Polemik UKT Perlu Resolusi Konflik yang Mengakar, Dina Hidayana: Pendidikan Gerbang Peradaban
Senin, 03 Juni 2024 - 16:08 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kenaikan UKT Dibatalkan, Nadiem: Angka-angkanya Cukup Mencemaskan
Dibandingkan data PISA 2018, terjadi penurunan (learning loss) signifikan untuk rata-rata tiga pelajaran yakni, Membaca, Matematika dan Sains. Hasil capaian Membaca dan Matematika disebutkan setara dengan 2003, sementara posisi Skor Sains setara dengan 2006. ”Lebih parahnya, temuan tersebut menunjukkan kurang dari 18% siswa Indonesia yang mampu memahami pemodelan berpikir sistematis, kritis, dan problem solver,” ucapnya.
Mengacu pada Napoleon Bonaparte, pemimpin revolusioner yang berhasil memodernisasi Perancis melalui perombakan sistem pendidikan, Dina melihat pentingnya tiga cabang ilmu seperti Matematika, Sejarah dan Geografi sebagai dasar kemajuan peradaban.
”Karenanya perlu lebih banyak warga negara yang menguasai ilmu-ilmu dasar tersebut agar progresivitas kemajuan bangsa dapat diupayakan, khususnya dalam menciptakan teknologi-teknologi baru yang relatif mengatasi kebutuhan dan persoalan masyarakat dengan mengandalkan kekuatan sumber daya nasional yang dimiliki,” kata Dina.
Tingkat literasi dan kemampuan berpikir yang rendah akan menciptakan generasi tumpul yang pada akhirnya akan menjadi beban negara. Sekolah atau kuliah bukan sekadar meraih ijazah dan sertifikat yang bertumpuk. Lebih dari itu, sekolah atau kampus adalah media penempaan daya nalar yang perlu dikuatkan dengan semangat nasionalisme dan pesan tanggung jawab moral atas keberlangsungan regenerasi makhluk hidup beserta seluruh potensi isi bumi.
Ketua Umum IKATANI UNS ini pun berpandangan pendidikan memadai sebagai hak fundamental warga negara yang bersifat nasional. Untuk itu, haruslah dapat diakses oleh seluruh anak bangsa tanpa diskriminatif sebagaimana amanah konstitusi, baik itu termaktub secara lugas dalam Alinea Keempat Pembukaan UUD 1945, maupun secara khusus pada batang tubuh Pasal 28 dan 31.
Dibandingkan data PISA 2018, terjadi penurunan (learning loss) signifikan untuk rata-rata tiga pelajaran yakni, Membaca, Matematika dan Sains. Hasil capaian Membaca dan Matematika disebutkan setara dengan 2003, sementara posisi Skor Sains setara dengan 2006. ”Lebih parahnya, temuan tersebut menunjukkan kurang dari 18% siswa Indonesia yang mampu memahami pemodelan berpikir sistematis, kritis, dan problem solver,” ucapnya.
Mengacu pada Napoleon Bonaparte, pemimpin revolusioner yang berhasil memodernisasi Perancis melalui perombakan sistem pendidikan, Dina melihat pentingnya tiga cabang ilmu seperti Matematika, Sejarah dan Geografi sebagai dasar kemajuan peradaban.
”Karenanya perlu lebih banyak warga negara yang menguasai ilmu-ilmu dasar tersebut agar progresivitas kemajuan bangsa dapat diupayakan, khususnya dalam menciptakan teknologi-teknologi baru yang relatif mengatasi kebutuhan dan persoalan masyarakat dengan mengandalkan kekuatan sumber daya nasional yang dimiliki,” kata Dina.
Tingkat literasi dan kemampuan berpikir yang rendah akan menciptakan generasi tumpul yang pada akhirnya akan menjadi beban negara. Sekolah atau kuliah bukan sekadar meraih ijazah dan sertifikat yang bertumpuk. Lebih dari itu, sekolah atau kampus adalah media penempaan daya nalar yang perlu dikuatkan dengan semangat nasionalisme dan pesan tanggung jawab moral atas keberlangsungan regenerasi makhluk hidup beserta seluruh potensi isi bumi.
Ketua Umum IKATANI UNS ini pun berpandangan pendidikan memadai sebagai hak fundamental warga negara yang bersifat nasional. Untuk itu, haruslah dapat diakses oleh seluruh anak bangsa tanpa diskriminatif sebagaimana amanah konstitusi, baik itu termaktub secara lugas dalam Alinea Keempat Pembukaan UUD 1945, maupun secara khusus pada batang tubuh Pasal 28 dan 31.
Lihat Juga :