Memahami Kepemimpinan Presiden Prabowo
Jum'at, 25 Oktober 2024 - 21:24 WIB
loading...
A
A
A
Sekarang terbukti sudah kata-kata Gus Dur: “Kalau orang yang paling ikhlas kepada rakyat Indonesia itu Prabowo. Banyak yang dia lakukan yang menunjukkan dia ikhlas betul kepada rakyat Indonesia.”
Kita bangga memiliki Presiden yang berhati tulus-ikhlas dan merangkul semua komponen bangsa seperti itu. Mantan Danjen Kopassus dan Pangkostrad itu benar-benar mendahulukan aspek persatuan bangsa dan stabilitas, agar pemerintahannya aman, tanpa guncangan dari dalam negeri.
Meskipun tak menyinggung masalah nepotisme, tetapi ketika Prabowo berpidato tentang perlunya mengatasi kebocoran anggaran negara, mencegah korupsi dan kolusi, tiba-tiba saya teringat ucapan ayahnya—yang pernah mengatakan bahwa setiap tahun sejak masanya, terjadi kebocoranAPBN sebesar 30%. Sekaranglah saatnya Prabowo menutup kebocoran yang dulu menyita perhatian ayahnya Sumitro Djojohadikusumo.
Itu sebabnya Prabowo memberikan ultimatum kepada semua pemimpin agar jangan coba-coba mencari keuntungan pribadi dari APBN. Prabowo dapat dijadikan teladan dalam hal ini, sebab ia sendiri sudah membuktikan ucapannya, karena sebagai negarawan, ia sudah selesai dengan dirinya.
Bahkan di masa krisis 1998 ketika semua debitur bank sibuk mencari keringanan utang, Prabowo tak mau melakukan restrukturusasi utang perusahaannya di Bank Mandiri. Ketika itu Dirut Bank Mandiri Agus Martowardojo menemui Prabowo untuk melakukan restrukturisasi utang perusahannya.
Tetapi Prabowo menolak diberi keringanan. “Karena Bank Mandiri adalah bank milik negara,” tegasnya.
Kalau jiwa-raganya dipersembahkan untuk negara dan bangsanya ketika masih aktif di militer, bahkan berada di garis depan memimpin pertempuran dan operasi militer di berbagai daerah, apalagi hanya masalah utang—negara tak boleh dirugikan. Itulah sikap Prabowo, patriot sejati yang layak diteladani semua anak bangsa, termasuk semua debitur bank, bahkan semua pejabat negara, agar negara tidak dirugikan.
Di usianya yang 73 tahun, Prabowo ingin berlari kencang, agar dalam masa jabatannya sejumlah target prioritas dapat tercapai. Ia bertekad bahwa Indonesia harus mencapai swasembada pangan dan swasembada energi dalam tempo empat sampai lima tahun ke depan.
Jangan lagi ada orang miskin di negeri ini, sebab negeri ini sangat kaya alamnya. Kalau tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman, tapi jangangkan keju singkong pun masih kita impor?
Kalau alamnya kaya tetapi banyak rakyat masih miskin, itu berarti penyebabnya adalah salah kelola (mismanagement) seperti kata pakar manajemen sedunia Peter F. Drucker: There’s no underdeveloped country, only undermanaged ones.
Itulah sebabnya maka Prabowo tampil dengan paradigma baru: berani mengakui kekurangan, dan berani mengatasinya dengan menggerakkan segenap komponen bangsa untuk bersatu-padu, bergotongroyong mengatasi pelbagai masalah. Itulah sikap kepemimpinan yang patut diacungi dua jempol.
Sebab selama ini sering kita melihat angka-angka statistik yang ditampilkan secara politis, tetapitidak sepenuhnya memotret realitas kehidupan masyarakat. Tabiat itu yang ingin diubahnya agar para pemimpin tidak mengandalkan pencitraan, tetapi bersikap jujur terhadap realitas sosial-ekonomi bangsa ini dan berjuang meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Kita bangga memiliki Presiden yang berhati tulus-ikhlas dan merangkul semua komponen bangsa seperti itu. Mantan Danjen Kopassus dan Pangkostrad itu benar-benar mendahulukan aspek persatuan bangsa dan stabilitas, agar pemerintahannya aman, tanpa guncangan dari dalam negeri.
Meskipun tak menyinggung masalah nepotisme, tetapi ketika Prabowo berpidato tentang perlunya mengatasi kebocoran anggaran negara, mencegah korupsi dan kolusi, tiba-tiba saya teringat ucapan ayahnya—yang pernah mengatakan bahwa setiap tahun sejak masanya, terjadi kebocoranAPBN sebesar 30%. Sekaranglah saatnya Prabowo menutup kebocoran yang dulu menyita perhatian ayahnya Sumitro Djojohadikusumo.
Itu sebabnya Prabowo memberikan ultimatum kepada semua pemimpin agar jangan coba-coba mencari keuntungan pribadi dari APBN. Prabowo dapat dijadikan teladan dalam hal ini, sebab ia sendiri sudah membuktikan ucapannya, karena sebagai negarawan, ia sudah selesai dengan dirinya.
Bahkan di masa krisis 1998 ketika semua debitur bank sibuk mencari keringanan utang, Prabowo tak mau melakukan restrukturusasi utang perusahaannya di Bank Mandiri. Ketika itu Dirut Bank Mandiri Agus Martowardojo menemui Prabowo untuk melakukan restrukturisasi utang perusahannya.
Tetapi Prabowo menolak diberi keringanan. “Karena Bank Mandiri adalah bank milik negara,” tegasnya.
Kalau jiwa-raganya dipersembahkan untuk negara dan bangsanya ketika masih aktif di militer, bahkan berada di garis depan memimpin pertempuran dan operasi militer di berbagai daerah, apalagi hanya masalah utang—negara tak boleh dirugikan. Itulah sikap Prabowo, patriot sejati yang layak diteladani semua anak bangsa, termasuk semua debitur bank, bahkan semua pejabat negara, agar negara tidak dirugikan.
Di usianya yang 73 tahun, Prabowo ingin berlari kencang, agar dalam masa jabatannya sejumlah target prioritas dapat tercapai. Ia bertekad bahwa Indonesia harus mencapai swasembada pangan dan swasembada energi dalam tempo empat sampai lima tahun ke depan.
Jangan lagi ada orang miskin di negeri ini, sebab negeri ini sangat kaya alamnya. Kalau tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman, tapi jangangkan keju singkong pun masih kita impor?
Kalau alamnya kaya tetapi banyak rakyat masih miskin, itu berarti penyebabnya adalah salah kelola (mismanagement) seperti kata pakar manajemen sedunia Peter F. Drucker: There’s no underdeveloped country, only undermanaged ones.
Itulah sebabnya maka Prabowo tampil dengan paradigma baru: berani mengakui kekurangan, dan berani mengatasinya dengan menggerakkan segenap komponen bangsa untuk bersatu-padu, bergotongroyong mengatasi pelbagai masalah. Itulah sikap kepemimpinan yang patut diacungi dua jempol.
Sebab selama ini sering kita melihat angka-angka statistik yang ditampilkan secara politis, tetapitidak sepenuhnya memotret realitas kehidupan masyarakat. Tabiat itu yang ingin diubahnya agar para pemimpin tidak mengandalkan pencitraan, tetapi bersikap jujur terhadap realitas sosial-ekonomi bangsa ini dan berjuang meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Lihat Juga :