Dinamika Asumsi dan Perubahan APBN di Era Ketidakpastian

Senin, 22 April 2024 - 16:23 WIB
loading...
A A A
Berdasarkan data Badan Informasi Energi Amerika Serikat (2018) mencatat bahwa distribusi minyak melalui Selat Hormuz mencapai 21 juta barel per hari. Angka tersebut setara sekitar 21% konsumsi minyak global. Alhasil, jika konflik terus terjadi, maka dampak globalnya akan terjadi kenaikan harga minyak dunia di atas US$80 per barel.

Berbagai risiko akibat konflik geopolitik tentu harus di antisipasi oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Penyesuaian APBN menjadi langkah penting untuk mencegah terjadinya defisit yang melebihi batas minimum yang telah ditetapkan (3%).

Salah satu efek yang paling mencolok dari kenaikan harga barang adalah meningkatnya biaya impor, terutama jika barang tersebut merupakan bahan baku vital dan mesin-mesin produksi (barang modal), yang tentu akan menekan daya saing barang tersebut. Indonesia sebagai negara net-importir minyak, tentu akan terkena imbas naiknya harga minyak dunia.

Pemerintah tentu akan berupaya keras untuk tetap menjaga harga BBM pada level yang diinginkan. Dengan kata lain, belanja subsidi untuk BBM akan naik signifikan. Berdasarkan estimasi perhitungan yang ada, pemerintah setidaknya harus menambah anggaran untuk subsidi BBM hingga Rp50 triliun-Rp110 triliun, konsekuensinya tentu defisit fiskal akan melebar, bahkan lebih tinggi dari ketentuan (3%).

Di sisi lain, apabila pemerintah memilih untuk membiarkan harga BBM non-subsidi sesuai harga dunia, maka berbagai komoditas penting dalam proses produksi tersebut akan terkerek naik, inflasi akan terkerek juga. Efeknya adalah pada daya beli masyarakat secara umum. Saat ini, daya beli masyarakat di kelompok menengah pun juga rentan oleh kenaikan harga.

Bagaimana kebijakan moneter? Bank Indonesia bisa saja menaikkan suku bunga acuan sebagai upaya menekan angka inflasi. Satu sisi, kebijakan tersebut dapat menekan nasabah/ masyarakat terutama naiknya beban cicilan kreditnya, sisi lain, akan mampu menahan meningkatnya jumlah modal keluar (capital outflow) yang tentu akan menekan nilai rupiah. Pilihan-pilihan kebijakan tersebut memperlukan kerjasama yang baik antara pemerintah dan bank sentral.

Adapun keberhasilan Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah berbagai guncangan ekonomi yang terjadi tak lepas dari peran APBN. Bahkan, hingga di tahun 2024 kini, APBN Indonesia masih menjadi instrumen kebijakan yang dapat diandalkan dalam menghadapi gejolak ekonomi dan geopolitik, serta mendukung berbagai agenda pembangunan.

Sejatinya, pemerintah dan DPR RI telah menyepakati asumsi dasar makro pada APBN 2024, yaitu pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2%, inflasi yang terkendali sebesar 2,8%, nilai tukar rupiah sebesar Rp15.000/US$, suku bunga SBN 10 tahun sebesar 6,7%, harga minyak dunia (ICP) sebesar US$82/Barel, lifting minyak sebesar 635 ribu barel per hari, serta lifting gas sebesar 1,033 juta barel setara minyak per hari.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
TNI di Kejaksaan: Antara...
TNI di Kejaksaan: Antara Persepsi Backing, Kepastian Hukum, dan Konsolidasi Negara
Meraih Hak Pemajakan...
Meraih Hak Pemajakan Indonesia melalui Implementasi PPh Digital Asing yang Sederhana
Membaca Arah Baru Fleksibilitas...
Membaca Arah Baru Fleksibilitas Fiskal Indonesia
Indonesia Menggugat:...
Indonesia Menggugat: Perlawanan Dokter Tifa dalam Sidang Kasus Dugaan Ijazah Palsu Joko Widodo
Membaca Penguatan Kelompok...
Membaca Penguatan Kelompok Rentan dalam Revisi UU HAM
NU, Antara Tradisi Pesantren,...
NU, Antara Tradisi Pesantren, Profesionalisme Organisasi, dan Kemandirian Ekonomi
Transaksi Olein di JFX...
Transaksi Olein di JFX Naik Tembus Rp7,3 Triliun, Timah Ikut Menguat
Seret, Penerimaan Pajak...
Seret, Penerimaan Pajak hingga Akhir Juni 2026 Belum Menyentuh Separuh Target APBN
Purbaya soal Anggaran...
Purbaya soal Anggaran MBG: Saya Maunya Nol, Tapi Nggak Bisa Kan
Rekomendasi
Norwegia vs Inggris:...
Norwegia vs Inggris: Duel Panas Menuju Empat Besar
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Percepat Distribusi Pertalite 19 SPBU di Bogor
Promo Spesial BRI Kartu...
Promo Spesial BRI Kartu Kredit: Jalan-Jalan Lebih Hemat Rp125.000 di tiket.com!
Berita Terkini
Gus Yahya: Delegasi...
Gus Yahya: Delegasi Indonesia ke Iran Sampaikan Belasungkawa dan Dorong Perdamaian
Raih Pengakuan Riset...
Raih Pengakuan Riset STEM, 2 Peneliti SGU Masuk Kandidat Ilmuwan Muda
Febrie Adriansyah Mundur...
Febrie Adriansyah Mundur dari Jampidsus, Komisi III DPR Segera Bentuk Timwas
Bupati Sukoharjo Etik...
Bupati Sukoharjo Etik Suryani Ditetapkan Tersangka Pemerasan, Ternyata Ikuti Praktik Suaminya
TNI di Kejaksaan: Antara...
TNI di Kejaksaan: Antara Persepsi Backing, Kepastian Hukum, dan Konsolidasi Negara
Febrie Adriansyah Mundur...
Febrie Adriansyah Mundur dari Jampidsus, Pengamat: Proses Hukum Harus Tetap Berjalan
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved