Ujian Kepercayaan Presiden
Rabu, 18 Juni 2025 - 10:26 WIB
loading...
A
A
A
Belum reda soal tambang nikel di Raja Ampat, muncul lagi keputusan mendagri melalui Kepmendagri Nomor 300.2.2-2138 Tahun 2025 tentang Pemberian dan Pemutakhiran Kode serta Data Wilayah Administrasi Pemerintahan dan Pulau sehingga mengikis kepercayaan antarkepala daerah Aceh dan Sumatera Utara. Minimnya kepercayaan publik atas proses komunikasi pejabat Kemendagri memaksa Presiden mengambil alih penuh masalah ini.
Bertaruh Kepercayaan
Fakta menunjukkan bahwa negara maju memiliki masyarakat yang mempercayai satu sama lain (interpersonal trust) dan mempercayai pemerintahannya (institutional trust) high trust society. Kebalikannya, negara berkembang dikarakteristikkan sebagai low trust society.
Saatnya untuk mengembalikan kepercayaan rakyat. Karena "ketidakpercayaan" telah berlangsung begitu lama, jelas bukan perkara mudah. Menurut Francis Fukuyama, kepercayaan adalah keyakinan yang tumbuh di dalam sebuah masyarakat yang ditunjukkan oleh perilaku yang jujur, teratur, dan kerja sama yang didasarkan pada norma-norma yang dianut bersama. Kepercayaan sosial mengacu pada gagasan bahwa dalam masyarakat yang saling mempercayai, aturan sosial cenderung positif dan hubungan cenderung bekerja sama.
Pemerintahan Presiden Prabowo bisa saja berjalan pincang karena disibukkan dengan masalah domestik yang diakibatkan dari proses kebijakan dan komunikasi tak transparan. Ketegasan dan kepercayaan terkadang duduk terpisah namun, publik melihatnya harus segera diwujudkan. Dua masalah di awal bisa dijadikan poin kegagalan transformasi komunikasi dari jajaran kabinetnya.
Presiden bertanggung jawab kepada menteri. Setidaknya mereka dapat berkomunikasi. Pertama, kemampuan untuk menyampaikan pikiran Presiden, termasuk mengklarifikasi kemungkinan bias melalui analisis politik, ekonomi, dan keamanan. Kedua, kemampuan untuk mengelola konflik sehingga setiap musuh mendapatkan dukungan.
Peran ketiga berfungsi sebagai pedoman untuk pekerjaan birokrasi dan menanggapi semua kritik dengan melakukan pekerjaan pelayanan nyata. Keempat, memiliki kemampuan untuk mengubah perasaan Presiden menjadi inspirasi untuk komunikasi publik yang terus-menerus, daripada hanya menyuarakan perasaan Presiden. Harus diingat bahwa menjadi emosional saat menerima kritik terus-menerus dari presiden di ruang pribadi adalah sesuatu yang wajar.
Martabat Presiden
Presiden bermetamorfosis menjadi makhluk tafsir. Pada saat ini, segala tindakan dan perilaku presiden berfungsi sebagai sumber informasi, yang memungkinkan interpretasi. Di sini, ucapan presiden telah melampaui batas-batas politik. Menurut John Fiske (1990), komunikasi presiden telah berkembang dari komunikasi praksis-politik ke ranah signifikansi.
Bertaruh Kepercayaan
Fakta menunjukkan bahwa negara maju memiliki masyarakat yang mempercayai satu sama lain (interpersonal trust) dan mempercayai pemerintahannya (institutional trust) high trust society. Kebalikannya, negara berkembang dikarakteristikkan sebagai low trust society.
Saatnya untuk mengembalikan kepercayaan rakyat. Karena "ketidakpercayaan" telah berlangsung begitu lama, jelas bukan perkara mudah. Menurut Francis Fukuyama, kepercayaan adalah keyakinan yang tumbuh di dalam sebuah masyarakat yang ditunjukkan oleh perilaku yang jujur, teratur, dan kerja sama yang didasarkan pada norma-norma yang dianut bersama. Kepercayaan sosial mengacu pada gagasan bahwa dalam masyarakat yang saling mempercayai, aturan sosial cenderung positif dan hubungan cenderung bekerja sama.
Pemerintahan Presiden Prabowo bisa saja berjalan pincang karena disibukkan dengan masalah domestik yang diakibatkan dari proses kebijakan dan komunikasi tak transparan. Ketegasan dan kepercayaan terkadang duduk terpisah namun, publik melihatnya harus segera diwujudkan. Dua masalah di awal bisa dijadikan poin kegagalan transformasi komunikasi dari jajaran kabinetnya.
Presiden bertanggung jawab kepada menteri. Setidaknya mereka dapat berkomunikasi. Pertama, kemampuan untuk menyampaikan pikiran Presiden, termasuk mengklarifikasi kemungkinan bias melalui analisis politik, ekonomi, dan keamanan. Kedua, kemampuan untuk mengelola konflik sehingga setiap musuh mendapatkan dukungan.
Peran ketiga berfungsi sebagai pedoman untuk pekerjaan birokrasi dan menanggapi semua kritik dengan melakukan pekerjaan pelayanan nyata. Keempat, memiliki kemampuan untuk mengubah perasaan Presiden menjadi inspirasi untuk komunikasi publik yang terus-menerus, daripada hanya menyuarakan perasaan Presiden. Harus diingat bahwa menjadi emosional saat menerima kritik terus-menerus dari presiden di ruang pribadi adalah sesuatu yang wajar.
Martabat Presiden
Presiden bermetamorfosis menjadi makhluk tafsir. Pada saat ini, segala tindakan dan perilaku presiden berfungsi sebagai sumber informasi, yang memungkinkan interpretasi. Di sini, ucapan presiden telah melampaui batas-batas politik. Menurut John Fiske (1990), komunikasi presiden telah berkembang dari komunikasi praksis-politik ke ranah signifikansi.