Meletakkan Putusan DKPP Secara Proporsional

Jum'at, 04 September 2020 - 07:17 WIB
loading...
A A A
Kredibilitas DKPP
Tindakan DKPP yang cenderung tidak mau menerima kenyataan itu sesungguhnya dapat merusak kredibiltas lembaga yang selama ini dianggap sebagai pelopor peradilan etika (court of ethics). Memang, DKPP didesain sebagai lembaga kuasi peradilan dengan segenap hukum acara yang mirip dengan peradilan sesungguhnya (court of justice). Persidangan-persidangan DKPP pun diselenggarakan dengan prinsip cepat, terbuka, dan sederhana. Namun, DKPP tetaplah bukan lembaga peradilan. Ia adalah lembaga yang melaksanakan fungsi penyelenggaraan pemilu selain KPU dan Bawaslu.

Maka, DKPP selayaknya tidak perlu mengedepankan egosentrisme kelembagaan dengan mengglorifikasi dirinya sebagai lembaga super penegak kode etik penyelenggara pemilu yang menyubordinasikan KPU dan Bawaslu. Tindakan tidak patuh pada hukum acara seperti tecermin dalam putusannya itu sepantasnya membuat DKPP mengevaluasi diri agar tidak terjadi lagi di masa datang. Hal ini karena tugas menjaga kemandirian, integritas, dan kredibilitas penyelenggara pemilu merupakaan keniscayaan dalam demokrasi elektoral. DKPP perlu membangun tradisi yang lebih kuat dalam menjalankan kewajibannya sepertimenerapkan prinsip menjaga keadilan, kemandirian, imparsialitas, dan transparansi dalam menegakkan kode etik.

Hal yang patut disesalkan adalah kontroversi putusan DKPP ini muncul pada saat kepercayaan masyarakat belum begitu besar terhadap lembaga yang baru berusia kurang lebih sewindu itu. Survei Founding Fathers House dan Sindikasi Pemilu dan Demokrasi pada 2019 menyebutkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap DKPP mencapai 52,85%. Modal kepercayaan yang belum begitu besar ini dapat semakin terkikis jika DKPP terus menerus menyoal Putusan PTUN Jakarta Nomor 82/G/2020/PTUN-JKT yang mengoreksi Putusan DKPP Nomor 317-PKE-DKPP/X/2019.

DKPP tidak perlu dan tidak bisa mencabut putusannya sendiri. Yang diharapkan adalah kesediaan DKPP untuk meletakkan putusannya secara proporsional sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan putusan MK sebagai wujud sikap sportif dalam bernegara.Selain itu, membangun tradisi menghormati produk lembaga lain (dalam hal ini putusan PTUN) yang berwenang secara konstitusional sesuai putusan MK dengan memberikan pengakuan atas eksistensinya adalah bagian dari sikap kenegarawanan. Sebaliknya, menafikan putusan PTUN hanya akan mendelegitimasi keberadaan DKPP.

Di tengah kontroversi sikapnya, keberadaan DKPP tetap penting dalam menjaga profesionalitas penyelenggara pemilu. Oleh karena itu, memulihkan kredibilitas DKPP setelah putusan kontroversial yang dibuatnya menjadi pekerjaan rumah. Bagaimanapun juga, pemilu yang berkualitas dan berintegritas tidak muncul dari ruang hampa. Ia muncul salah satunya dari penyelenggara pemilu yang berkualitas dan berintegritas lantaran kode etiknya telah ditegakkan oleh DKPP yang tepercaya.
(ras)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Rekomendasi
Negara Anggota NATO...
Negara Anggota NATO Ini Mengalami Kemandulan Kemampuan Militer Terburuk
Kim Jong-un Perintahkan...
Kim Jong-un Perintahkan AL Korut Produksi Kapal Perusak dan Senjata Bawah Air Rahasia
Putin: Serangan Rudal...
Putin: Serangan Rudal Hipersonik Oreshnik Rusia terhadap Ukraina Hanya Tes, Belum Skala Penuh
Berita Terkini
Partai Perindo Dorong...
Partai Perindo Dorong Aturan Pemilu Harus Adil dan Setara: Nomor Urut Parpol Dikocok Ulang
Pigai Usul Jabatan Utama...
Pigai Usul Jabatan Utama Polri Bisa Diisi Sipil, Pakar Hukum: Bisa Timbulkan Persoalan
Wali Kota Agustina Bawa...
Wali Kota Agustina Bawa Inovasi Semarang ke Panggung Nasional, Tawarkan Solusi Ketahanan Pangan Kota Masa Depan
Sari Yuliati Terpilih...
Sari Yuliati Terpilih sebagai Ketum PPK Kosgoro 1957 Periode 2026-2031
Prabowo Berulang Kali...
Prabowo Berulang Kali Ingatkan Jajarannya, Tugas Berat adalah Melawan Korupsi
Kasus dr Tifa dan Roy...
Kasus dr Tifa dan Roy Suryo P-21, Akankah Polemik Ijazah Berakhir di Pengadilan?
Infografis
10 Negara Terkuat di...
10 Negara Terkuat di Dunia 2025 secara Militer Versi GFP
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved