Strategi Baru Kekuasaan: dari Brainwashing ke Emotional Hijacking?

Kamis, 17 April 2025 - 15:41 WIB
loading...
A A A
Maka dalam lanskap politik hari ini, yang diperebutkan bukan lagi kesadaran, tapi perhatian. Dan perhatian yang telah letih, terpecah, dan mudah terpancing emosi adalah lahan subur bagi manipulasi politik.

Inilah transisi halus dari brainwashing ke emotion-hijacking, yakni pengendalian massa bukan dengan doktrin keras, tapi lewat distraksi terus-menerus.

Kita tidak lagi dijejali ideologi, tapi dikelilingi kebisingan digital yang membuat kita letih berpikir. Dan ketika publik kelelahan, mereka tidak lagi peduli soal keadilan atau masa depan, tapi hanya ingin segera merasa tenang, segera merasa “baik-baik saja.”

Dalam celah inilah, kuasa memainkan emosinya. Memunculkan musuh bersama, narasi kebanggaan semu, atau ancaman imajiner demi mengontrol arah opini publik.

Negara-negara otoriter modern telah menunjukkan bagaimana teknik pengondisian emosi (emotional governance) publik bisa diterapkan secara sistematis dan halus.

Di China, pengendalian emosi publik dijalankan secara sistematis hingga ke level birokrasi akar rumput. Studi konten terhadap slogan layanan publik dari akun resmi lembaga pemerintah menunjukkan penerapan emotional governance yang mengatur bukan hanya perilaku. Tetapi juga perasaan warga, agar selalu bangga, bersyukur, tenteram, dan patuh.

Slogan-slogan ini dirancang untuk membentuk suasana emosional yang stabil dan menekan potensi perlawanan, dengan memengaruhi sistem limbik warga secara berulang. Alih-alih menanamkan ideologi, negara memperkuat kepatuhan melalui rekayasa emosional.

Penelitian ini menegaskan bahwa kendali sosial di China kini bertumpu pada birokrasi yang turut membentuk arsitektur emosi nasional (Yijing Tong dkk., Emotional Governance in Chinese Street-Level Bureaucracy, 2024).

Sebelumnya, di Rusia, Peter Pomerantsev -jurnalis keturunan Rusia- dalam Nothing Is True and Everything Is Possible (2014) menggambarkan bagaimana rezim Putin mengatur persepsi publik dengan menciptakan dunia yang dikendalikan oleh narasi palsu.

Tidak ada yang benar-benar nyata, oposisi palsu, proses hukum palsu, dan berita televisi yang sepenuhnya dimanipulasi. Di balik layar, emosi rakyat diarahkan bukan dengan represi langsung, tapi melalui drama politik yang dikoreografi dengan cermat. Hingga rakyat tak lagi tahu mana yang nyata dan mana yang panggung.

Ini bukan sekadar pengaburan realitas, tapi pembentukan emosi kolektif secara terstruktur. Dan ketika publik hidup dalam dunia yang dikondisikan penuh absurditas, mereka kelelahan mencari makna. Dalam kondisi seperti ini, emosi menjadi jauh lebih mudah dikuasai ketimbang pikiran.

Di China dan Rusia, emotional governance terbukti efektif dalam menciptakan stabilitas sosial tanpa kekerasan terang-terangan. Di China, kendali emosi rakyat dijalankan lewat sistem kredit sosial dan birokrasi akar rumput yang menyisipkan slogan-slogan layanan publik untuk menanamkan rasa bangga dan patuh (Yijing Tong dkk., 2024).

Sementara di Rusia, realitas sosial dibentuk melalui rekayasa narasi televisi dan media yang dikendalikan Kremlin, menciptakan dunia yang absurd namun membuat warga pasrah karena tak tahu mana yang nyata dan mana yang sandiwara (Pomerantsev, 2014).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Fenomena Hijrah Digital...
Fenomena Hijrah Digital dan Influencer Agama Harus Diiringi Kedalaman Ilmu
Politisi PDIP: RUU KKS...
Politisi PDIP: RUU KKS untuk Lindungi Hak Sipil dan Demokrasi
Tata Kelola Digital...
Tata Kelola Digital dan Investasi Demokrasi
Mengapa Media Monitoring...
Mengapa Media Monitoring Jadi Kunci dalam Krisis Siber di Era Geopolitik Digital?
Kapuspen TNI: Perang...
Kapuspen TNI: Perang Bergeser ke Ruang Digital untuk Pengaruhi Opini Publik
Media Talk 2026, BSKDN:...
Media Talk 2026, BSKDN: Komunikasi Kebijakan di Era Digital Harus Diperkuat
Implementasi PP TUNAS...
Implementasi PP TUNAS Harus Bisa Jaga Daya Saing Generasi Muda di Ekonomi Digital
Web3 University Tour...
Web3 University Tour 2026 Digelar ITERA Lampung, Ratusan Mahasiswa Belajar Blockchain
Bukan Sekadar Digitalisasi,...
Bukan Sekadar Digitalisasi, Kini Operasional Bisnis Harus Otonom
Rekomendasi
Aktivis Muda Nasional:...
Aktivis Muda Nasional: Persatuan Bangsa Penting di Tengah Tantangan Global
Gempa Magnitudo 5,1...
Gempa Magnitudo 5,1 Guncang Bitung Sulawesi Utara, Dirasakan di Manado dan Ternate
PM Pakistan: Perjanjian...
PM Pakistan: Perjanjian Damai Iran dan AS Terwujud dalam 24 Jam Mendatang
Berita Terkini
Kasus Muara Enim, Eks...
Kasus Muara Enim, Eks Penyidik KPK: WTP Penting Bagi Pemda, Malah Jadi Ajang Negosiasi
Peduli Lingkungan, Aliansi...
Peduli Lingkungan, Aliansi Lintas Agama-Kementerian LH Serukan Tobat Ekologis Nasional
Mahasiswa Soroti Pemborosan...
Mahasiswa Soroti Pemborosan APBN, Qodari: Prabowo Berhasil Hemat Rp300 Triliun
Polri Gelar Nobar Piala...
Polri Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Pakar Hukum: Mendekatkan Polisi dengan Masyarakat
Ditahan KPK, Asrul Azis...
Ditahan KPK, Asrul Azis Tersangka Baru Kasus Kuota Haji Ajukan Praperadilan ke PN Jaksel
Tepis Ada Pembagian...
Tepis Ada Pembagian Keuntungan Program MBG ke Presiden, Kepala BGN: Hoaks
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved