Menggaungkan Mazhab Ciputat ke Ruang Publik
Sabtu, 10 Mei 2025 - 23:07 WIB
loading...
A
A
A
Zezen menekankan pentingnya menjaga independensi dan otonomi akademik dalam sistem pendidikan tinggi Indonesia. Dia menilai selama kampus masih berada di bawah kendali kekuasaan, mustahil bagi ilmu pengetahuan dan dinamika intelektual untuk tumbuh dan berkembang.
Saat mengawali orasinya, Zezen mengangkat contoh sejarah penting dari dunia pendidikan tinggi global. Dia menyebut Method College yang berdiri pada 1259 di Eropa sebagai institusi yang meniru model universitas Islam seperti Al-Qarawiyyin di Fes, Maroko, yang sudah berdiri ratusan tahun sebelumnya.
"Method College dan Oxford berdiri 300 hingga 400 tahun setelah universitas-universitas Islam seperti Al-Qarawiyyin. Mereka meniru model kampus-kampus di dunia Islam yang saat itu berada di bawah kekhalifahan. Dan satu ciri khas dari model tersebut adalah independensi akademik," ujar Zezen di hadapan para alumni dan kader HMI.
Menurut Zezen, warisan pendidikan Islam tidak hanya berhenti pada aspek keilmuan, tetapi juga pada tata kelola kampus yang memberikan ruang kebebasan berpikir dan kebebasan akademik. Hal ini, katanya, menjadi faktor kunci kemajuan banyak kampus besar di dunia.
"Kampus-kampus top dunia seperti di Amerika memiliki sistem trust fund yang kuat. Di sana, profesor menjadi profesor bukan karena ditunjuk menteri, tetapi karena penilaian sejawat. Mereka lulus bukan oleh kekuasaan, tapi oleh komunitas akademik. Inilah makna independensi," jelas Zezen.
Baca Juga: Halalbihalal KAHMI-HMI Cabang Ciputat 2025, Merawat Pemikiran Islam Inklusif dan Moderat
Zezen lalu mengajak para kader HMI, khususnya di Ciputat, untuk merenungkan kondisi pendidikan tinggi di Indonesia. Dirinya menilai bahwa salah satu sebab merosotnya kualitas akademik di berbagai kampus adalah karena tidak adanya otonomi yang sejati.
"Kalau HMI Ciputat ingin kembali keren, dan kampus-kampus kita ingin kembali menjadi pusat keilmuan yang bergengsi, maka ada dua syarat yang mutlak: kampus harus independen dan otonom," ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan tidak akan pernah bisa berkembang jika institusi yang mengembangkannya tunduk pada logika kekuasaan.
"Prinsip kekuasaan adalah mencari kuasa dan kepentingan. Sementara prinsip ilmu adalah mencari kebenaran dan pengetahuan. Kalau kampus dikendalikan kekuasaan, maka ia akan terkooptasi dan menyimpang dari tujuannya."
Saat mengawali orasinya, Zezen mengangkat contoh sejarah penting dari dunia pendidikan tinggi global. Dia menyebut Method College yang berdiri pada 1259 di Eropa sebagai institusi yang meniru model universitas Islam seperti Al-Qarawiyyin di Fes, Maroko, yang sudah berdiri ratusan tahun sebelumnya.
"Method College dan Oxford berdiri 300 hingga 400 tahun setelah universitas-universitas Islam seperti Al-Qarawiyyin. Mereka meniru model kampus-kampus di dunia Islam yang saat itu berada di bawah kekhalifahan. Dan satu ciri khas dari model tersebut adalah independensi akademik," ujar Zezen di hadapan para alumni dan kader HMI.
Menurut Zezen, warisan pendidikan Islam tidak hanya berhenti pada aspek keilmuan, tetapi juga pada tata kelola kampus yang memberikan ruang kebebasan berpikir dan kebebasan akademik. Hal ini, katanya, menjadi faktor kunci kemajuan banyak kampus besar di dunia.
"Kampus-kampus top dunia seperti di Amerika memiliki sistem trust fund yang kuat. Di sana, profesor menjadi profesor bukan karena ditunjuk menteri, tetapi karena penilaian sejawat. Mereka lulus bukan oleh kekuasaan, tapi oleh komunitas akademik. Inilah makna independensi," jelas Zezen.
Baca Juga: Halalbihalal KAHMI-HMI Cabang Ciputat 2025, Merawat Pemikiran Islam Inklusif dan Moderat
Zezen lalu mengajak para kader HMI, khususnya di Ciputat, untuk merenungkan kondisi pendidikan tinggi di Indonesia. Dirinya menilai bahwa salah satu sebab merosotnya kualitas akademik di berbagai kampus adalah karena tidak adanya otonomi yang sejati.
"Kalau HMI Ciputat ingin kembali keren, dan kampus-kampus kita ingin kembali menjadi pusat keilmuan yang bergengsi, maka ada dua syarat yang mutlak: kampus harus independen dan otonom," ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan tidak akan pernah bisa berkembang jika institusi yang mengembangkannya tunduk pada logika kekuasaan.
"Prinsip kekuasaan adalah mencari kuasa dan kepentingan. Sementara prinsip ilmu adalah mencari kebenaran dan pengetahuan. Kalau kampus dikendalikan kekuasaan, maka ia akan terkooptasi dan menyimpang dari tujuannya."
Lihat Juga :