alexametrics

MUI Harap Tak Ada Manipulasi Sejarah Islam di Indonesia

loading...
MUI Harap Tak Ada Manipulasi Sejarah Islam di Indonesia
Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsuddin menilai, isu sejarah Islam perlu disinggung. (Foto/SINDOnews/Raka Dwi Novianto)
A+ A-
JAKARTA - Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menggelar rapat pleno ke 42 di Kantor MUI, Jakarta, Rabu 28 Agustus 2019. Dalam rapat tersebut dibahas mengenai sejarah Islam.

Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsuddin menilai, isu sejarah Islam perlu disinggung karena ia menduga ada pihak-pihak yang memanipulasi sejarah Islam yang tak sesuai fakta.

"Tanpa bermaksud menuduh dan tanpa menyebut dan saya sangat rasakan dan jelas ada upaya menghilangkan jejak Islam dari sejarah kita, faktanya banyak," kata Din.



Din menuturkan fakta yang terjadi tentang bendera merah putih. Dia mengklaim, bendera tersebut sudah dimiliki seorang ulama Islam yakni 80 tahun sebelum proklamasi kemerdekaan RI.

"Tokoh Muhammadiyah (asal) Madiun. Betapa fakta sejarah rumah tempat proklamasi pada 17 Ramadan itu rumah (dari) turunan Arab. Ini kan enggak pernah dikemukakan," ungkapnya.

(Baca juga: Din Syamsuddin Sebut Lebih Baik Pemerintah Selesaikan Masalah Papua)

Di samping itu kata Din, Kartosuwiryo yang dianggap pemberontak ternyata mendapat tugas dari Presiden pertama Soekarno untuk menjaga Jawa Barat dari pihak-pihak yang tidak suka dengan kemerdekaan RI.

Ia menyebut banyak fakta sejarah yang bisa digali dari sudut pandang peran sejarah Islam di Indonesia.

"Betapa Bung Karno menyimpan Qur'an kecil di sakunya. Betapa bung karno sampai tancang monas dengan simbol keagamaan, dan Islam. Sampai bangun patung menghadap istana simbol sebagai wali. (Tujuannya) untuk menjaga istana, ini simbol yang aktual," pungkasnya.
(maf)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak