alexametrics

Gibran Diuntungkan karena Anak Jokowi PDIP: Semua Ditentukan di Lapangan

loading...
Gibran Diuntungkan karena Anak Jokowi PDIP: Semua Ditentukan di Lapangan
Putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) Gibran Rakabuming Raka dipastikan mendaftar sebagai calon wali kota Solo pada Kamis, 12 Desember 2019 besok. Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) Gibran Rakabuming Raka dipastikan mendaftar sebagai calon wali kota Solo pada Kamis, 12 Desember 2019 besok. Banyak pihak menyebut langkah Gibran maju di Pilkada Kota Solo sebagai upaya Jokowi membentuk politik dinasti.
(Baca juga: Besok, Gibran Rakabuming Raka Daftar Calon Wali Kota Solo)

Ketua DPP PDIP Bidang Pemenangan Pemilu Bambang Wuryanto mengatakan, di wilayah dunia timur politik dinasti sebagai hal yang biasa. ”Bahwa dinasti atau tidak dinasti, kita ini di timur ada jarak dengan kekuasaan, itu biasa. Bahwa Mas Gibran diuntungkan karena anak Presiden, wajar,” ujarnya di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Rabu (11/12/2019).

Bambang mengatakan, meskipun Gibran adalah putra Jokowi, namun dalam Pilkada semua akan ditentukan di lapangan. ”Mas Gibran itu baru posisi anak Presiden. Nanti di lapangan ditunjukkan, dia ini punya kompetensi gak? Legalitas (sebagai anak Presiden) boleh didapat, tapi kompetensi berikutnya harus ditampilkan. Kalau nggak (kompeten) ditertawakan. Republik akan menertawakan,” paparnya.



Dia mencontohkan Puan Maharani yang merupakan putri Ketua Umum PDIP dan juga Presiden ke-V RI, Megawati Soekarnoputri. Menurut Bambang Pacul, saat pileg pun Puan harus turun ke lapangan sehingga akhirnya mendapatkan suara terbanyak nasional dan kemudian terpilih sebagai Ketua DPR RI.

”Sekarang jadi ketua DPR, tantangan kemarin jadi Menko PMK. Tantangan dia itu menunjukkan kemampuannya. Kalau gak mampu ya pasti ditertawakan, publik punya ukuran,” katanya.

Bambang menyebutkan dulu sebelum menjadi Presiden, Jokowi juga banyak ditertawakan orang karena pengalamannya memimpin Kota Solo yang dinilai tidak bisa dijadikan ukuran jika harus memimpin negara seluas Indonesia. ”Kota Solo itu kota kecamatan, Indonesia Sabang-Merauke. Begitu jadi Presiden, dicintai rakyat, mau ngomong apa? Ayo?” katanya.

Karena itu, dirinya meminta semua pihak untuk tidak menilai majunya Gibran dalam Pilkada Solo dan juga Bobby Nasution dalam Pilkada Kota Medan sebagai upaya pembentukan politik dinasti atau nepotisme.

”Nggak usah ngomongin nepotisme, semua dikasih hak (politik) yang sama. Kalau Gibran dilahirkan sebagai anaknya Jokowi, beruntunglah. Dikau kalau diangkat jadi anak Mega, beruntunglah dikau. Kalau Bambang Pacul dilahirkan sebagai seorang anak tentara, ya beruntunglah, kan begitu,” katanya.

Senada, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan seluruh proses pencalonan dalam pilkada menekankan prinsip-prinsip kesetaraan sebagai warga negara. ”Maka Mas Bobby sudah mendaftar dan saya sudah ditugaskan oleh Bu Mega untuk menemui Mas Bobby saat itu. Kami juga sudah berdialog, tetapi proses pengambilan keputusan itu merupakan hal yang berbeda,” urainya.

Hasto mengatakan, hingga saat ini belum ada rekomendasi yang dikeluarkan kepada semua calon yang akan bertarung di pilkada, termasuk untuk Gibran maupun Bobby Nasution.
(cip)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak