Program Inovasi Desa Dongkrak Produksi Pakan Ternak Mandiri
Kamis, 31 Oktober 2024 - 20:21 WIB
loading...
Rumah Inovasi Teknologi Desa (RITD) Program TEKAD meningkatkan ekonomi Desa Genamare, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Rumah Inovasi Teknologi Desa (RITD) Program Transformasi Kampung Terpadu (TEKAD) memberikan dampak bagi peningkatan ekonomi Desa Genamare, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dengan inovasi ini, Kelompok Penerima Bantuan (KPB Samowara) dapat mengolah pakan secara mandiri sekaligus dapat membeli hasil panen warga dengan harga tinggi.
"Kebutuhan pakan ternak di desa kami cukup tinggi karena mayoritas warga punya peliharaan masing-masing. Selama ini kebutuhan pakan ternak harus didatangkan dari luar desa dengan harga lumayan," kata Wakil Ketua KPB Samowara, Subastianus Ruso, Kamis (31/10/2024).
Ruso mengatakan mayoritas masyarakat Genamere berprofesi sebagai peternak babi. Mereka menggunakan pakan tradisional berupa singkong, talas, dan jagung untuk kebutuhan pakan ternak babi. "Jika bahan-bahan tersebut sulit ditemukan, para peternak beralih ke kacang-kacangan dan rumput," katanya.
Dia mengungkapkan kendala utama bagi para peternak adalah harga konsentrat pakan yang sangat mahal, yakni Rp500.000 per 50 kg. Selain itu, jarak 17,2 km ke pasar Kabupaten Ngada semakin menyulitkan masyarakat dalam mendapatkan pakan berkualitas untuk babi.
"Melalui RITD, Kita kini dapat memproduksi pakan sendiri dari jagung yang Kita tanam. Saat ini, terdapat 80 hektar lahan jagung, dan pada 2024 ditargetkan bertambah 50 hektar lagi dengan pembukaan lahan baru, menjadikan total luas lahan mencapai 130 hektare," urainya.
"Kebutuhan pakan ternak di desa kami cukup tinggi karena mayoritas warga punya peliharaan masing-masing. Selama ini kebutuhan pakan ternak harus didatangkan dari luar desa dengan harga lumayan," kata Wakil Ketua KPB Samowara, Subastianus Ruso, Kamis (31/10/2024).
Ruso mengatakan mayoritas masyarakat Genamere berprofesi sebagai peternak babi. Mereka menggunakan pakan tradisional berupa singkong, talas, dan jagung untuk kebutuhan pakan ternak babi. "Jika bahan-bahan tersebut sulit ditemukan, para peternak beralih ke kacang-kacangan dan rumput," katanya.
Dia mengungkapkan kendala utama bagi para peternak adalah harga konsentrat pakan yang sangat mahal, yakni Rp500.000 per 50 kg. Selain itu, jarak 17,2 km ke pasar Kabupaten Ngada semakin menyulitkan masyarakat dalam mendapatkan pakan berkualitas untuk babi.
"Melalui RITD, Kita kini dapat memproduksi pakan sendiri dari jagung yang Kita tanam. Saat ini, terdapat 80 hektar lahan jagung, dan pada 2024 ditargetkan bertambah 50 hektar lagi dengan pembukaan lahan baru, menjadikan total luas lahan mencapai 130 hektare," urainya.
Lihat Juga :