Lampaui Batas Negara: Soft Diplomacy Mengakar di Gelar Melayu Serumpun
Selasa, 27 Mei 2025 - 16:01 WIB
loading...
A
A
A
Pada masa Kesultanan Deli dan Kesultanan Serdang, Medan dan wilayah sekitarnya menjadi bagian dari jaringan budaya Melayu yang terhubung erat dengan kerajaan-kerajaan di Semenanjung Melayu. Hubungan ini masih hidup hingga kini dalam bentuk bahasa, kuliner, musik, dan nilai adat yang terus diwariskan.
Medan bukan kota Melayu dalam arti sempit, tetapi kota kosmopolitan dengan warisan Melayu yang kuat. Dari arsitektur Istana Maimun yang anggun, Masjid Raya Al-Mashun, hingga kawasan Kampung Madras dan Kesawan, budaya Melayu tumbuh berdampingan dengan pengaruh Arab, India, Tionghoa, Batak, dan Eropa.
Keragaman ini tidak melemahkan identitas, justru memperkaya praktik budaya yang inklusif. Dalam konteks diplomasi budaya, ini adalah modal sosial yang sangat bernilai: kemampuan untuk menjadi tuan rumah yang terbuka, toleran, dan mampu merangkul keragaman.
Dalam beberapa tahun terakhir, Medan semakin giat menjadi tuan rumah kegiatan budaya internasional, salah satunya Gelar Melayu Serumpun, yang kini telah memasuki edisi ke-8. Festival ini mempertemukan delegasi dari Indonesia, Malaysia, Brunei, Thailand hingga India serta komunitas Melayu diaspora, dalam suasana persaudaraan lintas batas.
Melalui forum seni, pertunjukan budaya, dan dialog lintas generasi, Medan memainkan peran sebagai mediator antar komunitas yang pernah satu akar dan kini berusaha menemukan kembali titik temu identitasnya.
Soft Diplomacy, seperti dikemukakan oleh Joseph Nye—adalah kemampuan suatu negara atau daerah untuk memengaruhi kawasan lain melalui daya tarik budaya.
Dalam konteks ini, Medan menawarkan authenticity: budaya yang hidup dan otentik, bukan sekadar pertunjukan wisata; connectivity: keterhubungan sejarah dan emosional dengan kawasan Melayu di Kawasan, inclusivity: kemampuan merangkul keragaman etnis dan keyakinan
Ketiganya menjadikan Medan bukan sekadar lokasi festival, tetapi aktor budaya aktif dalam memajukan kerja sama kawasan secara damai dan berkelanjutan.
Kembali ke Gelar Melayu Serumpun, ketika batas negara menjadi semakin tegas, dan hubungan diplomatik antarnegara kerap diuji oleh politik dan ekonomi, budaya hadir sebagai jembatan yang lembut namun kuat.
Itulah yang tampak nyata pada Gelar Melayu Serumpun ke-8, suatu festival budaya yang bukan hanya merayakan seni tradisional, tetapi juga mempererat diplomasi lintas batas melalui kekuatan budaya.
Medan bukan kota Melayu dalam arti sempit, tetapi kota kosmopolitan dengan warisan Melayu yang kuat. Dari arsitektur Istana Maimun yang anggun, Masjid Raya Al-Mashun, hingga kawasan Kampung Madras dan Kesawan, budaya Melayu tumbuh berdampingan dengan pengaruh Arab, India, Tionghoa, Batak, dan Eropa.
Keragaman ini tidak melemahkan identitas, justru memperkaya praktik budaya yang inklusif. Dalam konteks diplomasi budaya, ini adalah modal sosial yang sangat bernilai: kemampuan untuk menjadi tuan rumah yang terbuka, toleran, dan mampu merangkul keragaman.
Dalam beberapa tahun terakhir, Medan semakin giat menjadi tuan rumah kegiatan budaya internasional, salah satunya Gelar Melayu Serumpun, yang kini telah memasuki edisi ke-8. Festival ini mempertemukan delegasi dari Indonesia, Malaysia, Brunei, Thailand hingga India serta komunitas Melayu diaspora, dalam suasana persaudaraan lintas batas.
Melalui forum seni, pertunjukan budaya, dan dialog lintas generasi, Medan memainkan peran sebagai mediator antar komunitas yang pernah satu akar dan kini berusaha menemukan kembali titik temu identitasnya.
Soft Diplomacy, seperti dikemukakan oleh Joseph Nye—adalah kemampuan suatu negara atau daerah untuk memengaruhi kawasan lain melalui daya tarik budaya.
Dalam konteks ini, Medan menawarkan authenticity: budaya yang hidup dan otentik, bukan sekadar pertunjukan wisata; connectivity: keterhubungan sejarah dan emosional dengan kawasan Melayu di Kawasan, inclusivity: kemampuan merangkul keragaman etnis dan keyakinan
Ketiganya menjadikan Medan bukan sekadar lokasi festival, tetapi aktor budaya aktif dalam memajukan kerja sama kawasan secara damai dan berkelanjutan.
Kembali ke Gelar Melayu Serumpun, ketika batas negara menjadi semakin tegas, dan hubungan diplomatik antarnegara kerap diuji oleh politik dan ekonomi, budaya hadir sebagai jembatan yang lembut namun kuat.
Itulah yang tampak nyata pada Gelar Melayu Serumpun ke-8, suatu festival budaya yang bukan hanya merayakan seni tradisional, tetapi juga mempererat diplomasi lintas batas melalui kekuatan budaya.
(shf)
Lihat Juga :