Memahami Kepemimpinan Presiden Prabowo
Jum'at, 25 Oktober 2024 - 21:24 WIB
loading...
A
A
A
Ketika berbicara tentang demokrasi, Prabowo berpesan agar kedaulatan rakyat harus untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan perorangan atau pun kelompok. Pemimpin bekerja untuk rakyat, bukan untuk diri sendiri.
Kebebasan itu perlu tetapi kebebasan yang tumbuh dalam demokrasi Indonesia harus bisa menghindari perselisihan dan permusuhan, tanpa rasa benci, tanpa berbuat curang,tegasnya. Ia menekankan bahwa demokrasi pun harus bisa menghindari kekerasan dan adu-domba, menghindari kemunafikan, agar semakin kuat persatuan bangsa, agar terjadi tata tentrem kerta raharja, gemah ripah lohjinawe, supaya wong cilik pun bisa tersenyum lagi.
Pesan politik tersebut perlu dimaknai sebagai kebutuhan di bangsa ini untuk menarik kembali kereta demokrasi ke rel yang semestinya, yaitu rel budaya demokrasi ala Indonesia (the Indonesian way of democracy) yang tak sama dengan demokrasi liberal yang secara latah diterapkan saat ini. Para tokoh serta pemimpin di berbagai kalangan dan tingkatan perlu mengembangkan pesan penting itu untuk menjadi tradisi, agar Indonesia tak meninggalkan jati dirinya di tengah terpaan arus globalisasi yang semakin besar.
Sebab bangsa ini harus bangga dengan nilai-nilai persatuan sejak Soempah Pemoeda 1928, bahwa kita bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu: Indonesia. Pesan itu semakin penting ketika kita memperingati 96 tahun Soempah Pemoeda pada 28 Oktober 2024.
Prabowo tegaskan bahwa semua pemimpin di bangsa ini perlu menjadi teladan, sebab “ikan busuk mulai dari kepalanya.” Ketika pemimpin tak mampu menunjukkan keteladanan, maka segenap jajaran di bawahnya akan kehilangan arah.
Satu aspek lain yang menarik perhatian saya adalah ketika Prabowo berbicara tentang pengalamannya 46 tahun silam. Yaitu saat ia berada di kolam renang Manggarai, Jakarta Pusat, dan melihat sebuah tulisan peninggalan Belanda yang melarang “inlander dan anjing” untuk masuk ke situ.
Bukan hanya tulisan derogatory itu yang menyakiti hatinya, sekaligus membakar semangatnya untuk mengangkat derajat bangsanya. Bahkan ketika bersekolah di luar negeri pun ia sering merasa direndahkan tatkala orang berkata bahwa “bangsa Indonesia masih hidup di pohon-pohon”.
Sebagai patriot sejati, sejak masa mudanya pun Prabowo sudah terbakar semangatnya untuk mengangkat derajat bangsanya agar tidak direndahkan bangsa-bangsa lain. Sekaranglah saatnya ia membuktikan tekadnya itu.
Dan itulah sebabnya kini Presiden Prabowo membentuk Kabinet Merah Putih yang mencakup begitu banyak Menteri dan Wakil Menteri serta Kepala-kepala badan. Tapi ahli strategi tempur yang gemoy di mata banyak pengagumnya itu pasti sudah memiliki strategi tersendiri untuk melakukan perubahan besar-besaran demi mengangkat derajat bangsanya di mata dunia.
Kita berharap dan mendoakan, semoga Presiden Prabowo tetap sehat walafiat dalam memimpin negara dan bangsa ini lima tahun ke depan. Melakukan perbaikan di berbagai bidang, dan meninggalkan legacy yang berdampak besar untuk dijadikan acuan bagi bangsa ini di masa depan.
Kebebasan itu perlu tetapi kebebasan yang tumbuh dalam demokrasi Indonesia harus bisa menghindari perselisihan dan permusuhan, tanpa rasa benci, tanpa berbuat curang,tegasnya. Ia menekankan bahwa demokrasi pun harus bisa menghindari kekerasan dan adu-domba, menghindari kemunafikan, agar semakin kuat persatuan bangsa, agar terjadi tata tentrem kerta raharja, gemah ripah lohjinawe, supaya wong cilik pun bisa tersenyum lagi.
Pesan politik tersebut perlu dimaknai sebagai kebutuhan di bangsa ini untuk menarik kembali kereta demokrasi ke rel yang semestinya, yaitu rel budaya demokrasi ala Indonesia (the Indonesian way of democracy) yang tak sama dengan demokrasi liberal yang secara latah diterapkan saat ini. Para tokoh serta pemimpin di berbagai kalangan dan tingkatan perlu mengembangkan pesan penting itu untuk menjadi tradisi, agar Indonesia tak meninggalkan jati dirinya di tengah terpaan arus globalisasi yang semakin besar.
Sebab bangsa ini harus bangga dengan nilai-nilai persatuan sejak Soempah Pemoeda 1928, bahwa kita bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu: Indonesia. Pesan itu semakin penting ketika kita memperingati 96 tahun Soempah Pemoeda pada 28 Oktober 2024.
Prabowo tegaskan bahwa semua pemimpin di bangsa ini perlu menjadi teladan, sebab “ikan busuk mulai dari kepalanya.” Ketika pemimpin tak mampu menunjukkan keteladanan, maka segenap jajaran di bawahnya akan kehilangan arah.
Satu aspek lain yang menarik perhatian saya adalah ketika Prabowo berbicara tentang pengalamannya 46 tahun silam. Yaitu saat ia berada di kolam renang Manggarai, Jakarta Pusat, dan melihat sebuah tulisan peninggalan Belanda yang melarang “inlander dan anjing” untuk masuk ke situ.
Bukan hanya tulisan derogatory itu yang menyakiti hatinya, sekaligus membakar semangatnya untuk mengangkat derajat bangsanya. Bahkan ketika bersekolah di luar negeri pun ia sering merasa direndahkan tatkala orang berkata bahwa “bangsa Indonesia masih hidup di pohon-pohon”.
Sebagai patriot sejati, sejak masa mudanya pun Prabowo sudah terbakar semangatnya untuk mengangkat derajat bangsanya agar tidak direndahkan bangsa-bangsa lain. Sekaranglah saatnya ia membuktikan tekadnya itu.
Dan itulah sebabnya kini Presiden Prabowo membentuk Kabinet Merah Putih yang mencakup begitu banyak Menteri dan Wakil Menteri serta Kepala-kepala badan. Tapi ahli strategi tempur yang gemoy di mata banyak pengagumnya itu pasti sudah memiliki strategi tersendiri untuk melakukan perubahan besar-besaran demi mengangkat derajat bangsanya di mata dunia.
Kita berharap dan mendoakan, semoga Presiden Prabowo tetap sehat walafiat dalam memimpin negara dan bangsa ini lima tahun ke depan. Melakukan perbaikan di berbagai bidang, dan meninggalkan legacy yang berdampak besar untuk dijadikan acuan bagi bangsa ini di masa depan.
(poe)
Lihat Juga :