Kapal BHO untuk Perkuat Pertahanan Laut

Selasa, 15 Oktober 2024 - 05:07 WIB
loading...
A A A
Musibah pesawat Lion Air di perairan Tanjung Karawang, misalnya, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang mengkoordinasi pencarian dibantu TNI AL yang mengerahkan KRISpica (934)dan KRILeuser-924. Berita ‘’CVR Lion Air PK LQP Ditemukan, Pengerahan KRI Spica (934) dan KRI Leuser (924) Buahkan Hasil’’ yang dirilis www.airspace-review.com menyebutkan, berkat kecanggihan kapal Pushidrosal tersebut membantu menemukan pesawat pada hari keenam dari rencana pencarian selama 7 hari plus 3 apabila belum ditemukan. Tim Penyelam dari Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Dinas Penyelamatan Bawah Air (Dislambair) Komando Armada I TNI Angkatan Laut yang menindaklanjuti berhasil menemukan Cockpit Voice Recorder(CVR) pesawat.

Kapal BHO memang sangat bermanfaat untuk melakukan misi search and rescue musibah yang terjadi di lautan. Namun sebetulnya, alutsista jenis tersebut akan lebih bermanfaat untuk fungsi pokok seperti untuk survei, penelitian, pemetaan laut, publikasi, penerapan lingkungan laut, keselamatan navigasi pelayaran baik untuk kepentingan TNI maupun umum, serta menyiapkan data dan informasi wilayah pertahanan di laut. Implementasi fungsi tersebut bisa memitigasi terjadinya musibah seperti dialami KRI Nanggala (402).

Bagaimana bisa? Artikel ‘’Internal Wave Perairan Indonesia Tengah’’ yang dipublikasi www.indonesiare.co.id mencoba merangkum berbagai pendapat ahli tentang penyebab tenggelamnya KRI Nanggala-402 berdasar karakteristik Laut Bali yang unik baik, dari batimeri dan sifat fisis laut. Secara batimeri, Laut Bali yang merupakan bagian perairan Indonesia tengah diwarnai kontur batimeri dari dangkal ke tinggi yang variatif.

baca juga: KSAL Ungkap Pembangunan Kekuatan Kapal Selam TNI AL Semakin Mendesak

Selain itu, wilayah laut tersebut juga diwarnai dengan terjadinya proses fisis yang unik di perairan tersebut, diantaranya keberadaan arus lintas yang merupakan pertukaran massa air laut Samudera Pasifik dan Samudera Hindia; adanya ocean mixing atau pencampuran fisis antarlapisan air laut yang melibatkan salinitas dan temperatur; serta terjadinya internal wave atau gelombang yang terjadi di badan perairan akibat adanya stratifikasi badan air dan gangguan.

Dari beberapa kondisi fisis tersebut, KRI Nanggala (402) tenggelam diduga akibat internal wave. Pendapat tersebut muncul karena melihat dari singkatnya waktu insiden dan kedalaman ditemukannya kapal selam. Hanya dalam hitungan menit, dihitung sejak terakhir kontak, kapal dapat mencapai kedalaman ratusan meter. Hipotesa yang disampaikan peneliti adalah ada energi yang cukup besar untuk menenggelamkan kapal secara cepat.

Kepada media (28/4/2021), Asrena Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksda TNI Muhammad Ali menyebut tenggelamnya Kapal Selam KRI Nanggala (402)diduga karena adanya faktor alam. Disebutkan, saat kapal selam menyelam, yang paling berpengaruh adalah faktor arus bawah laut yang berbeda tergantung kondisinya. Untuk itulah, sebelum melakukan operasi penyelaman, awak kapal selam terlebih dulu melihat panduan untuk menyampaikan kondisi daerah, seperti faktor oseanografi maupun hidrografi.Di antara faktor alam dimaksud adalah internal solitary wave. Mengutip penjelasan beberapa pakar dan ahli oseanografi, (di Laut Bali) ada arus bawah laut yang cukup kuat yang bisa menarik secara vertikal. Sehingga, jatuhnya kapal ke bawah lebih cepat dari umumnya.

Senada, Danseskoal Laksda TNI Iwan Isnurwanto mengungkapkan, berdasar Satelit Himawari-8 milik Jepang dan Satelit Sentinel milik Eropa, pada tanggal 21 April atau tanggal 20 UTC terjadi internal wave di Laut Bali. Arahnya bergerak dari bawah ke utara. "Kalau kita terkena internal wave, maka itu adalah kehendak alam tentunya para prajurit tidak bisa melakukan peran kedaruratan walaupun mereka sudah siap berada di pos tempurnya masing-masing," jelas Iwan.

Sebagai informasi, seperti dipublikasikan www.indonesiare.co.id, internal wavemerupakan gelombang yang terjadi antarlapisan air laut (stratifikasi) akibat adanya gangguan.Stratifikasi lapisan air laut timbul akibat perbedaan massa jenis secara vertikal yang disebabkan perbedaan temperatur dan salinitas. Gaya pembangkit gelombang disebabkan adanya arus yang terjadi di perairan tersebut. Perairan Indonesia tengah yang merupakan salah satu jalur pergerakan Arus Lintas Indonesia (Arlindo) memiliki karakater pasang surut kuat. Variasi morfologi batimetri sill dan palung laut di perairan tersebut menambah faktor munculnyainternal wavekuat terjadi.

Melihat kondisi Laut Bali yang sangat berisiko mengalami internal wave, maka butuh kehati-hatian tinggi bagi awak kapal selam TNI AL sebelum melakukan operasi di wilayah tersebut. Kehati-hatian diwujudkan dengna memantau kondisi laut, di antaranya dengan meminta citra satelit, seperti ditunjukkan Satelit Himawari-8 dan Satelit Sentinel yang mampu menangkap fenomena internal wave. Menurut Asrena Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksda Muhammad Ali, kehadiran kapal BHO sangat dibutuhkan untuk mengetahui kondisi daerah, seperti faktor oseanografi maupun hidrografi.

Selain membantu tugas SAR pada musibah tenggelamnya KRI Nanggala (402), KRI Rigel (933) sejak mulai beroperasi pada 11 Desember 2014 juga telah membantu melakukan tugas-tugas yang dilakukan Pushidrosal. Berdasar data yang dihimpun, tugas yang dilakukan antara lain updating peta laut untuk menjamin keselamatan pelayaran di perairan Selat Malaka dan Selat Singapura (The Joint Hydrographic Survey of The Strait of Malacca and Singapore (SOMS) yang dilakukan bersama Malaysia dan Singapura, dengan pemrakarsa Jepang.

baca juga: TNI AL Siapkan Kapal Rumah Sakit Bantu Perawatan Medis Rakyat Palestina

KRI Rigel (933) juga pernah menjalankan survei di laut dalam di perairan Selat Ombai NTT, dengan kedalaman perairan antara 3000 – 4000 m. Survei untuk jelas tidak cukup hanya dilakukan di Selat Malaka atau Selat Ombai saja, tapi juga seluruh wilayah laut yang merupakan bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Survei bukan sebatas keselamatan navigasi, termasuk untuk kapal selam, tapi menyiapkan data dan informasi wilayah pertahanan di laut.

Dengan luas wilayah perairan Indonesia, berdasar statistic aset kewilayahan nasional yang mencapai 5,9 juta km2 termasuk Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), maka tidak mungkin hanya di-cover KRI Rigel (933), KRI Spica (934), dan beberapa kapal BHO lain yang sudah dimiliki TNI AL. Penambahan jumlah kapal BHO dengan teknologi lebih canggih dibutuhkan agar survei bisa dilakukan di semua jengkal wilayah laut Indonesia.

Apalagi seperti disampaikan KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali, tantangan yang dihadapi TNI ke depan akan semakin meningkat, dinamika internasional yang sangat cepat dan kompleks, serta perkembangan teknologi, TNI AL dituntut memiliki fleksibilitas dan kemampuan adaptasi, sehingga mampu bernavigasi pada kondisi yang penuh tantangan. (*)
(hdr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kapal Induk Garibaldi...
Kapal Induk Garibaldi dan Masa Depan Strategi Maritim Indonesia
Kabar Duka, Mantan KSAL...
Kabar Duka, Mantan KSAL Laksamana TNI Purn Achmad Sutjipto Meninggal Dunia
Resmi Masuk Daftar Belanja...
Resmi Masuk Daftar Belanja TNI AU, Ini Spesifikasi Chengdu J-10C Buatan China yang Akan Perkuat Langit Indonesia
Modernisasi Kapal Induk...
Modernisasi Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Penting untuk Perpanjang Usia Pakai
RDP di Komisi II, Dirjen...
RDP di Komisi II, Dirjen Bina Adwil Kemendagri Ungkap 5 Kunci Penataan Lahan Pasuruan
6 Pejabat TNI AL Berganti,...
6 Pejabat TNI AL Berganti, Kadiskomlekal hingga Kadislitbangal
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN
Hamas Tak akan Serahkan...
Hamas Tak akan Serahkan Persenjataan, tapi Hanya Polisi yang Bawa Senjata di Gaza
Rekomendasi
Gaya Hidup Sehat, Konsumen...
Gaya Hidup Sehat, Konsumen Perkotaan Kian Selektif Pilih Pangan Harian
Kawal Kedaulatan Energi...
Kawal Kedaulatan Energi di Jatim, Komut Pertamina Mochamad Iriawan Cek Kesiapan SAF hingga B50
Jerman vs Paraguay:...
Jerman vs Paraguay: Kenangan Pahit 2002 Hantui La Albirroja
Berita Terkini
Rakor dengan Pimpinan...
Rakor dengan Pimpinan BGN, Dasco Tegaskan DPR Awasi Ketat Program MBG agar Tepat Sasaran
Besok Komisi I DPR Tetapkan...
Besok Komisi I DPR Tetapkan 7 Anggota KIP 2026-2030
5 Calon Manajer Kopdes...
5 Calon Manajer Kopdes dan Kampung Nelayan Meninggal, Kemhan Ganti Nama Latsarmil
Politikus PDIP Ungkap...
Politikus PDIP Ungkap Anggaran Pelatihan SPPI Lebih Besar untuk Latsarmil ketimbang Substansi Koperasi
Implementasi B50 Perkuat...
Implementasi B50 Perkuat Ketahanan Energi dan Tingkatkan Nilai Tambah Sawit
Wamensesneg: Presiden...
Wamensesneg: Presiden Sangat Paham dan Menghargai Kebebasan Akademik di Kampus
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved