Peta Perdamaian Baru, dari Riyanto hingga Paus Fransiskus
Senin, 02 September 2024 - 15:54 WIB
loading...
A
A
A
Karena kekerasan demi kekerasan yang dilakukan untuk tujuan ekspansif dan menguasai, atau bahkan memperoleh kebenaran sepihak, justru menghadirkan sebaliknya. Mereka menjadi rahim lahirnya kebencian, disintegrasi hingga permusuhan yang beban madaratnya lebih banyak.
Tidak heran, jika Israel tak banyak memperoleh kedamaian setelah habis-habisan membombardir Palestina. Militansi rakyat Palestina, hingga pejuang kemanusiaan, mayoritas negara dunia malah tebal mengutuknya.
Maka demikian dalam konteks masyarakat yang dirundung konflik, Gus Dur (2002) memandang jalur perundingan lebih mulia untuk menyelesaikan tumpukan masalah, ketimbang besing rudal dan kekerasan yang justru menimbulkan korban lebih banyak dengan kerusakan-kerusakan mengorkestrasi kesedihan.
Apabila kekerasan justru menimbulkan konflik yang lebih buruk lagi bagi kemanusiaan, maka jalur-jalur dialog dan perundingan bisa menjadi pintu dibukanya perdamaian. Sedikitnya itulah yang penulis amati saat organisasi kepemudaan lintas iman bekunjung mendatangi Paus Fransiskus menjelang kehadirannya ke Indonesia pada 3-6 September. Mereka para pemuda membawa Deklarasi Jakarta-Vatikan yang merupakan kristalisasi poin 3 Dokumen Abu Dhabi, tahun 2019 silam.
Deklarasi Jakarta-Vatikan berisi komitmen anak muda Indonesia untuk menyerukan Pancasila sekaligus seruan bagi anak muda seluruh dunia untuk menggerakkan energi posistif peradaban dunia yang damai, utamanya dalam hal membangun masyarakat dunia yang penuh toleransi, soliditas dan gotong royong.
Selain kepada Paus Fransikus, kelompok anak muda lintas iman ini akan terus mengampanyekan ke seluruh dunia. Mereka akan bertemu dengan para tokoh-tokoh berpengaruh, termasuk peraih nobel perdamaian dunia hingga membentuk poros anak muda Asia-Pasifik, sebagai komitmen untuk mengorbitkan api perdamaian.
Ini menjadi angin segar dalam upaya perdamaian dunia. Keterlibatan anak muda sangat penting menggerakkan seruan-seruan perdamaian dan kampanye menghentikan permusahan. Jumlah penduduk kaum muda yang mencapai 1,2 miliar menjadi potensi besar apabila dikonfigurasikan dengan isu-isu perdamaian dalam konteks global.
Tentu saja Paus Frasiskus menyambut baik ikhtiar sekelompok anak muda dari Indonesia ini. Banyak literatur yang mengatakan bahwa beliau menyukai anak muda. Anak muda baginya adalah penerus masa depan.
Tidak heran, jika Israel tak banyak memperoleh kedamaian setelah habis-habisan membombardir Palestina. Militansi rakyat Palestina, hingga pejuang kemanusiaan, mayoritas negara dunia malah tebal mengutuknya.
Maka demikian dalam konteks masyarakat yang dirundung konflik, Gus Dur (2002) memandang jalur perundingan lebih mulia untuk menyelesaikan tumpukan masalah, ketimbang besing rudal dan kekerasan yang justru menimbulkan korban lebih banyak dengan kerusakan-kerusakan mengorkestrasi kesedihan.
Christus Vivit
Apabila kekerasan justru menimbulkan konflik yang lebih buruk lagi bagi kemanusiaan, maka jalur-jalur dialog dan perundingan bisa menjadi pintu dibukanya perdamaian. Sedikitnya itulah yang penulis amati saat organisasi kepemudaan lintas iman bekunjung mendatangi Paus Fransiskus menjelang kehadirannya ke Indonesia pada 3-6 September. Mereka para pemuda membawa Deklarasi Jakarta-Vatikan yang merupakan kristalisasi poin 3 Dokumen Abu Dhabi, tahun 2019 silam.
Deklarasi Jakarta-Vatikan berisi komitmen anak muda Indonesia untuk menyerukan Pancasila sekaligus seruan bagi anak muda seluruh dunia untuk menggerakkan energi posistif peradaban dunia yang damai, utamanya dalam hal membangun masyarakat dunia yang penuh toleransi, soliditas dan gotong royong.
Selain kepada Paus Fransikus, kelompok anak muda lintas iman ini akan terus mengampanyekan ke seluruh dunia. Mereka akan bertemu dengan para tokoh-tokoh berpengaruh, termasuk peraih nobel perdamaian dunia hingga membentuk poros anak muda Asia-Pasifik, sebagai komitmen untuk mengorbitkan api perdamaian.
Ini menjadi angin segar dalam upaya perdamaian dunia. Keterlibatan anak muda sangat penting menggerakkan seruan-seruan perdamaian dan kampanye menghentikan permusahan. Jumlah penduduk kaum muda yang mencapai 1,2 miliar menjadi potensi besar apabila dikonfigurasikan dengan isu-isu perdamaian dalam konteks global.
Tentu saja Paus Frasiskus menyambut baik ikhtiar sekelompok anak muda dari Indonesia ini. Banyak literatur yang mengatakan bahwa beliau menyukai anak muda. Anak muda baginya adalah penerus masa depan.
Lihat Juga :