Warisan Budaya Takbenda Indonesia Berbasis Pangan Lokal
Jum'at, 28 Juni 2024 - 13:06 WIB
loading...
A
A
A
Berdasarkan pemikiran tersebut Soekarno menulis buku tentang makanan, isi buku tersebut juga menjelaskan masakan tradisional dari warisan leluhur nusantara. Dari masa kemerdekaan, pergerakan sampai kini abad 21 persoalan krisis pangan masih sebuah PR bangsa Indonesia. Kekayaan alam yang dimiliki sungguh melimpah tidak ternilai jumlahnya.
Tumbuhan yang hidup di tanah nusantara memiliki bahan dasar yang mudah di olah oleh masyarakat yang memilikinya. Kearifan local dan tradisi menjadi simbol kekayaan bangsa Indonesia. Seharusnya krisis tidak lagi sebuah ancaman melainkan warisan budaya yang patut dilestarikan dan lindungi keberadaannya.
Masa kini di era Presiden Joko Widodo bicara tentang pangan tidak terlepas dari sumber pertanian dan sumber hayati, permasalahan pangan menjadi isu yang fundamental.
Pada masa pandemi covid 19 krisis pangan melanda dunia, isu berkembang dalam pembicaraan di kalangan elit. Terkait isu tersebut Presiden Joko Widodo mengimbau seluruh jajarannya untuk mengatasi, mengambil kebijakan, dan langkah-langkah yang tepat untuk mengantisipasi dan mampu menciptakan inovasi ketahanan pangan lokal menjadi makanan pokok non beras. Ketahanan pangan diharapkan ke depan lebih kuat dan bisa diandalkan.
Informasi dari Kompas pada 15 September 2023, dalam acara Dies Natalis di IPB Bogor, Jokowi mengatakan bahwa 19 negara sudah membatasi ekspor pangan ke Indonesia. Artinya Indonesia sebagai negara agraris yang memiliki sumber daya alam, tanah yang subur seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan masyarakatnya.
Sudah saatnya Indonesia bangkit dan menjadi peran utama dalam urusan pangan di dunia. Perlu menjadi perhatian kita bahwa ketahanan pangan non beras bisa diandalkan dan dijadikan bahan makanan pokok seperti papeda.
Masih banyak sumber pangan lain selain padi yang bisa dijadikan makanan pokok seperti pisang, ubi, singkong, jagung dan lain sebagainya. Sumber pangan hewani kita juga kaya akan laut. Warisan budaya takbenda Indonesia terkait pangan lokal non beras perlu dilestarikan keberadaannya.
Papeda memang tidak tercatat dalam Kumpulan resep warisan Soekarno walau kehadirannya sudah ada sejak jaman prasejarah, dibuktikan peninggalan sejarah seperti gerabah dan alat tokok sagu di situs arkeologi di kawasan Danau Sentani Papua.
Namun keberadaannya dan pelestariannya tetap terjaga sampai saat ini. Makanan yang menjadi kearifan lokal wilayah timur mempunyai ciri khas tersendiri yang unik dan beragam.
Diharapkan Indonesia terhindar dari krisis pangan, jika pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat dapat memenuhi aspek ekonomi, sosial, politik dan keamanan, sehingga komoditi pangan sebagai sumber primer menjadi prioritas penting dalam memenuhi kebutuhan pangan Indonesia.
Ketahanan pangan berbasis non beras menjadi pemikiran bersama seperti jagung, sagu, ketela, ubi dan lain sebagainya. Ketahanan pangan saat ini mengkhawatirkan bangsa Indonesia, perlu penanganan serius di semua lapisan masyarakat dan pemerintah.
Definisi ketahanan pangan dari sumber buku food and Agriculture organization 2016, Indonesia and FAO Partnering for Food Security and Sustainable Agricultural Development, bahwa ketahanan pangan adalah kondisi dimana individu di suatu daerah atau desa, menerima akses secara fisik atau ekonomi untuk mendapatkan pangan bagi seluruh keluarga.
Berdasarkan Badan Ketahanan Pangan tahun 2005, bahwa ketersediaan pangan berasal dari dalam negeri dan luar negeri namun lebih diutamakan dari dalam negeri. Kemudian kecukupan individu juga perlu diperhatikan terlepas dari membeli atau produksi sendiri, begitupun kecukupan giji yang paling utama perlu diperhatikan.
Tumbuhan yang hidup di tanah nusantara memiliki bahan dasar yang mudah di olah oleh masyarakat yang memilikinya. Kearifan local dan tradisi menjadi simbol kekayaan bangsa Indonesia. Seharusnya krisis tidak lagi sebuah ancaman melainkan warisan budaya yang patut dilestarikan dan lindungi keberadaannya.
Masa kini di era Presiden Joko Widodo bicara tentang pangan tidak terlepas dari sumber pertanian dan sumber hayati, permasalahan pangan menjadi isu yang fundamental.
Pada masa pandemi covid 19 krisis pangan melanda dunia, isu berkembang dalam pembicaraan di kalangan elit. Terkait isu tersebut Presiden Joko Widodo mengimbau seluruh jajarannya untuk mengatasi, mengambil kebijakan, dan langkah-langkah yang tepat untuk mengantisipasi dan mampu menciptakan inovasi ketahanan pangan lokal menjadi makanan pokok non beras. Ketahanan pangan diharapkan ke depan lebih kuat dan bisa diandalkan.
Informasi dari Kompas pada 15 September 2023, dalam acara Dies Natalis di IPB Bogor, Jokowi mengatakan bahwa 19 negara sudah membatasi ekspor pangan ke Indonesia. Artinya Indonesia sebagai negara agraris yang memiliki sumber daya alam, tanah yang subur seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan masyarakatnya.
Sudah saatnya Indonesia bangkit dan menjadi peran utama dalam urusan pangan di dunia. Perlu menjadi perhatian kita bahwa ketahanan pangan non beras bisa diandalkan dan dijadikan bahan makanan pokok seperti papeda.
Masih banyak sumber pangan lain selain padi yang bisa dijadikan makanan pokok seperti pisang, ubi, singkong, jagung dan lain sebagainya. Sumber pangan hewani kita juga kaya akan laut. Warisan budaya takbenda Indonesia terkait pangan lokal non beras perlu dilestarikan keberadaannya.
Papeda memang tidak tercatat dalam Kumpulan resep warisan Soekarno walau kehadirannya sudah ada sejak jaman prasejarah, dibuktikan peninggalan sejarah seperti gerabah dan alat tokok sagu di situs arkeologi di kawasan Danau Sentani Papua.
Namun keberadaannya dan pelestariannya tetap terjaga sampai saat ini. Makanan yang menjadi kearifan lokal wilayah timur mempunyai ciri khas tersendiri yang unik dan beragam.
Diharapkan Indonesia terhindar dari krisis pangan, jika pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat dapat memenuhi aspek ekonomi, sosial, politik dan keamanan, sehingga komoditi pangan sebagai sumber primer menjadi prioritas penting dalam memenuhi kebutuhan pangan Indonesia.
Ketahanan pangan berbasis non beras menjadi pemikiran bersama seperti jagung, sagu, ketela, ubi dan lain sebagainya. Ketahanan pangan saat ini mengkhawatirkan bangsa Indonesia, perlu penanganan serius di semua lapisan masyarakat dan pemerintah.
Definisi ketahanan pangan dari sumber buku food and Agriculture organization 2016, Indonesia and FAO Partnering for Food Security and Sustainable Agricultural Development, bahwa ketahanan pangan adalah kondisi dimana individu di suatu daerah atau desa, menerima akses secara fisik atau ekonomi untuk mendapatkan pangan bagi seluruh keluarga.
Berdasarkan Badan Ketahanan Pangan tahun 2005, bahwa ketersediaan pangan berasal dari dalam negeri dan luar negeri namun lebih diutamakan dari dalam negeri. Kemudian kecukupan individu juga perlu diperhatikan terlepas dari membeli atau produksi sendiri, begitupun kecukupan giji yang paling utama perlu diperhatikan.
Lihat Juga :