Ini Perbedaan Vaksin Corona Bikinan Indonesia dengan Buatan Asing
Jum'at, 14 Agustus 2020 - 20:31 WIB
loading...
A
A
A
(Baca juga: Wasekjen Demokrat Sebut Tak Ada yang Istimewa dari Pidato Jokowi)
Sementara, kata Amin vaksin yang dikembangkan oleh Eijkman hanya menggunakan sub partikel dari virus Corona tersebut. "Nah, yang dikembangkan oleh Lembaga Eijkman kami hanya menggunakan bagian-bagian tertentu saja dari sub partikel virus itu," katanya.
"Jadi misalnya kalau virus ini menempel pada manusia itu kan lewat spike-nya atau duri-durinya itu, nah itu protein spike ini yang kita jadikan sebagai target antigen. Itu yang kita jadikan antigen tapi tidak diambil langsung dari virus itu, hanya saja kita mengambil bagian itu. Jadi bukan mengambil langsung dari virus itu. Kita mengambil informasi genetik," jelas Amin.
Amin mengatakan vaksin Merah Putih menggunakan metode rekombinasi. Dengan metode, kata Amin akan meminimalkan potensi reaksi yang tidak diperlukan. Meskipun dalam prosesnya memerlukan waktu yang lebih lama.
"Salah satu keuntungannya adalah kita meminimalisasi reaksi-reaksi yang tidak diperlukan. Artinya kalau kita menggunakan full virus, maka ada potensi terjadinya reaksi terhadap komponen-komponen virus yang lainnya. Itu kita minimalisasi. Tentunya prosesnya membutuhkan waktu yang lebih lama," ujarnya.
Sementara, kata Amin vaksin yang dikembangkan oleh Eijkman hanya menggunakan sub partikel dari virus Corona tersebut. "Nah, yang dikembangkan oleh Lembaga Eijkman kami hanya menggunakan bagian-bagian tertentu saja dari sub partikel virus itu," katanya.
"Jadi misalnya kalau virus ini menempel pada manusia itu kan lewat spike-nya atau duri-durinya itu, nah itu protein spike ini yang kita jadikan sebagai target antigen. Itu yang kita jadikan antigen tapi tidak diambil langsung dari virus itu, hanya saja kita mengambil bagian itu. Jadi bukan mengambil langsung dari virus itu. Kita mengambil informasi genetik," jelas Amin.
Amin mengatakan vaksin Merah Putih menggunakan metode rekombinasi. Dengan metode, kata Amin akan meminimalkan potensi reaksi yang tidak diperlukan. Meskipun dalam prosesnya memerlukan waktu yang lebih lama.
"Salah satu keuntungannya adalah kita meminimalisasi reaksi-reaksi yang tidak diperlukan. Artinya kalau kita menggunakan full virus, maka ada potensi terjadinya reaksi terhadap komponen-komponen virus yang lainnya. Itu kita minimalisasi. Tentunya prosesnya membutuhkan waktu yang lebih lama," ujarnya.
Lihat Juga :