Melampaui Politik Identitas: Gerakan Kemanusiaan Dunia Atas Genosida Israel di Palestina
Senin, 13 Oktober 2025 - 15:41 WIB
loading...
A
A
A
Mereka mewakili kemanusiaan mereka yang terpanggil atas derita warga Palestina. Warga dunia menempatkan diri mereka sebagai warga Palestina yang menderita. Derita Gaza adalah derita kita. Bagi mereka, kita adalah Palestina.
Warga dunia ini mewakili masyarakat dunia sebagai individu yang masih merasa menjadi manusia. Dengan kata lain, gerakan warga dunia ini atas nama kemanusiaan tanpa ada label atau identitas apapun. Saya sebut sebagai Gerakan Politik Kosmopolitan. Gerakan ini mendobrak logika egoistik kepentingan nasional suatu negara untuk kepentingan kemanusiaan universal.
Gerakan Politik Kosmopolitan ini terpanggil realitas genosida Israel, keterjajahan Palestina, penderitaan warga Gaza. Gerakan Kosmopolitan ini bergerak atas nama kemanusiaan yang telah tercabik-cabik oleh ‘kegilaan’ Benjamin Netayahu dan Donald Trump. Mereka terpanggil jiwanya sebagai manusia untuk mengentaskan pembantaian brutal melampaui apa yang dilakukan Hitler. Gerakan Kosmopolitan ini adalah Gerakan eksistensial umat manusia.
Genosida itu nyata bukan delusional. Genosida ini dialami benar sebagai penderitaan warga Palestina yang menyayat kemanusiaan, menggugah dorongan batin untuk membela, suara hati berteriak menolong, dan seruan jiwa untuk perdamaian. Genoside ini adalah penderitaan ontologis (ontological suffering).
Bagi warga dunia Kosmopolitan, penderitaan ontologis ini merupakan derita warga Palestina yang dirasakan olehnya. Dengan demikian kesadaran mendalam manusia di dunia tersingkap bersama warga Palestina. Dalam bahasa Kant dinamai “imperatif kategoris”, yakni dorongan hati yang terkoneksi pada kesadaran akal untuk berbuat baik kepada yang menderita, tersakiti dan tertindas.
Bagi warga Kosmopolitan, ukuran manusia bukanlah emosi dan akal rasional, tapi kesadaran yang didorong hati (nurani). Terminologi nurani kuat dalam budaya Indonesia dan bahasa Arab-Islam. Kesadaran terdalam ini adalah unsur manusia spiritualis yang secara praktis seluruh umat manusia mempunyainya.
Sedangkan di dalam dunia (realm) Barat, konsep nurani hanya sampai pembahasan akal rasional yang ditemukan Kant yang kini perkembangannya dinamai Liberalisme.
Oleh sebab itu, peristiwa genosida Israel atas Palestina seluruh umat manusia bergerak dalam berbagai macam irisan persamaan umat manusia yang berbeda-berbeda: Apakah seorang liberal, Muslim, Budha, atau penganut agama dan kebudayaan lainnya, maka semuanya bersatu dalam kemanusiaan (universal).
Mereka berteriak “Free Palestina!” kepada negara yang atomistik, yakni keras kepala tanpa adanya unsur kemanusian. Dalam rangkaian protes di Inggris sejak Agustus ratusan ditangkap polisi Inggris dari berbagai umur dan budaya serta identitas.
Sampai sampai seorang British tua buta 62 tahun, Mike Higgins dengan kursi rodanya ditangkap dikenai UU terorisme Inggris (section 13 of the Terrorism Act 2000). Higgins berseru "I oppose genocide, I support Palestine Action". Dia ditangkap Agustus dan kembali lagi demonstrasi di September ini.
Gerakan Kosmopolitan Melampaui Politik Identitas
Warga dunia ini mewakili masyarakat dunia sebagai individu yang masih merasa menjadi manusia. Dengan kata lain, gerakan warga dunia ini atas nama kemanusiaan tanpa ada label atau identitas apapun. Saya sebut sebagai Gerakan Politik Kosmopolitan. Gerakan ini mendobrak logika egoistik kepentingan nasional suatu negara untuk kepentingan kemanusiaan universal.
Gerakan Politik Kosmopolitan ini terpanggil realitas genosida Israel, keterjajahan Palestina, penderitaan warga Gaza. Gerakan Kosmopolitan ini bergerak atas nama kemanusiaan yang telah tercabik-cabik oleh ‘kegilaan’ Benjamin Netayahu dan Donald Trump. Mereka terpanggil jiwanya sebagai manusia untuk mengentaskan pembantaian brutal melampaui apa yang dilakukan Hitler. Gerakan Kosmopolitan ini adalah Gerakan eksistensial umat manusia.
Kesadaran Kosmopolitan Melawan Genosida
Genosida itu nyata bukan delusional. Genosida ini dialami benar sebagai penderitaan warga Palestina yang menyayat kemanusiaan, menggugah dorongan batin untuk membela, suara hati berteriak menolong, dan seruan jiwa untuk perdamaian. Genoside ini adalah penderitaan ontologis (ontological suffering).
Bagi warga dunia Kosmopolitan, penderitaan ontologis ini merupakan derita warga Palestina yang dirasakan olehnya. Dengan demikian kesadaran mendalam manusia di dunia tersingkap bersama warga Palestina. Dalam bahasa Kant dinamai “imperatif kategoris”, yakni dorongan hati yang terkoneksi pada kesadaran akal untuk berbuat baik kepada yang menderita, tersakiti dan tertindas.
Bagi warga Kosmopolitan, ukuran manusia bukanlah emosi dan akal rasional, tapi kesadaran yang didorong hati (nurani). Terminologi nurani kuat dalam budaya Indonesia dan bahasa Arab-Islam. Kesadaran terdalam ini adalah unsur manusia spiritualis yang secara praktis seluruh umat manusia mempunyainya.
Sedangkan di dalam dunia (realm) Barat, konsep nurani hanya sampai pembahasan akal rasional yang ditemukan Kant yang kini perkembangannya dinamai Liberalisme.
Oleh sebab itu, peristiwa genosida Israel atas Palestina seluruh umat manusia bergerak dalam berbagai macam irisan persamaan umat manusia yang berbeda-berbeda: Apakah seorang liberal, Muslim, Budha, atau penganut agama dan kebudayaan lainnya, maka semuanya bersatu dalam kemanusiaan (universal).
Mereka berteriak “Free Palestina!” kepada negara yang atomistik, yakni keras kepala tanpa adanya unsur kemanusian. Dalam rangkaian protes di Inggris sejak Agustus ratusan ditangkap polisi Inggris dari berbagai umur dan budaya serta identitas.
Sampai sampai seorang British tua buta 62 tahun, Mike Higgins dengan kursi rodanya ditangkap dikenai UU terorisme Inggris (section 13 of the Terrorism Act 2000). Higgins berseru "I oppose genocide, I support Palestine Action". Dia ditangkap Agustus dan kembali lagi demonstrasi di September ini.
Lihat Juga :