alexametrics

Neraca Perdagangan Defisit USD870 Juta

loading...
Neraca Perdagangan Defisit USD870 Juta
Menandai awal 2020, NPI membuat pengelola pening lagi. Data terbaru yang dipublikasi BPS menunjukkan NPI lesu dengan nilai defisit mencapai USD870 juta. Foto/Ilustrasi/SINDOphoto
A+ A-
Menandai awal 2020, neraca perdagangan Indonesia (NPI) membuat pengelola yang berwenang di bidang ekonomi negara ini pening lagi. Data terbaru yang dipublikasi Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan NPI dalam kondisi lesu dengan nilai defisit mencapai USD870 juta.

Hanya, defisit yang terjadi lebih rendah dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu senilai USD1,16 miliar. Kinerja ekspor maupun impor sepanjang Januari lalu mencatatkan penurunan signifikan.

Realisasi ekspor tercatat USD13,41 miliar atau turun sekitar 7,16% dibanding Desember 2019, dan sekitar 3,7% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Adapun realisasi impor senilai USD14,28 miliar dengan penurunan sekitar 4,78% dibandingkan periode yang sama 2019. Penyebab penurunan realisasi angka ekspor dan impor tersebut lebih dipicu oleh ekonomi global yang tidak stabil.



Merujuk data BPS, sektor minyak dan gas (migas) adalah penyebab utama defisit NPI. Tercatat, kontribusi sektor migas terhadap defisit NPI mencapai USD1,18 miliar. Bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu, angka defisit sektor migas awal tahun ini jauh lebih besar, defisit Januari 2019 hanya tercatat sebesar USD421 juta.

Penyumbang defisit lainnya adalah fluktuasi harga komoditas di pasar global di antaranya harga minyak mentah, nikel, tembaga, dan timah. Pada periode Desember 2019 hingga Januari 2020 harga minyak mentah anjlok 2,68% dari USD67,18 pada Desember 2019 menjadi USD65,38 pada Januari 2020.

Kinerja impor USD14,28 miliar sepanjang Januari 2020 mengalami penurunan sekitar 1,60% bila dibandingkan realisasi angka impor pada Desember 2019. Penurunan realisasi angka impor berasal dari sektor migas sebesar 6,85% dan impor nonmigas sekitar 0,69%. Sebaliknya, surplus yang disumbangkan sektor nonmigas tercatat sebesar USD317 juta.

Sementara itu, realisasi angka ekspor sebesar USD13,41 miliar pada Januari lalu turun sekitar 7,16% jika dibandingkan Desember 2019. Pihak BPS mencatat kinerja ekspor dari berbagai sektor semuanya mengalami penurunan, yang dipicu fluktuasi harga-harga komoditas ekspor di pasar internasional.

Menarik dicermati, ternyata sejak awal tahun ini nilai ekspor dan impor nonmigas ke dan dari China mencatat penurunan. Data BPS menunjukkan nilai ekspor nonmigas ke China USD2,1 miliar pada Januari lalu atau turun sekitar 9,15% bila dibandingkan Desember 2019 senilai USD2,3 miliar.

Lalu, nilai impor nonmigas asal China juga menipis. Nilai impor nonmigas dari Negeri Tirai Bambu itu tercatat USD3,9 miliar sepanjang Januari 2020. Angka tersebut turun sekitar 3,08% jika dibandingkan Desember 2019 yang mencapai USD4,07 miliar.

Apakah penurunan kinerja perdagangan antara Indonesia dan China sebagai dampak dari mewabahnya virus korona? Pihak BPS tak berani menyimpulkan meski nilai ekspor dan impor ke dan dari China masih bergerak secara normal sejak pekan pertama hingga ketiga Januari.

Sayangnya, data BPS belum bisa mendeteksi apakah penurunan kinerja perdagangan dua negara tersebut disebabkan oleh kasus virus korona. Pasalnya, BPS tak menyajikan data mingguan. Jadi efek dari wabah virus korona yang berawal dari Wuhan, China baru bisa terlihat pada data Februari 2020.

Hal itu sejalan dengan pandangan sejumlah analis ekonomi yang menilai bahwa dampak dari mewabahnya virus korona belum signifikan pada periode Januari lalu. Diperkirakan, dampak signifikan dari wabah tersebut baru terasa pada Februari dan Maret. Dan, sejauh mana dampaknya sangat bergantung dari pemulihan yang dilakukan China sebagai sumber munculnya virus mematikan itu.

Suara senada datang dari lembaga keuangan internasional, yakni International Monetary Fund (IMF) yang memprediksi wabah virus korona bakal mengganggu pertumbuhan ekonomi global. Pihak IMF memperkirakan akan ada koreksi pertumbuhan ekonomi global pada kisaran 0,1% hingga 0,2%.

Sebelumnya sudah diprediksi sejumlah analis ekonomi bahwa NPI awal tahun ini mengalami defisit. Secara terbuka, Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk Ryan Kiryanto menyatakan, defisit NPI sulit untuk dihindari akibat turunnya permintaan ekspor sejumlah negara yang menjadi pasar utama Indonesia.

Memang, pemerintah tidak tinggal diam agar NPI tidak tekor, namun sejumlah faktor eksternal kerapkali tak bisa dihindarkan seperti wabah virus korona yang mendera dan berdampak langsung pada perdagangan global.
(maf)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak