Lampaui Batas Negara: Soft Diplomacy Mengakar di Gelar Melayu Serumpun
Selasa, 27 Mei 2025 - 16:01 WIB
loading...
Hanna F Fauzie, Jurnalis, Pemerhati Isu Internasional, Pecinta Sepak Bola. Foto/Dok.Pribadi
A
A
A
Hanna F Fauzie
Jurnalis, Pemerhati Isu Internasional, Pecinta Sepak Bola
GELAR Melayu Serumpun menjadi contoh nyata kolaborasi budaya bisa mempererat kepercayaan antaranegara—people to people diplomacy yang tak tertulis dalam perjanjian, tapi terpatri dalam relung batin.
Di tengah panggung megah Istana Maimun yang sarat sejarah, suara alat musik gambus dan lenggak-lenggok tarian zapin mewarnai Kota Medan pada 21–24 Mei 2025. Gelar Melayu Serumpun ke-8 bukan sekadar pertunjukan seni.
Selama empat hari, pengunjung disuguhi beragam penampilan seperti tari Zapin, Dabus, Mak Yong, musik Gambus, hingga peragaan busana dan kuliner khas Melayu. Namun, yang lebih penting adalah momen di balik layar: ketika seniman dari berbagai negara berdiskusi, saling belajar, dan merancang kolaborasi jangka panjang.
Di sinilah soft diplomacy bekerja: tanpa tekanan politik, tanpa protokol kaku, hanya dengan kesamaan nilai dan kebersamaan. Tidak ada meja negosiasi, tapi ada lingkaran pertunjukan, meja makan bersama, dan tawa akrab antar generasi.
Melayu Serumpun, sebagaimana namanya, menyiratkan bahwa meski tersebar di berbagai wilayah—Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, hingga sebagian Thailand dan Filipina—komunitas ini memiliki akar yang sama: bahasa, adat, nilai spiritual, dan ekspresi seni. Bahkan, India pun turut serta dalam gelaran ini.
Festival ini pun menjadi ruang aman bagi generasi muda untuk kembali mengenal jati dirinya. Banyak di antara mereka yang lahir dan tumbuh di kota-kota besar, jauh dari tradisi. Di Medan, mereka merasakan kembali denyut budaya leluhur.
Gelar Melayu Serumpun, menjadi simbol penting dari apa yang diungkapkan Joseph Nye (2004). Soft diplomacy merupakan kekuatan untuk memengaruhi dan membangun hubungan internasional bukan melalui kekuatan militer atau ekonomi, melainkan melalui budaya, nilai, dan daya tarik.
Dalam bukunya Soft Power: The Means to Success in World Politics (2004), Nye menjelaskan soft diplomacy adalah “kemampuan suatu negara untuk mendapatkan apa yang diinginkan melalui daya tarik alih-alih paksaan.” Budaya—baik dalam bentuk seni, bahasa, kuliner, atau nilai sosial—menjadi instrumen utama untuk menumbuhkan kepercayaan dan kerja sama antarnegara.
Festival Melayu Serumpun 2025 secara sempurna menerjemahkan prinsip ini. Melibatkan delegasi budaya dari 29 wilayah, termasuk negara tetangga seperti Malaysia (Johor, Selangor, Ipoh, Sarawak), Thailand, Brunei, hingga India dan berbagai provinsi di Indonesia, acara ini membangun ikatan lintas batas dengan kekuatan budaya yang hidup dan otentik.
Geoffrey Cowan dalam The New Public Diplomacy (2005) menekankan pentingnya cultural diplomacy sebagai alat hubungan luar negeri suatu negara, termasuk melalui festival dan pertukaran budaya.
Wilayah Asia Tenggara adalah kawasan multikultural yang sering kali menghadapi tantangan geopolitik, sengketa batas, dan dinamika diplomatik.
Namun, di atas semua itu, ada benang merah sejarah dan budaya yang menyatukan: peradaban Melayu adalah salah satunya. Bahasa serumpun, agama, sistem nilai, dan warisan tradisional menjadi modal sosial yang dapat diperkuat untuk mempererat kohesi kawasan.
Melissen (2005) menyoroti peran budaya sebagai alat dalam diplomasi modern. Diplomasi publik modern mencakup kegiatan budaya yang membangun hubungan dengan masyarakat asing secara langsung.
Melalui Gelar Melayu Serumpun, diplomasi antar masyarakat (people-to-people diplomacy) terjadi secara alami. Penari dari Johor berlatih bersama seniman muda dari Tanjungbalai, sementara pelajar dari Medan dan Ipoh menampilkan puisi kolaboratif bertema identitas dan perubahan zaman.
Bagi Nye, soft diplomacy akan berfungsi secara efektif ketika daya tarik budaya bersifat otentik dan tidak dipaksakan. Gelar Melayu Serumpun menampilkan budaya asli komunitas, bukan representasi artifisial yang dibuat untuk kepentingan pariwisata semata. Setiap penampilan mengandung makna sejarah dan spiritualitas.
Lalu, adanya hubungan timbal balik, bukan dominasi. Bisa dilihat pada pagelaran Festival Melayu Serumpun delegasi dari berbagai negara setara di atas panggung. Tak ada negara yang lebih diutamakan; semua memiliki ruang yang sama untuk menampilkan identitas.
Nye melanjutkan, event budaya yang mampu memengaruhi opini publik dan membentuk persepsi jangka panjang. Ini artinya, festival bukan hanya ditujukan bagi tamu resmi, tapi terbuka untuk masyarakat umum, terutama generasi muda. Di sinilah efek jangka panjang dibangun.
Peran Istana Maimun sebagai faktor penting diplomasi sangat nyata. Cummings mendefinisikan cultural diplomacy sebagai pertukaran ide, informasi, seni, dan aspek budaya lainnya antarbangsa dan antar masyarakat guna memperkuat saling pengertian (2003).
Ketika seorang anak dari Selangor dan seorang pemuda dari Rokan Hilir berlatih tarian yang sama, memakai busana yang sama, dan saling tertawa saat belajar pantun bersama, itulah bentuk diplomasi paling murni: diplomasi yang lahir dari hati, bukan agenda.
Di tengah riuh dunia, Gelar Melayu Serumpun mengingatkan kita bahwa budaya adalah bahasa perdamaian paling tua, dan mungkin yang paling efektif. Diplomasi ini tidak membentak, tidak mengancam, hanya mengajak: mari duduk bersama, mari menari bersama, mari mengenang siapa kita—agar tahu ke mana kita akan melangkah.
Pemilihan Istana Maimun sebagai lokasi bukan kebetulan. Kota Medan, yang dulunya pelabuhan penting di dunia Melayu, kini memperkuat kembali posisinya sebagai pusat budaya regional.
Medan, tidak hanya dikenal sebagai pusat ekonomi dan perdagangan terbesar di Pulau Sumatera, tetapi juga perlahan menjelma menjadi simpul penting dalam jaringan diplomasi budaya regional. Posisi strategis Medan, ditambah dengan kekayaan sejarah dan warisan budayanya, membuat kota ini memiliki potensi luar biasa sebagai pusat diplomasi budaya—ruang pertemuan antarbangsa melalui ekspresi seni, tradisi, dan nilai-nilai bersama.
Medan terletak di ujung utara Sumatera, menghadap langsung ke Selat Malaka—jalur perdagangan laut tersibuk kedua di dunia—yang menghubungkan Indonesia dengan Malaysia, Singapura, dan kawasan Asia Tenggara lainnya. Jalur ini telah menjadi nadi mobilitas budaya sejak ratusan tahun lalu.
Pada masa Kesultanan Deli dan Kesultanan Serdang, Medan dan wilayah sekitarnya menjadi bagian dari jaringan budaya Melayu yang terhubung erat dengan kerajaan-kerajaan di Semenanjung Melayu. Hubungan ini masih hidup hingga kini dalam bentuk bahasa, kuliner, musik, dan nilai adat yang terus diwariskan.
Medan bukan kota Melayu dalam arti sempit, tetapi kota kosmopolitan dengan warisan Melayu yang kuat. Dari arsitektur Istana Maimun yang anggun, Masjid Raya Al-Mashun, hingga kawasan Kampung Madras dan Kesawan, budaya Melayu tumbuh berdampingan dengan pengaruh Arab, India, Tionghoa, Batak, dan Eropa.
Keragaman ini tidak melemahkan identitas, justru memperkaya praktik budaya yang inklusif. Dalam konteks diplomasi budaya, ini adalah modal sosial yang sangat bernilai: kemampuan untuk menjadi tuan rumah yang terbuka, toleran, dan mampu merangkul keragaman.
Dalam beberapa tahun terakhir, Medan semakin giat menjadi tuan rumah kegiatan budaya internasional, salah satunya Gelar Melayu Serumpun, yang kini telah memasuki edisi ke-8. Festival ini mempertemukan delegasi dari Indonesia, Malaysia, Brunei, Thailand hingga India serta komunitas Melayu diaspora, dalam suasana persaudaraan lintas batas.
Melalui forum seni, pertunjukan budaya, dan dialog lintas generasi, Medan memainkan peran sebagai mediator antar komunitas yang pernah satu akar dan kini berusaha menemukan kembali titik temu identitasnya.
Soft Diplomacy, seperti dikemukakan oleh Joseph Nye—adalah kemampuan suatu negara atau daerah untuk memengaruhi kawasan lain melalui daya tarik budaya.
Dalam konteks ini, Medan menawarkan authenticity: budaya yang hidup dan otentik, bukan sekadar pertunjukan wisata; connectivity: keterhubungan sejarah dan emosional dengan kawasan Melayu di Kawasan, inclusivity: kemampuan merangkul keragaman etnis dan keyakinan
Ketiganya menjadikan Medan bukan sekadar lokasi festival, tetapi aktor budaya aktif dalam memajukan kerja sama kawasan secara damai dan berkelanjutan.
Kembali ke Gelar Melayu Serumpun, ketika batas negara menjadi semakin tegas, dan hubungan diplomatik antarnegara kerap diuji oleh politik dan ekonomi, budaya hadir sebagai jembatan yang lembut namun kuat.
Itulah yang tampak nyata pada Gelar Melayu Serumpun ke-8, suatu festival budaya yang bukan hanya merayakan seni tradisional, tetapi juga mempererat diplomasi lintas batas melalui kekuatan budaya.
Jurnalis, Pemerhati Isu Internasional, Pecinta Sepak Bola
GELAR Melayu Serumpun menjadi contoh nyata kolaborasi budaya bisa mempererat kepercayaan antaranegara—people to people diplomacy yang tak tertulis dalam perjanjian, tapi terpatri dalam relung batin.
Di tengah panggung megah Istana Maimun yang sarat sejarah, suara alat musik gambus dan lenggak-lenggok tarian zapin mewarnai Kota Medan pada 21–24 Mei 2025. Gelar Melayu Serumpun ke-8 bukan sekadar pertunjukan seni.
Selama empat hari, pengunjung disuguhi beragam penampilan seperti tari Zapin, Dabus, Mak Yong, musik Gambus, hingga peragaan busana dan kuliner khas Melayu. Namun, yang lebih penting adalah momen di balik layar: ketika seniman dari berbagai negara berdiskusi, saling belajar, dan merancang kolaborasi jangka panjang.
Di sinilah soft diplomacy bekerja: tanpa tekanan politik, tanpa protokol kaku, hanya dengan kesamaan nilai dan kebersamaan. Tidak ada meja negosiasi, tapi ada lingkaran pertunjukan, meja makan bersama, dan tawa akrab antar generasi.
Melayu Serumpun, sebagaimana namanya, menyiratkan bahwa meski tersebar di berbagai wilayah—Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, hingga sebagian Thailand dan Filipina—komunitas ini memiliki akar yang sama: bahasa, adat, nilai spiritual, dan ekspresi seni. Bahkan, India pun turut serta dalam gelaran ini.
Festival ini pun menjadi ruang aman bagi generasi muda untuk kembali mengenal jati dirinya. Banyak di antara mereka yang lahir dan tumbuh di kota-kota besar, jauh dari tradisi. Di Medan, mereka merasakan kembali denyut budaya leluhur.
Gelar Melayu Serumpun, menjadi simbol penting dari apa yang diungkapkan Joseph Nye (2004). Soft diplomacy merupakan kekuatan untuk memengaruhi dan membangun hubungan internasional bukan melalui kekuatan militer atau ekonomi, melainkan melalui budaya, nilai, dan daya tarik.
Relevansi Soft Power
Dalam bukunya Soft Power: The Means to Success in World Politics (2004), Nye menjelaskan soft diplomacy adalah “kemampuan suatu negara untuk mendapatkan apa yang diinginkan melalui daya tarik alih-alih paksaan.” Budaya—baik dalam bentuk seni, bahasa, kuliner, atau nilai sosial—menjadi instrumen utama untuk menumbuhkan kepercayaan dan kerja sama antarnegara.
Festival Melayu Serumpun 2025 secara sempurna menerjemahkan prinsip ini. Melibatkan delegasi budaya dari 29 wilayah, termasuk negara tetangga seperti Malaysia (Johor, Selangor, Ipoh, Sarawak), Thailand, Brunei, hingga India dan berbagai provinsi di Indonesia, acara ini membangun ikatan lintas batas dengan kekuatan budaya yang hidup dan otentik.
Geoffrey Cowan dalam The New Public Diplomacy (2005) menekankan pentingnya cultural diplomacy sebagai alat hubungan luar negeri suatu negara, termasuk melalui festival dan pertukaran budaya.
Wilayah Asia Tenggara adalah kawasan multikultural yang sering kali menghadapi tantangan geopolitik, sengketa batas, dan dinamika diplomatik.
Namun, di atas semua itu, ada benang merah sejarah dan budaya yang menyatukan: peradaban Melayu adalah salah satunya. Bahasa serumpun, agama, sistem nilai, dan warisan tradisional menjadi modal sosial yang dapat diperkuat untuk mempererat kohesi kawasan.
Melissen (2005) menyoroti peran budaya sebagai alat dalam diplomasi modern. Diplomasi publik modern mencakup kegiatan budaya yang membangun hubungan dengan masyarakat asing secara langsung.
Melalui Gelar Melayu Serumpun, diplomasi antar masyarakat (people-to-people diplomacy) terjadi secara alami. Penari dari Johor berlatih bersama seniman muda dari Tanjungbalai, sementara pelajar dari Medan dan Ipoh menampilkan puisi kolaboratif bertema identitas dan perubahan zaman.
Bagi Nye, soft diplomacy akan berfungsi secara efektif ketika daya tarik budaya bersifat otentik dan tidak dipaksakan. Gelar Melayu Serumpun menampilkan budaya asli komunitas, bukan representasi artifisial yang dibuat untuk kepentingan pariwisata semata. Setiap penampilan mengandung makna sejarah dan spiritualitas.
Lalu, adanya hubungan timbal balik, bukan dominasi. Bisa dilihat pada pagelaran Festival Melayu Serumpun delegasi dari berbagai negara setara di atas panggung. Tak ada negara yang lebih diutamakan; semua memiliki ruang yang sama untuk menampilkan identitas.
Nye melanjutkan, event budaya yang mampu memengaruhi opini publik dan membentuk persepsi jangka panjang. Ini artinya, festival bukan hanya ditujukan bagi tamu resmi, tapi terbuka untuk masyarakat umum, terutama generasi muda. Di sinilah efek jangka panjang dibangun.
Istana Maimun: Simbol, Ruang, dan Makna
Istana Maimun bukan sekadar latar artistik Gelar Melayu Serumpun. Istana ini adalah simbol keberadaan Melayu Deli yang multikultural. Dibangun pada akhir abad ke-19, arsitekturnya memadukan unsur Islam, Eropa, dan India. Hari ini, ia menjadi ruang sakral tempat budaya hidup kembali bukan dalam museum, tetapi dalam gerak dan suara.Peran Istana Maimun sebagai faktor penting diplomasi sangat nyata. Cummings mendefinisikan cultural diplomacy sebagai pertukaran ide, informasi, seni, dan aspek budaya lainnya antarbangsa dan antar masyarakat guna memperkuat saling pengertian (2003).
Ketika seorang anak dari Selangor dan seorang pemuda dari Rokan Hilir berlatih tarian yang sama, memakai busana yang sama, dan saling tertawa saat belajar pantun bersama, itulah bentuk diplomasi paling murni: diplomasi yang lahir dari hati, bukan agenda.
Di tengah riuh dunia, Gelar Melayu Serumpun mengingatkan kita bahwa budaya adalah bahasa perdamaian paling tua, dan mungkin yang paling efektif. Diplomasi ini tidak membentak, tidak mengancam, hanya mengajak: mari duduk bersama, mari menari bersama, mari mengenang siapa kita—agar tahu ke mana kita akan melangkah.
Medan sebagai Pusat Diplomasi Budaya Kawasan
Letak geografis Medan yang strategis di utara Sumatera dan kedekatannya secara historis dengan Semenanjung Melayu menjadikannya lokasi ideal untuk membangun jembatan diplomasi budaya. Istana Maimun, sebagai warisan Kesultanan Deli, menjadi bukan hanya panggung, tetapi juga simbol dari keberagaman yang bersatu dalam bingkai Melayu.Pemilihan Istana Maimun sebagai lokasi bukan kebetulan. Kota Medan, yang dulunya pelabuhan penting di dunia Melayu, kini memperkuat kembali posisinya sebagai pusat budaya regional.
Medan, tidak hanya dikenal sebagai pusat ekonomi dan perdagangan terbesar di Pulau Sumatera, tetapi juga perlahan menjelma menjadi simpul penting dalam jaringan diplomasi budaya regional. Posisi strategis Medan, ditambah dengan kekayaan sejarah dan warisan budayanya, membuat kota ini memiliki potensi luar biasa sebagai pusat diplomasi budaya—ruang pertemuan antarbangsa melalui ekspresi seni, tradisi, dan nilai-nilai bersama.
Medan terletak di ujung utara Sumatera, menghadap langsung ke Selat Malaka—jalur perdagangan laut tersibuk kedua di dunia—yang menghubungkan Indonesia dengan Malaysia, Singapura, dan kawasan Asia Tenggara lainnya. Jalur ini telah menjadi nadi mobilitas budaya sejak ratusan tahun lalu.
Pada masa Kesultanan Deli dan Kesultanan Serdang, Medan dan wilayah sekitarnya menjadi bagian dari jaringan budaya Melayu yang terhubung erat dengan kerajaan-kerajaan di Semenanjung Melayu. Hubungan ini masih hidup hingga kini dalam bentuk bahasa, kuliner, musik, dan nilai adat yang terus diwariskan.
Medan bukan kota Melayu dalam arti sempit, tetapi kota kosmopolitan dengan warisan Melayu yang kuat. Dari arsitektur Istana Maimun yang anggun, Masjid Raya Al-Mashun, hingga kawasan Kampung Madras dan Kesawan, budaya Melayu tumbuh berdampingan dengan pengaruh Arab, India, Tionghoa, Batak, dan Eropa.
Keragaman ini tidak melemahkan identitas, justru memperkaya praktik budaya yang inklusif. Dalam konteks diplomasi budaya, ini adalah modal sosial yang sangat bernilai: kemampuan untuk menjadi tuan rumah yang terbuka, toleran, dan mampu merangkul keragaman.
Dalam beberapa tahun terakhir, Medan semakin giat menjadi tuan rumah kegiatan budaya internasional, salah satunya Gelar Melayu Serumpun, yang kini telah memasuki edisi ke-8. Festival ini mempertemukan delegasi dari Indonesia, Malaysia, Brunei, Thailand hingga India serta komunitas Melayu diaspora, dalam suasana persaudaraan lintas batas.
Melalui forum seni, pertunjukan budaya, dan dialog lintas generasi, Medan memainkan peran sebagai mediator antar komunitas yang pernah satu akar dan kini berusaha menemukan kembali titik temu identitasnya.
Soft Diplomacy, seperti dikemukakan oleh Joseph Nye—adalah kemampuan suatu negara atau daerah untuk memengaruhi kawasan lain melalui daya tarik budaya.
Dalam konteks ini, Medan menawarkan authenticity: budaya yang hidup dan otentik, bukan sekadar pertunjukan wisata; connectivity: keterhubungan sejarah dan emosional dengan kawasan Melayu di Kawasan, inclusivity: kemampuan merangkul keragaman etnis dan keyakinan
Ketiganya menjadikan Medan bukan sekadar lokasi festival, tetapi aktor budaya aktif dalam memajukan kerja sama kawasan secara damai dan berkelanjutan.
Kembali ke Gelar Melayu Serumpun, ketika batas negara menjadi semakin tegas, dan hubungan diplomatik antarnegara kerap diuji oleh politik dan ekonomi, budaya hadir sebagai jembatan yang lembut namun kuat.
Itulah yang tampak nyata pada Gelar Melayu Serumpun ke-8, suatu festival budaya yang bukan hanya merayakan seni tradisional, tetapi juga mempererat diplomasi lintas batas melalui kekuatan budaya.
(shf)
Lihat Juga :