Menggenjot Volume Penyaluran Operasi Pasar Beras SPHP
Sabtu, 20 September 2025 - 09:06 WIB
loading...
A
A
A
Sisanya masih 1,107 juta ton beras. Agar target penyaluran tercapai volume aliran harus diperbesar: rerata 10.650-an ton beras per hari. Artinya volume penyaluran harian beras SPHP saat ini harus digenjot 1,8 atau hampir dua kali lipat.
Mudahkah itu dilakukan? Sayangnya, tidak. Terutama kalau pemerintah berkukuh hanya mengandalkan tujuh saluran seperti saat ini. Merujuk data BULOG pada 11 September 2025, jumlah mitra penyalur mencapai 31.477 unit.
Ini jumlah yang besar. Masalahnya, karena penyalur ini menyasar konsumen akhir membuat serapannya tidak besar. Dengan penyaluran harian saat ini berarti tiap oulet hanya menjual 184 kg beras per hari.
Kalau penjualan harian tidak mungkin dilipatgandakan, untuk menaikkan 2x volume penyaluran operasi pasar berarti harus menambah outlet baru setara dengan yang ada saat ini. Menambah outlet baru sebesar itu tentu tidak mudah. Sementara waktu yang tersisa kian sempit.
Inilah konsekuensi logis dari operasi pasar yang bukan menyasar ke pasar. Inilah hasil dari operasi pasar yang tidak menggandeng pedagang di pasar grosir atau pasar induk, distributor, dan pedagang serta penggilingan.
Oleh karena itu, untuk kesekian kalinya diingatkan, pemerintah sebaiknya mengubah mekanisme operasi pasar. Agar volume penyaluran besar. Operasi pasar pada dasarnya mengguyur beras ke pedagang di pasar. Bukan menggandeng mitra guna melayani konsumen akhir seperti saat ini.
Karena mengguyur beras ke pedagang di pasar, indikator berhasil-tidaknya operasi pasar adalah ketersediaan dan harga beras di pasar. Kalau ketersediaan terbatas dan harga beras naik/tinggi, operasi pasar belum berhasil.
Operasi pasar, sesuai namanya, berarti menggunakan pasar sebagai piranti penting penyaluran. Ini didasarkan pada kenyataan bahwa integrasi pasar beras di Indonesia tinggi. Pasar beras di berbagai wilayah saling terkait satu sama lain.
Ini terutama tampak dari sisi harga. Integrasi pasar ditandai oleh keterkaitan harga antar pasar beras regional, baik pasar grosir maupun pasar eceran dalam jangka waktu panjang. Pergerakan harga antar waktu, tempat, dan pasar produsen-konsumen kian kompak.
Mudahkah itu dilakukan? Sayangnya, tidak. Terutama kalau pemerintah berkukuh hanya mengandalkan tujuh saluran seperti saat ini. Merujuk data BULOG pada 11 September 2025, jumlah mitra penyalur mencapai 31.477 unit.
Ini jumlah yang besar. Masalahnya, karena penyalur ini menyasar konsumen akhir membuat serapannya tidak besar. Dengan penyaluran harian saat ini berarti tiap oulet hanya menjual 184 kg beras per hari.
Kalau penjualan harian tidak mungkin dilipatgandakan, untuk menaikkan 2x volume penyaluran operasi pasar berarti harus menambah outlet baru setara dengan yang ada saat ini. Menambah outlet baru sebesar itu tentu tidak mudah. Sementara waktu yang tersisa kian sempit.
Inilah konsekuensi logis dari operasi pasar yang bukan menyasar ke pasar. Inilah hasil dari operasi pasar yang tidak menggandeng pedagang di pasar grosir atau pasar induk, distributor, dan pedagang serta penggilingan.
Oleh karena itu, untuk kesekian kalinya diingatkan, pemerintah sebaiknya mengubah mekanisme operasi pasar. Agar volume penyaluran besar. Operasi pasar pada dasarnya mengguyur beras ke pedagang di pasar. Bukan menggandeng mitra guna melayani konsumen akhir seperti saat ini.
Karena mengguyur beras ke pedagang di pasar, indikator berhasil-tidaknya operasi pasar adalah ketersediaan dan harga beras di pasar. Kalau ketersediaan terbatas dan harga beras naik/tinggi, operasi pasar belum berhasil.
Operasi pasar, sesuai namanya, berarti menggunakan pasar sebagai piranti penting penyaluran. Ini didasarkan pada kenyataan bahwa integrasi pasar beras di Indonesia tinggi. Pasar beras di berbagai wilayah saling terkait satu sama lain.
Ini terutama tampak dari sisi harga. Integrasi pasar ditandai oleh keterkaitan harga antar pasar beras regional, baik pasar grosir maupun pasar eceran dalam jangka waktu panjang. Pergerakan harga antar waktu, tempat, dan pasar produsen-konsumen kian kompak.