AICIS+ di UIII: Mengokohkan Peran Indonesia dalam Keilmuan Islam Global
Rabu, 15 Oktober 2025 - 17:49 WIB
loading...
Ridwan al-Makassary, Dosen di Fakultas Ilmu Sosial UIII/Direktur Center of Muslim Politics and World Society UIII. Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
Ridwan Al-Makassary
Dosen Fakultas Ilmu Sosial di Universitas Internasional Indonesia (UIII)
Direktur di Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE UIII)
PADA pungkasan Oktober 2025, Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) akan menyelenggarakan satu konferensi internasional, yaitu, Annual International Conference on Islamic Studies Plus (AICIS+) untuk pertama kalinya. Ia seyogyanya didedikasikan bukan sekadar agenda rutin akademik tahunan, melainkan juga tekad baru Indonesia guna meneguhkan peran intelektualnya dalam lanskap keilmuan Islam global.
Selama dua dekade, AICIS merupakan forum akademik unggulan Kementerian Agama Republik Indonesia, yang kini bertransformasi menjadi AICIS+. Ia menjadi bermakna karena akan diselenggarakan di kampus UIII, yang sejak peletakan batu pertamanya, telah dirancang menjadi jembatan peradaban antara Islam dan dunia.
Selain itu, pesan yang ingin disampaikan AICIS+ adalah terang benderang: Indonesia bersiap diri tidak saja berbicara tentang Islam lokal, melainkan juga memikirkan Islam secara global.
Selama ini, AICIS telah dikenal baik dan populer sebagai cermin dinamika pemikiran Islam di Indonesia, yang menyediakan ruang pertukaran intelektual bagi para akademisi, peneliti, dan praktisi keagamaan dari berbagai latar akademik dan negara. Namun, penambahan tanda “plus” (+) menandai sebuah lompatan konseptual: dari forum diskusi nasional menjadi ruang kolaborasi transnasional untuk riset, kebijakan, dan dialog lintas agama dan dialog lintas budaya.
Ketika AICIS+ digelar di UIII, yang didirikan sebagai universitas Islam internasional dengan orientasi riset dan jejaring global, maka konferensi ini sekaligus menjadi panggung akademik bagi Indonesia untuk memproyeksikan wajah Islam yang moderat, inklusif, kosmopolit dan berorientasi masa depan.
Kampus UIII, sejatinya, terbit dari kebutuhan untuk menghadirkan ruang keilmuan yang menyatu-padukan Islam, modernitas, dan demokrasi. Kampus ini, karenanya, bukan hanya simbol lembaga pendidikan, melainkan juga cerminan gagasan dan mimpi besar: bahwa wasathiyyah Islam (Islam yang moderat) dapat berfungsi menjadi fondasi intelektual bagi perdamaian dunia.
Dalam konteks itu, AICIS+ di UIII bukan sekadar pertemuan akademik, melainkan sebuah laboratorium pengetahuan. Di mana tempat para sarjana dari berbagai negara dan latar akademik menafsirkan kembali peran Islam dalam menjawab tantangan global seperti krisis iklim, migrasi, teknologi digital, dan keadilan sosial.
AICIS+ diandaikan lebih mengejawantahkan substansi akademik, tinimbang sekedar perayaan pembukaan dan penutupan yang megah di hotel bintang. Gemanya pada presentasi dan pertukaran ilmu serta pembumian gagasan di akar rumput.
Di pelbagai belahan dunia, kajian Islam masih sering terjebak dalam dikotomi lama antara “tradisional” dan “modern”, “Islamik” dan “sekuler”. Dalam hal ini, UIII mencoba melampaui sekat-sekat tersebut. Dengan mahasiswa dan dosen yang datang dari Asia, Australia, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa, kampus ini menjelma menjadi miniatur dunia Muslim yang beragam.
AICIS+ memanfaatkan keragaman ini untuk mendorong dialog baru antara ilmu keislaman, ilmu sosial, dan ilmu pengetahuan modern, yang mengkaji isu-isu seperti etika kecerdasan buatan, kesetaraan gender, atau pendidikan damai.
Makna terdalam dari AICIS+ di UIII terletak pada diplomasi intelektual yang diusungnya. Dalam situasi global yang acap memandang Islam melalui kacamata politik dan keamanan, Indonesia menawarkan narasi alternatif, yaitu, Islam sebagai kekuatan peradaban, kreativitas, dan kemanusiaan.
Melalui forum seperti AICIS+, para cendekiawan Indonesia tidak hanya berpartisipasi dalam percakapan global, tetapi ikut membentuknya. Dunia diingatkan bahwa pemikiran Islam tidak hanya tumbuh di Kairo, Maroko atau Teheran, tetapi juga di Yogyakarta, Aceh, dan Depok.
Tema-tema AICIS+ yang menjawab kebutuhan kontemporer, pada dasarnya, menunjukkan arah baru kajian Islam di Indonesia: dari sekadar mempertahankan identitas menuju keterlibatan aktif dengan tantangan universal.
Pertanyaan-pertanyaan tentang keberlanjutan, keadilan global, dan transformasi digital kini dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab moral umat. Di sinilah posisi UIII menjadi relevan: menyediakan ruang akademik di mana etika keagamaan dan ilmu pengetahuan bisa berjumpa tanpa saling menegasikan.
Meski demikian, pelaksanaan AICIS+ di UIII tidak boleh berhenti pada simbolisme. Karena tantangan sebenarnya adalah memastikan bahwa “internasionalisasi” tidak menjadi sekadar formalitas.
Kehadiran para akademisi lokal dan asing dari berbagai daerah di Indonesia dan negara akan bermakna jika terjadi pertukaran sejati, di mana kearifan lokal dari pesantren, tasawuf, dan gerakan sosial Islam Indonesia dapat memperkaya teori global, dan sebaliknya. Sebagai satu akibat, UIII harus menjadi rumah bagi keilmuan yang percaya diri, yang berakar pada pengalaman keindonesiaan tanpa kehilangan horizon universalnya.
Untuk itu, ada beberapa langkah konkret yang bisa diambil. Pertama, AICIS+ perlu dikembangkan sebagai platform riset kolaboratif antara UIII dan universitas luar negeri dalam bidang seperti perdamaian, pendidikan lintas iman, perubahan iklim, agama hijau dan ekonomi syariah.
Kedua, hasil-hasil konferensi sebaiknya disebarluaskan secara massif melalui publikasi populer, kebijakan publik, dan media digital agar pengetahuan dan manfaatnya dirasakan luas. Ketiga, pelibatan para ulama dan akademisi daerah harus diperkuat, sehingga forum ini tidak kehilangan akar sosialnya.
Di tengah wacana global yang kerap menampilkan Islam secara problematis, AICIS+ di UIII menawarkan oase, yaitu, wajah Islam yang berpikir, berdialog, dan berinovasi. Ia menunjukkan bahwa keilmuan Islam di Indonesia mampu berbicara dengan bahasa kemanusiaan universal—bahwa Islam bukan sumber masalah, tetapi sumber solusi.
Karenanya, AICIS+ bukan sekadar konferensi, namun ia adalah pernyataan visi. Ia menegaskan bahwa kontribusi Indonesia bagi dunia Islam tidak diukur dari jumlah penduduk Muslim atau masjid/mushallah, tetapi dari kekuatan gagasan dan pengetahuan. Singkatnya, UIII menjadi simbol optimisme itu—bahwa dari Indonesia, Islam dapat tampil sebagai energi intelektual yang menyejukkan dan membangun perdamaian.
Sebagai kesimpulan, ketika nanti diskusi-diskusi AICIS+ berakhir digelar dan lampu auditorium UIII mulai redup, pekerjaan sejati justru dimulai. Apakah ide-ide yang didiskusikan di ruang-ruang konferensi dapat menjelma menjadi kolaborasi nyata, kebijakan baru, dan jejaring riset yang berkelanjutan?
Jika iya, maka AICIS+ di UIII akan tercatat sejarah bukan hanya sebagai pertemuan ilmiah tahunan, tetapi sebagai tonggak sejarah, yang memantapkan posisi Indonesia meneguhkan kembali perannya sebagai pusat keilmuan Islam yang terbuka, damai, dan berwawasan global. Selamat berkonferensi!
Dosen Fakultas Ilmu Sosial di Universitas Internasional Indonesia (UIII)
Direktur di Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE UIII)
PADA pungkasan Oktober 2025, Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) akan menyelenggarakan satu konferensi internasional, yaitu, Annual International Conference on Islamic Studies Plus (AICIS+) untuk pertama kalinya. Ia seyogyanya didedikasikan bukan sekadar agenda rutin akademik tahunan, melainkan juga tekad baru Indonesia guna meneguhkan peran intelektualnya dalam lanskap keilmuan Islam global.
Selama dua dekade, AICIS merupakan forum akademik unggulan Kementerian Agama Republik Indonesia, yang kini bertransformasi menjadi AICIS+. Ia menjadi bermakna karena akan diselenggarakan di kampus UIII, yang sejak peletakan batu pertamanya, telah dirancang menjadi jembatan peradaban antara Islam dan dunia.
Selain itu, pesan yang ingin disampaikan AICIS+ adalah terang benderang: Indonesia bersiap diri tidak saja berbicara tentang Islam lokal, melainkan juga memikirkan Islam secara global.
Selama ini, AICIS telah dikenal baik dan populer sebagai cermin dinamika pemikiran Islam di Indonesia, yang menyediakan ruang pertukaran intelektual bagi para akademisi, peneliti, dan praktisi keagamaan dari berbagai latar akademik dan negara. Namun, penambahan tanda “plus” (+) menandai sebuah lompatan konseptual: dari forum diskusi nasional menjadi ruang kolaborasi transnasional untuk riset, kebijakan, dan dialog lintas agama dan dialog lintas budaya.
Ketika AICIS+ digelar di UIII, yang didirikan sebagai universitas Islam internasional dengan orientasi riset dan jejaring global, maka konferensi ini sekaligus menjadi panggung akademik bagi Indonesia untuk memproyeksikan wajah Islam yang moderat, inklusif, kosmopolit dan berorientasi masa depan.
Kampus UIII, sejatinya, terbit dari kebutuhan untuk menghadirkan ruang keilmuan yang menyatu-padukan Islam, modernitas, dan demokrasi. Kampus ini, karenanya, bukan hanya simbol lembaga pendidikan, melainkan juga cerminan gagasan dan mimpi besar: bahwa wasathiyyah Islam (Islam yang moderat) dapat berfungsi menjadi fondasi intelektual bagi perdamaian dunia.
Dalam konteks itu, AICIS+ di UIII bukan sekadar pertemuan akademik, melainkan sebuah laboratorium pengetahuan. Di mana tempat para sarjana dari berbagai negara dan latar akademik menafsirkan kembali peran Islam dalam menjawab tantangan global seperti krisis iklim, migrasi, teknologi digital, dan keadilan sosial.
AICIS+ diandaikan lebih mengejawantahkan substansi akademik, tinimbang sekedar perayaan pembukaan dan penutupan yang megah di hotel bintang. Gemanya pada presentasi dan pertukaran ilmu serta pembumian gagasan di akar rumput.
Di pelbagai belahan dunia, kajian Islam masih sering terjebak dalam dikotomi lama antara “tradisional” dan “modern”, “Islamik” dan “sekuler”. Dalam hal ini, UIII mencoba melampaui sekat-sekat tersebut. Dengan mahasiswa dan dosen yang datang dari Asia, Australia, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa, kampus ini menjelma menjadi miniatur dunia Muslim yang beragam.
AICIS+ memanfaatkan keragaman ini untuk mendorong dialog baru antara ilmu keislaman, ilmu sosial, dan ilmu pengetahuan modern, yang mengkaji isu-isu seperti etika kecerdasan buatan, kesetaraan gender, atau pendidikan damai.
Makna terdalam dari AICIS+ di UIII terletak pada diplomasi intelektual yang diusungnya. Dalam situasi global yang acap memandang Islam melalui kacamata politik dan keamanan, Indonesia menawarkan narasi alternatif, yaitu, Islam sebagai kekuatan peradaban, kreativitas, dan kemanusiaan.
Melalui forum seperti AICIS+, para cendekiawan Indonesia tidak hanya berpartisipasi dalam percakapan global, tetapi ikut membentuknya. Dunia diingatkan bahwa pemikiran Islam tidak hanya tumbuh di Kairo, Maroko atau Teheran, tetapi juga di Yogyakarta, Aceh, dan Depok.
Tema-tema AICIS+ yang menjawab kebutuhan kontemporer, pada dasarnya, menunjukkan arah baru kajian Islam di Indonesia: dari sekadar mempertahankan identitas menuju keterlibatan aktif dengan tantangan universal.
Pertanyaan-pertanyaan tentang keberlanjutan, keadilan global, dan transformasi digital kini dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab moral umat. Di sinilah posisi UIII menjadi relevan: menyediakan ruang akademik di mana etika keagamaan dan ilmu pengetahuan bisa berjumpa tanpa saling menegasikan.
Meski demikian, pelaksanaan AICIS+ di UIII tidak boleh berhenti pada simbolisme. Karena tantangan sebenarnya adalah memastikan bahwa “internasionalisasi” tidak menjadi sekadar formalitas.
Kehadiran para akademisi lokal dan asing dari berbagai daerah di Indonesia dan negara akan bermakna jika terjadi pertukaran sejati, di mana kearifan lokal dari pesantren, tasawuf, dan gerakan sosial Islam Indonesia dapat memperkaya teori global, dan sebaliknya. Sebagai satu akibat, UIII harus menjadi rumah bagi keilmuan yang percaya diri, yang berakar pada pengalaman keindonesiaan tanpa kehilangan horizon universalnya.
Untuk itu, ada beberapa langkah konkret yang bisa diambil. Pertama, AICIS+ perlu dikembangkan sebagai platform riset kolaboratif antara UIII dan universitas luar negeri dalam bidang seperti perdamaian, pendidikan lintas iman, perubahan iklim, agama hijau dan ekonomi syariah.
Kedua, hasil-hasil konferensi sebaiknya disebarluaskan secara massif melalui publikasi populer, kebijakan publik, dan media digital agar pengetahuan dan manfaatnya dirasakan luas. Ketiga, pelibatan para ulama dan akademisi daerah harus diperkuat, sehingga forum ini tidak kehilangan akar sosialnya.
Di tengah wacana global yang kerap menampilkan Islam secara problematis, AICIS+ di UIII menawarkan oase, yaitu, wajah Islam yang berpikir, berdialog, dan berinovasi. Ia menunjukkan bahwa keilmuan Islam di Indonesia mampu berbicara dengan bahasa kemanusiaan universal—bahwa Islam bukan sumber masalah, tetapi sumber solusi.
Karenanya, AICIS+ bukan sekadar konferensi, namun ia adalah pernyataan visi. Ia menegaskan bahwa kontribusi Indonesia bagi dunia Islam tidak diukur dari jumlah penduduk Muslim atau masjid/mushallah, tetapi dari kekuatan gagasan dan pengetahuan. Singkatnya, UIII menjadi simbol optimisme itu—bahwa dari Indonesia, Islam dapat tampil sebagai energi intelektual yang menyejukkan dan membangun perdamaian.
Sebagai kesimpulan, ketika nanti diskusi-diskusi AICIS+ berakhir digelar dan lampu auditorium UIII mulai redup, pekerjaan sejati justru dimulai. Apakah ide-ide yang didiskusikan di ruang-ruang konferensi dapat menjelma menjadi kolaborasi nyata, kebijakan baru, dan jejaring riset yang berkelanjutan?
Jika iya, maka AICIS+ di UIII akan tercatat sejarah bukan hanya sebagai pertemuan ilmiah tahunan, tetapi sebagai tonggak sejarah, yang memantapkan posisi Indonesia meneguhkan kembali perannya sebagai pusat keilmuan Islam yang terbuka, damai, dan berwawasan global. Selamat berkonferensi!
(poe)
Lihat Juga :