Merayakan Maulid Nabi, Merayakan Persaudaraan Manusia
Jum'at, 05 September 2025 - 10:47 WIB
loading...
A
A
A
Di Jayapura, di Indonesia perdebatan ini pernah mengemuka dan menimbulkan ketegangan antara kelompok salafi dan kelompok masyarakat Muslim yang merayakan Maulid Nabi. Menurut penulis, ketegangan ini mestinya melampaui poin yang lebih besar.
Sejatinya, perayaan Mawlid tidak saja mengenai tentang sejarah atau teologi. Ini tentang perayaan nilai-nilai. Nabi Muhammad lahir ke dunia pada tahun 570 M dalam masyarakat yang terpecah-belah oleh fanatisme suku, ketidaksetaraan ekonomi, dan ketidakpastian moral.
Sebagai seorang anak muda yatim piatu, dibesarkan tanpa hak istimewa, dia mengalami secara langsung rasa sakit dari marginalisasi. Kemudian, sebagai seorang nabi, dia berbicara mewakili mereka yang tidak memiliki suara: orang miskin, yang diperbudak, yang janda, yang tertindas.
Kepemimpinannya bukan tentang penaklukan atau kekuasaan untuk memperkaya kepentingannya sendiri, tetapi menempa komunitas (umat) melalui keadilan, belas kasihan, dan martabat. Nilai-nilai yang menguap pada pemimpin kita saat ini di berbagai bidang.
Pesan ini mestinya digemakan dengan sekencang-kencangnya hari ini. Di dunia yang dirundung perang, ketidaksetaraan yang tumbuh subur, para pemimpin yang sibuk memperkaya diri, dan krisis lingkungan, teladan Nabi menawarkan imajinasi alternatif kepemimpinan. Desakan pada kejujuran dalam perdagangan menantang sistem global yang dibangun di atas eksploitasi.
Penekanannya pada welas asih mendorong pemikiran ulang politik yang didominasi oleh perpecahan dan nafsu berkuasa. Penolakannya untuk merendahkan kemanusiaan bahkan musuh-musuhnya yang paling sengit menghadirkan etika radikal di era polarisasi dan kebencian di dunia.
Namun, kenyataannya acap Mawlid berisiko direduksi menjadi tontonan. Lampu, parade, dan upacara dapat menyilaukan, tetapi tidak boleh mengaburkan esensi Maulid Nabi.
Tantangan sebenarnya bukan terletak pada berapa banyak pengajian, pembacaan barazanji, pembacaan puisi puji-pujian atau seberapa besar perayaan itu, tetapi pada seberapa setia komunitas Muslim mewujudkan ajarannya dalam keseharian. Sudahkah kehadiran kita berguna atau membawa damai bagi manusia tanpa memandang latar belakang agams, suku dan bahasa?
Perayaan maulid Nabi seyogyanya melampaui ritual keagamaan. Ia berfungsi sebagai momen pemeriksaan diri kolektif. Merayakannya berarti Muslim bertanya seberapa jauh telah menyimpang dari kompas moralnya. Bagi negara-negara mayoritas Muslim, Mawlid dapat menginspirasi kebijakan yang didasarkan pada nilai-nilai keadilan—memperkuat jaring pengaman sosial, menegakkan hak asasi manusia, dan melindungi yang rentan.
Sejatinya, perayaan Mawlid tidak saja mengenai tentang sejarah atau teologi. Ini tentang perayaan nilai-nilai. Nabi Muhammad lahir ke dunia pada tahun 570 M dalam masyarakat yang terpecah-belah oleh fanatisme suku, ketidaksetaraan ekonomi, dan ketidakpastian moral.
Sebagai seorang anak muda yatim piatu, dibesarkan tanpa hak istimewa, dia mengalami secara langsung rasa sakit dari marginalisasi. Kemudian, sebagai seorang nabi, dia berbicara mewakili mereka yang tidak memiliki suara: orang miskin, yang diperbudak, yang janda, yang tertindas.
Kepemimpinannya bukan tentang penaklukan atau kekuasaan untuk memperkaya kepentingannya sendiri, tetapi menempa komunitas (umat) melalui keadilan, belas kasihan, dan martabat. Nilai-nilai yang menguap pada pemimpin kita saat ini di berbagai bidang.
Pesan ini mestinya digemakan dengan sekencang-kencangnya hari ini. Di dunia yang dirundung perang, ketidaksetaraan yang tumbuh subur, para pemimpin yang sibuk memperkaya diri, dan krisis lingkungan, teladan Nabi menawarkan imajinasi alternatif kepemimpinan. Desakan pada kejujuran dalam perdagangan menantang sistem global yang dibangun di atas eksploitasi.
Penekanannya pada welas asih mendorong pemikiran ulang politik yang didominasi oleh perpecahan dan nafsu berkuasa. Penolakannya untuk merendahkan kemanusiaan bahkan musuh-musuhnya yang paling sengit menghadirkan etika radikal di era polarisasi dan kebencian di dunia.
Namun, kenyataannya acap Mawlid berisiko direduksi menjadi tontonan. Lampu, parade, dan upacara dapat menyilaukan, tetapi tidak boleh mengaburkan esensi Maulid Nabi.
Tantangan sebenarnya bukan terletak pada berapa banyak pengajian, pembacaan barazanji, pembacaan puisi puji-pujian atau seberapa besar perayaan itu, tetapi pada seberapa setia komunitas Muslim mewujudkan ajarannya dalam keseharian. Sudahkah kehadiran kita berguna atau membawa damai bagi manusia tanpa memandang latar belakang agams, suku dan bahasa?
Perayaan maulid Nabi seyogyanya melampaui ritual keagamaan. Ia berfungsi sebagai momen pemeriksaan diri kolektif. Merayakannya berarti Muslim bertanya seberapa jauh telah menyimpang dari kompas moralnya. Bagi negara-negara mayoritas Muslim, Mawlid dapat menginspirasi kebijakan yang didasarkan pada nilai-nilai keadilan—memperkuat jaring pengaman sosial, menegakkan hak asasi manusia, dan melindungi yang rentan.
Lihat Juga :