Mewujudkan Damai Positif di Dunia yang Terbelah

Minggu, 21 September 2025 - 09:09 WIB
loading...
Mewujudkan Damai Positif...
Ridwan al-Makassary, Dosen di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan pekerja perdamaian di Indonesia. Foto/Istimewa
A A A
Ridwan al-Makassary
Dosen di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan pekerja perdamaian di Indonesia

PADA 21 September 2025, dunia merayakan Hari Perdamaian Internasional dalam balutan duka. Dunia masih diamuk perang dan konflik bersenjata, yang mencentang-perenangkan kehidupan di Ukraina, Gaza, Sudan, dan juga pelbagai penjuru dunia lainnya. Selain itu, ketegangan membara di Asia, di mana persaingan antara negara-negara adidaya telah menerbitkan kecemasan di seluruh kawasan.

Sebagai tambahan, perubahan iklim memburuk, dengan konsekuensi banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan, yang mendorong jutaan orang mengungsi dan menabur benih konflik baru atas sumber daya alam yang langka. Akhirnya, di negara-negara yang tidak berperang pun, termasuk Indonesia, dunia menyaksikan polarisasi politik, disinformasi, dan kebencian—sering diperkuat oleh media sosial—telah dan sedang menghancur-lumatkan kepercayaan masyarakat pada pemerintahan mereka yang otoriter.

Tulisan singkat ini adalah refleksi hari perdamaian internasional tentang absurditas mimpi perdamaian dan realitas yang kita hadapi. Di dunia yang terbelah, kita mungkin mengabaikan Hari Perdamaian Internasional yang acap dirayakan secara simbolis, dan juga tidak relevan. Tapi, karena dunia sedang terluka, maka hari perdamaian internasional penting, yang tidak dirayakan secara naif dari utopia yang belum kita miliki.

Ia adalah jeda (berhenti sejenak) yang disengaja sebagai kesempatan untuk merenungkan, mengatur ulang, dan juga berkomitmen kembali untuk membangun kondisi hadirnya perdamaian. Perdamaian acap didefinisikan sebagai ketiadaan perang dan kekerasan. Ini adalah damai negatif (negative peace), yang diwartakan oleh Johan Galtung. Tetapi, sejarah telah menunjukkan bahwa jeda tersebut tidak menjamin stabilitas.

Perdamaian sejati berarti bahwa orang dapat hidup dengan bermartabat. Ini berarti seorang anak dapat berjalan ke sekolah tanpa takut akan bom atau intimidasi. Seorang ojek atau perempuan akan bekerja tenang tanpa takut begal di malam hari. Seorang ibu tidak berpikir bunuh diri karena bingung menghidupi anak-anaknya yang masih balita.

Lebih jauh, kelompok etnis dan agama minoritas diperlakukan sebagai warga negara yang setara. Juga, sumber daya alam dikelola secara adil, sehingga generasi mendatang dapat mewarisi planet yang layak huni tinimbang planet yang tandus. Sekali lagi, perdamaian bukan hanya tidak adanya perang dan kekerasan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Smartwatch AI, Kala...
Smartwatch AI, Kala Algoritma Mulai Membentuk Cara Kita Menilai Diri
Masalah Perampasan Aset...
Masalah Perampasan Aset Tindak Pidana
Mahalnya Harga Stabilitas
Mahalnya Harga Stabilitas
Perang Iran Menjadi...
Perang Iran Menjadi Warisan Buruk Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
Apakah Pengadilan Tengah...
Apakah Pengadilan Tengah Mengadili Metode Berpikir dr Tifa dan Roy Suryo?
Perang Berkepanjangan...
Perang Berkepanjangan AS Vs Iran, Indonesia Wajib Perkuat Ketahanan Nasional dan Diplomasi Strategis
Viral di Media Sosial,...
Viral di Media Sosial, Jet Tempur AS Diduga Jatuh di Iran pada Serangan ke-13
AS Tak Umumkan Serangan...
AS Tak Umumkan Serangan Udara ke Iran, Apakah Dikaitkan dengan Angka Sial?
4 Fakta Gunung Pickaxe,...
4 Fakta Gunung Pickaxe, Fasilitas Rahasia Nuklir Iran yang Jadi Target Serangan AS
Rekomendasi
Selama 30 Tahun, Kakek...
Selama 30 Tahun, Kakek di Singapura Ini Perkosa 11 Gadis, Termasuk Anak, Cucu, hingga Keponakan
Kemhan Sebut Insiden...
Kemhan Sebut Insiden Bus Dinas yang Diduga Kabur usai Tabrak Ojol Diselesaikan secara Damai
Siapa Yu Deng dan Hong...
Siapa Yu Deng dan Hong Wang? Matematikawan China yang Memecahkan Masalah Paling Sulit di Dunia
Berita Terkini
Febrie Adriansyah Tak...
Febrie Adriansyah Tak Pakai Rompi Tahanan, Eks Penyidik KPK: Persepsi Publik Ada Keistimewaan Tidak Bisa Dicegah
Apresiasi Pelaksanaan...
Apresiasi Pelaksanaan PTT BSPS di Bandung, Mendagri: Tender Rakyat Perkuat Transparansi
Mantan Ketua MK Sebut...
Mantan Ketua MK Sebut Kondisi Indonesia Suram: Hukum Sangat Tajam ke Bawah, tapi Tumpul ke Atas
Dugaan Keterkaitan Eks...
Dugaan Keterkaitan Eks Jampidsus dengan Sejumlah Kasus Korupsi Disorot
Febrie Adriansyah Belum...
Febrie Adriansyah Belum Putuskan Ajukan Praperadilan
Perhitungan Kerugian...
Perhitungan Kerugian Negara Dipertanyakan, Pengamat Dorong Reformasi Audit BPKP
Infografis
10 Pemain Tercepat di...
10 Pemain Tercepat di Piala Dunia 2026: Mbappe Kalahkan Haaland
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved