Faktor Penyebab PPP Terbelah Lagi, Nomor 4 Paling Penting
Selasa, 30 September 2025 - 13:43 WIB
loading...
A
A
A
"Keempat, dan ini yang paling penting. PPP berkali-kali meninggalkan konstituennya ketika mengambil keputusan politik. Misalnya, dalam Pilpres 2014, memang awalnya PPP mengikuti arus besar konstituennya dengan mendukung Prabowo, tapi dalam pemerintahan PPP berubah haluan menjadi anggota koalisi Jokowi," ujarnya.
Dalam Pemilu 2019, sambung dia, arus besar PPP menghendaki tetap bersama Prabowo, tapi PPP berkoalisi dengan Jokowi. Dalam Pilpres 2024, arus besar konstituen PPP menghendaki Anies Baswedan, tapi PPP berkoalisi dengan PDIP dan mencalonkan Ganjar Pranowo.
Baca juga: Mardiono Vs Agus Suparmanto Saling Klaim, PPP Perlu Gelar Muktamar Ulang
"Akibat meninggalkan konstituen, para penguasa PPP tidak punya legitimasi yang kuat di akar rumput, sehingga mereka hanya bertarung secara antarpersonal atau antarkelompok saja," imbuhnya.
Dia melanjutkan, akibat meninggalkan konstituen, dukungan terhadap PPP terus mengecil, dan di Pemilu 2024 tidak lolos ke Parlemen Senayan. Dia mengatakan, kalau masih mau tetap bertahan dan diperhitungkan, para pemimpin PPP harus mau kembali ke konstituen.
Para pemimpin PPP harus dengarkan apa aspirasi paling banyak dari konstituen, sehingga semua pihak bisa punya dasar untuk bersepakat. "Kalau kembali merawat dan mendengarkan konstituennya, maka PPP masih bisa menjadi rumah besar umat Islam, kalau tidak, PPP hanya akan menjadi rumah kecil para penguasanya," pungkasnya.
Dalam Pemilu 2019, sambung dia, arus besar PPP menghendaki tetap bersama Prabowo, tapi PPP berkoalisi dengan Jokowi. Dalam Pilpres 2024, arus besar konstituen PPP menghendaki Anies Baswedan, tapi PPP berkoalisi dengan PDIP dan mencalonkan Ganjar Pranowo.
Baca juga: Mardiono Vs Agus Suparmanto Saling Klaim, PPP Perlu Gelar Muktamar Ulang
"Akibat meninggalkan konstituen, para penguasa PPP tidak punya legitimasi yang kuat di akar rumput, sehingga mereka hanya bertarung secara antarpersonal atau antarkelompok saja," imbuhnya.
Dia melanjutkan, akibat meninggalkan konstituen, dukungan terhadap PPP terus mengecil, dan di Pemilu 2024 tidak lolos ke Parlemen Senayan. Dia mengatakan, kalau masih mau tetap bertahan dan diperhitungkan, para pemimpin PPP harus mau kembali ke konstituen.
Para pemimpin PPP harus dengarkan apa aspirasi paling banyak dari konstituen, sehingga semua pihak bisa punya dasar untuk bersepakat. "Kalau kembali merawat dan mendengarkan konstituennya, maka PPP masih bisa menjadi rumah besar umat Islam, kalau tidak, PPP hanya akan menjadi rumah kecil para penguasanya," pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :