Mewujudkan Damai Positif di Dunia yang Terbelah

Minggu, 21 September 2025 - 09:09 WIB
loading...
A A A
Namun, kehadiran keadilan, hak asasi manusia, kesejateraan ekonomi dan demokrasi. Ini yang disebut Galtung sebagai damai positif (positive peace). Tanpa damai positif, gencatan senjata apa pun rapuh. Perdamaian adalah buah kerja bersama semua pihak yang mendambakannya.

Ini mengandung arti perdamaian tidak hanya ditempa di ruang diplomatik atau oleh para pemimpin yang kuat. Di seluruh dunia, orang biasa membuktikan diri bahwa rekonsiliasi dan koeksistensi dapat tumbuh dari bawah ke atas. Di Afrika, mediator lokal telah membantu antar tetangga membangun kembali kepercayaan setelah perang saudara yang brutal.

Di Asia, inisiatif dialog antar-agama telah menyatukan kaum muda dari berbagai agama untuk mengudar prasangka. Di Amerika Latin, gerakan akar rumput telah mengaitkan perdamaian dengan keadilan lingkungan, dengan alasan bahwa perlindungan hutan dan sungai tidak dapat dipisahkan dari perlindungan masyarakat.

Contoh-contoh ini menunjukkan satu kesamaan: mereka mengakui bahwa perdamaian bukan realitas yang terberi. Ia harus direbut. Singkatnya, perjanjian damai bertahan lebih lama ketika semua pemangku kepentingan, termasuk perempuan, pemuda, dan kelompok terpinggirkan terlibat dalam proses tersebut. Pengucilan melahirkan kebencian; Inklusi memelihara komitmen.

Perdamaian didakwa oleh dua realitas global yang mendesak, yaitu krisis iklim dan revolusi dijital. Pertama, perubahan iklim bukan lagi hanya masalah lingkungan, tetapi juga masalah perdamaian. Naiknya air laut, panen yang gagal, dan cuaca yang ekstrem memicu perpindahan dan persaingan memperebutkan sumber daya alam.

Pengungsi akibat perubahan iklim sudah melintasi perbatasan, terkadang disambut, acap diabaikan. Kecuali ditangani, tekanan ini akan mengintensifkan konflik dan mengacaukan wilayah negara yang didatanginya. Dalam pengertian ini, memerangi perubahan iklim bukan hanya tentang menyelamatkan planet ini—ini tentang mencegah perang yang akan terjadi.

Kedua, teknologi, khususnya media sosial, telah bersalin rupa sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi, platform dijital memungkinkan para aktivis untuk memobilisasi, membagi informasi, dan menyuarakan suara mereka yang terpinggirkan. Di sisi lain, mereka menyebarkan disinformasi, memperkuat ujar kebencian, dan memperdalam polarisasi dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Smartwatch AI, Kala...
Smartwatch AI, Kala Algoritma Mulai Membentuk Cara Kita Menilai Diri
Masalah Perampasan Aset...
Masalah Perampasan Aset Tindak Pidana
Mahalnya Harga Stabilitas
Mahalnya Harga Stabilitas
Perang Iran Menjadi...
Perang Iran Menjadi Warisan Buruk Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
Apakah Pengadilan Tengah...
Apakah Pengadilan Tengah Mengadili Metode Berpikir dr Tifa dan Roy Suryo?
Perang Berkepanjangan...
Perang Berkepanjangan AS Vs Iran, Indonesia Wajib Perkuat Ketahanan Nasional dan Diplomasi Strategis
Viral di Media Sosial,...
Viral di Media Sosial, Jet Tempur AS Diduga Jatuh di Iran pada Serangan ke-13
AS Tak Umumkan Serangan...
AS Tak Umumkan Serangan Udara ke Iran, Apakah Dikaitkan dengan Angka Sial?
4 Fakta Gunung Pickaxe,...
4 Fakta Gunung Pickaxe, Fasilitas Rahasia Nuklir Iran yang Jadi Target Serangan AS
Rekomendasi
Ini Perceraian Termahal...
Ini Perceraian Termahal Abad Ini! Nilainya Capai Rp11 Triliun
Setelah Ribuan Gen Z...
Setelah Ribuan Gen Z Berdemo selama Berminggu-minggu, Menteri Pendidikan India Mundur
BNI Menegaskan Kedatangan...
BNI Menegaskan Kedatangan Siswa Bukan atas Arahan Petugas
Berita Terkini
Robikin Emhas: Marwah...
Robikin Emhas: Marwah NU Tercabik-cabik Hanya karena Konflik Elite PBNU
Polemik Londo Ireng,...
Polemik Londo Ireng, IJTI Minta Presiden Hindari Diksi yang Bisa Beri Label Negatif bagi Profesi Jurnalis
Febrie Adriansyah Tak...
Febrie Adriansyah Tak Pakai Rompi Tahanan, Eks Penyidik KPK: Persepsi Publik Ada Keistimewaan Tidak Bisa Dicegah
Apresiasi Pelaksanaan...
Apresiasi Pelaksanaan PTT BSPS di Bandung, Mendagri: Tender Rakyat Perkuat Transparansi
Mantan Ketua MK Sebut...
Mantan Ketua MK Sebut Kondisi Indonesia Suram: Hukum Sangat Tajam ke Bawah, tapi Tumpul ke Atas
Dugaan Keterkaitan Eks...
Dugaan Keterkaitan Eks Jampidsus dengan Sejumlah Kasus Korupsi Disorot
Infografis
Sudaryono, Anak Petani...
Sudaryono, Anak Petani Grobogan yang Dipercaya Jadi Ketua BGN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved