Pope Francis dan Dialog Antaragama untuk Perdamaian

Minggu, 27 April 2025 - 11:31 WIB
loading...
A A A
Pope Francis terus menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia dengan visinya tentang Gereja yang, seperti yang sering dia katakan, adalah "rumah sakit lapangan" – dekat dengan mereka yang terluka dan kaum miskin papa yang membutuhkan. Namun, upayanya dalam Dialog Antar-Iman dan pembangunan perdamaian (peacebuilding) telah menjadikan dirinya dikagumi lintas agama, etnis/ras dan budaya.

Sejak awal kepausannya, ia telah menekankan visi dunia yang tidak dapat dipisahkan oleh tembok tebal agama dan etnis, tetapi dihubungkan oleh jembatan kemanusiaan bersama. Tidak seperti beberapa pendahulunya yang berfokus pada reformasi internal gereja atau ekumenisme Kristen, Pope Francis telah menempuh jalan terjal dengan memberanikan diri untuk terlibat ke dalam perjumpaan dan percakapan yang lebih luas, acap sulit, guna menjangkau dengan tulus kepada Muslim, Yahudi, Buddha, Hindu, dan bahkan pemikir sekuler.

Kunjungan pentingnya pada 2019 ke Abu Dhabi, di mana ia telah menandatangani Dokumen Persaudaraan Manusia (Human Fraternity) dengan Imam Besar Ahmed al-Tayeb, menonjol sebagai tonggak sejarah yang monumental. Ini bukan hanya sebuah tindakan diplomatik, melainkan juga seruan yang tulus untuk perdamaian, koeksistensi, dan saling menghormati di dunia yang semakin terpecah oleh ekstremisme agama.

Apa yang membuat pendekatan Fransiskus berbeda adalah keasliannya dan ketulusannya (sincerity). Dia tidak terlibat dalam dialog antar-iman dengan tujuan untuk "mengonversi" atau "mengalahkan" yang lain, tetapi untuk mendengarkan, memahami, dan berkolaborasi. Nada suaranya adalah cerminan rendah hati namun menegaskan keyakinan Katolik sambil merayakan apa yang mulia dan baik dalam tradisi agama dan iman yang lain.

Ketulusan ini telah melucuti selubung kecurigaan dan mengundang hubungan manusia yang nyata untuk berkolaborasi. Sebagai satu akibat, tentu saja, tidak semua orang merasa nyaman dengan upaya ini. Beberapa orang di dalam gerejanya sendiri – dan di luarnya – telah mengeritik keras untuk keterbukaannya sebagai naif atau bahkan berkompromi.

Lebih jauh, beberapa kritikus berpendapat bahwa keterbukaannya berisiko melemahkan identitas Katolik, banyak yang melihat tindakannya sebagai pemberani dan sangat diperlukan di dunia yang terfragmentasi. Tetapi sejarah mungkin mengingat Pope Francis yang teguh memilih untuk mengambil risiko kesalahpahaman demi perdamaian.

Di era yang kini ditandai dengan polarisasi, nasionalisme, dan kecurigaan yang akut, legacy Pope Francis dalam Dialog Antar-Iman tegak berdiri seperti karang di laut. Sebagai salah satu hadiah terbesarnya kepada dunia – mercusuar moral, yang mendesak dan menuntut semua orang yang beriman dan niat baik untuk melakukan perjumpaan, bertemu bukan dalam ancaman ketakutan, tetapi dalam iklim persahabatan untuk merengkuh perdamaian.

Kita jangan mengulang perang agama tiga puluh tahun di Jerman dan pedrang antar agama di berbagai belahan dunia. Tidak diragukan, Pope Francis telah secara signifikan membentuk lanskap Dialog Antar-Iman selama kepausannya.

Pendekatannya berakar tunjang pada kerendahan hati, menekankan mendengarkan dan kolaborasi daripada konfrontasi. Pope Francis secara konsisten menyoroti nilai-nilai bersama di antara agama, seperti kasih sayang, keadilan, dan kepedulian terhadap yang mereka rentan.

Kepemimpinannya, memang, telah mengirimkan pesan yang kuat bahwa iman harus menyatukan orang, bukan memecah belah mereka. Secara singkat, melalui teladannya, Paus Fransiskus telah menunjukkan bahwa dialog lintas agama tidak hanya mungkin tetapi penting untuk membangun komunitas global yang lebih damai dan adil.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
TNI di Kejaksaan: Antara...
TNI di Kejaksaan: Antara Persepsi Backing, Kepastian Hukum, dan Konsolidasi Negara
Meraih Hak Pemajakan...
Meraih Hak Pemajakan Indonesia melalui Implementasi PPh Digital Asing yang Sederhana
Membaca Arah Baru Fleksibilitas...
Membaca Arah Baru Fleksibilitas Fiskal Indonesia
Indonesia Menggugat:...
Indonesia Menggugat: Perlawanan Dokter Tifa dalam Sidang Kasus Dugaan Ijazah Palsu Joko Widodo
Membaca Penguatan Kelompok...
Membaca Penguatan Kelompok Rentan dalam Revisi UU HAM
NU, Antara Tradisi Pesantren,...
NU, Antara Tradisi Pesantren, Profesionalisme Organisasi, dan Kemandirian Ekonomi
Kunjungan PM India ke...
Kunjungan PM India ke Indonesia Jadi Momentum Perkuat Dialog Perlindungan Minoritas
7 Pemakaman Pemimpin...
7 Pemakaman Pemimpin Dunia yang Dihadiri Kepala Negara Terbanyak, Nomor 1 Pecahkan Rekor Dunia
Stafsus Menag Bertemu...
Stafsus Menag Bertemu Pengurus Rumah Doa Methodis Injili Jemaat Filadelfia Bandung
Rekomendasi
Media Norwegia Pertanyakan...
Media Norwegia Pertanyakan Gol Inggris, Sebut Berpotensi Jadi Skandal Wasit Terbesar
Comeback McGregor Berakhir...
Comeback McGregor Berakhir Tragis, Cedera di Detik Pertama dan Kalah TKO
Pemain Kolombia Jaminton...
Pemain Kolombia Jaminton Campaz Diancam Dibunuh Usai Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Mahfud MD Soroti Pengalihan...
Mahfud MD Soroti Pengalihan Penyidikan Febrie Adriansyah ke Kejaksaan: Banyak yang Terkecoh
Febrie Adriansyah Dicegah...
Febrie Adriansyah Dicegah ke Luar Negeri
Baleg DPR Sangkal Kabar...
Baleg DPR Sangkal Kabar RUU Perampasan Aset Dicoret dari Prolegnas Prioritas 2026
Saatnya Koperasi Naik...
Saatnya Koperasi Naik Kelas
Momen Kapolri dan Jaksa...
Momen Kapolri dan Jaksa Agung Foto Bareng Menko Polkam, Panglima TNI, serta Kepala BIN
Prabowo: Yang Merasa...
Prabowo: Yang Merasa Indonesia Suram, Silakan kalau Mau Cari Negara Lain
Infografis
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved