Karenanya, AICIS+ bukan sekadar konferensi, namun ia adalah pernyataan visi. Ia menegaskan bahwa kontribusi Indonesia bagi dunia Islam tidak diukur dari jumlah penduduk Muslim atau masjid/mushallah, tetapi dari kekuatan gagasan dan pengetahuan. Singkatnya, UIII menjadi simbol optimisme itu—bahwa dari Indonesia, Islam dapat tampil sebagai energi intelektual yang menyejukkan dan membangun perdamaian.
Sebagai kesimpulan, ketika nanti diskusi-diskusi AICIS+ berakhir digelar dan lampu auditorium UIII mulai redup, pekerjaan sejati justru dimulai. Apakah ide-ide yang didiskusikan di ruang-ruang konferensi dapat menjelma menjadi kolaborasi nyata, kebijakan baru, dan jejaring riset yang berkelanjutan?
Jika iya, maka AICIS+ di UIII akan tercatat sejarah bukan hanya sebagai pertemuan ilmiah tahunan, tetapi sebagai tonggak sejarah, yang memantapkan posisi Indonesia meneguhkan kembali perannya sebagai pusat keilmuan Islam yang terbuka, damai, dan berwawasan global. Selamat berkonferensi!
(poe)
Lihat Juga :