Menakar Kans Jokowi Kembali ke Politik melalui PSI
Jum'at, 16 Mei 2025 - 12:56 WIB
loading...
A
A
A
“Dan kalau perlu Gibran dan Kaesang jadi ketum-ketum parpol, kan justru itu menguntungkan Pak Jokowi. Jadi enggak usah dia secara langsung ada di parpol,” pungkasnya.
Sementara itu, Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis Agung Baskoro menilai kemungkinan Jokowi maju dalam pemilihan calon ketum PSI mengemuka menimbang sampai sekarang.
“Ia belum memiliki kendaraan politik untuk menopang pengaruh dan menjaga legacy pemerintahannya selama 2 periode silam sebagaimana Mega dan SBY,” tutur Agung dihubungi terpisah.
Agung menuturkan, relevansi realitas politik itu semakin menemui momentum bila kini, Jokowi dan keluarga intensif menerima serangan bertubi-tubi dari berbagai arah sebagai ekses kepemimpinannya sekaligus residu Pilpres 2024.
Pada bagian lain, kata dia, PSI secara institusional juga membutuhkan sosok kuat agar bisa lolos parliamentary threshold atau ambang batas parlemen. “Di fase ini, pertanyaan mendasar muncul, apakah Jokowi tertarik menimbang beragam kepentingan politik dirinya yang berkelindan dengan kebutuhan PSI?” ungkapnya.
“Minusnya, Jokowi menjadi ‘milik PSI’, bukan lagi milik semua dan dalam jangka panjang,” tambahnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, bila PSI tak mentransformasi cepat magnet figur Jokowi ke dalam sistem kepartaian dikhawatirkan akan over-dependent alias terlalu bergantung kepada sosoknya. “Padahal, fungsi-fungsi partai untuk menghadirkan sosok-sosok baru melalui rekrutmen, kaderisasi, seleksi, dan seterusnya harus berjalan,” pungkasnya.
Sementara itu, Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis Agung Baskoro menilai kemungkinan Jokowi maju dalam pemilihan calon ketum PSI mengemuka menimbang sampai sekarang.
“Ia belum memiliki kendaraan politik untuk menopang pengaruh dan menjaga legacy pemerintahannya selama 2 periode silam sebagaimana Mega dan SBY,” tutur Agung dihubungi terpisah.
Agung menuturkan, relevansi realitas politik itu semakin menemui momentum bila kini, Jokowi dan keluarga intensif menerima serangan bertubi-tubi dari berbagai arah sebagai ekses kepemimpinannya sekaligus residu Pilpres 2024.
Pada bagian lain, kata dia, PSI secara institusional juga membutuhkan sosok kuat agar bisa lolos parliamentary threshold atau ambang batas parlemen. “Di fase ini, pertanyaan mendasar muncul, apakah Jokowi tertarik menimbang beragam kepentingan politik dirinya yang berkelindan dengan kebutuhan PSI?” ungkapnya.
“Minusnya, Jokowi menjadi ‘milik PSI’, bukan lagi milik semua dan dalam jangka panjang,” tambahnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, bila PSI tak mentransformasi cepat magnet figur Jokowi ke dalam sistem kepartaian dikhawatirkan akan over-dependent alias terlalu bergantung kepada sosoknya. “Padahal, fungsi-fungsi partai untuk menghadirkan sosok-sosok baru melalui rekrutmen, kaderisasi, seleksi, dan seterusnya harus berjalan,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :