Yang Waras Ngalah: Kenangan dan Hikmah Sowan Abah Anom
Minggu, 18 Februari 2024 - 10:57 WIB
loading...
A
A
A
Alhamdulillah saya bisa sowan ke Abah Anom dan bisa bertemu cukup lama. Pertama saya dapat penjelasan dari beliau mengenai makna gerakan zikir yang biasa diamalkan oleh pengamal Thariqah Qadiriyah Naqshabandiyah. Beliau menjelaskan makna-makna simbolik di balik gerakan-gerakan penganut thariqah ini ketika melafalkan kalimat La ilaha iIallah yang disuarakan keras dengan menggelengkan kepalanya ke depan belakang, kiri kanan, dan atas bawah.
Luar biasa ternyata makna dari sebuah gerakan yang ketika dilihat dari orang luar tampak sederhana tetapi ternyata memiliki arti yang dalam dan sangat bermakna bagi yang mengamalkannya. Beliau menjelaskan bahwa makna gerakan ini adalah kita meminta perlindungan kepada Allah SWT dari godaan syetan dari pelbagai penjuru, dari kanan, kiri, atas, bawah, depan dan belakang. Kita menyadari betul bahwa godaan syetan itu bisa melaui atasan dan bawahan, teman-teman dari kiri kanan kita dan orang-orang di belakang dan di depan kita. Dengan penghayatan yang mendalam seperti ini maka akan tampak orang-orang yang berzikir bisa melupakan semuanya kecuali kepada Allah. Ini sedikit simpulan dan makna yang bisa saya tangkap dari penjelasan Abah terkait dengan gerakan zikir tersebut.
Setelah mendapat wejangan seputar thariqah, saya diizinkan menginap di kediaman beliau. Saya dipersilakan menuju barak di lantai dua. Betapa kagetnya, di ruang ini sudah banyak penghuni sebelumnya. Bukan banyaknya orang yang mengagetkan tetapi di antara mereka adalah orang-orang yang kurang waras secara fisik karena mereka adalah para korban pengguna narkoba yang masih dalam proses rehabilitasi. Ada yang ngomel-ngomel sendiri dan ada juga yang berteriak-teriak.
Saya hampir tidak bisa tertidur sepanjang malam berkumpul dengan orang-orang ini dalam satu ruangan karena takut kalau tiba-tiba ada yang memukul atau mereka berbuat kasar dan lain-lain. Karena di samping mereka adalah korban pecandu narkoba, banyak juga orang-orang yang memiliki kelainan jiwa yang sedang berobat di pondok ini.
Yang sebenarnya menjadi pertanyaan dalam hati saya adalah kenapa Abah Anom menempatkan saya tidur bersama mereka. Saya terus merenung dan bertanya dalam hati sepanjang malam. Sampai keesokan harinya, ternyata setelah saya terus renungkan secara mendalam saya menemukan jawabannya.
Sebelumnya, di luar atau ketika saya berada di tengah-tengah masyarakat sering mendengar ungkapan Yang Waras Ngalah. Dan ketika mendengar ungkapan itu saya kurang memahami maknanya dan saya anggap itu kalimat biasa. Setelah peristiwa ini, saya baru memahami dan menyadari. Dalam kondisi tertentu atau kondisi yang tidak normal yang waras harus ngalah. Berada di situasi seperti ini memang harus hati-hati karena ada kecenderungan kalau yang normal dikumpulkan dengan yang tidak normal, meskipun jumlah yang normal lebih banyak biasanya yang kalah dan terpengaruh adalah yang normal. Memang dari awal pasti yang terbebani yang normal atau yang waras dibandingkan dengan yang tidak normal.
Luar biasa ternyata makna dari sebuah gerakan yang ketika dilihat dari orang luar tampak sederhana tetapi ternyata memiliki arti yang dalam dan sangat bermakna bagi yang mengamalkannya. Beliau menjelaskan bahwa makna gerakan ini adalah kita meminta perlindungan kepada Allah SWT dari godaan syetan dari pelbagai penjuru, dari kanan, kiri, atas, bawah, depan dan belakang. Kita menyadari betul bahwa godaan syetan itu bisa melaui atasan dan bawahan, teman-teman dari kiri kanan kita dan orang-orang di belakang dan di depan kita. Dengan penghayatan yang mendalam seperti ini maka akan tampak orang-orang yang berzikir bisa melupakan semuanya kecuali kepada Allah. Ini sedikit simpulan dan makna yang bisa saya tangkap dari penjelasan Abah terkait dengan gerakan zikir tersebut.
Setelah mendapat wejangan seputar thariqah, saya diizinkan menginap di kediaman beliau. Saya dipersilakan menuju barak di lantai dua. Betapa kagetnya, di ruang ini sudah banyak penghuni sebelumnya. Bukan banyaknya orang yang mengagetkan tetapi di antara mereka adalah orang-orang yang kurang waras secara fisik karena mereka adalah para korban pengguna narkoba yang masih dalam proses rehabilitasi. Ada yang ngomel-ngomel sendiri dan ada juga yang berteriak-teriak.
Saya hampir tidak bisa tertidur sepanjang malam berkumpul dengan orang-orang ini dalam satu ruangan karena takut kalau tiba-tiba ada yang memukul atau mereka berbuat kasar dan lain-lain. Karena di samping mereka adalah korban pecandu narkoba, banyak juga orang-orang yang memiliki kelainan jiwa yang sedang berobat di pondok ini.
Yang sebenarnya menjadi pertanyaan dalam hati saya adalah kenapa Abah Anom menempatkan saya tidur bersama mereka. Saya terus merenung dan bertanya dalam hati sepanjang malam. Sampai keesokan harinya, ternyata setelah saya terus renungkan secara mendalam saya menemukan jawabannya.
Sebelumnya, di luar atau ketika saya berada di tengah-tengah masyarakat sering mendengar ungkapan Yang Waras Ngalah. Dan ketika mendengar ungkapan itu saya kurang memahami maknanya dan saya anggap itu kalimat biasa. Setelah peristiwa ini, saya baru memahami dan menyadari. Dalam kondisi tertentu atau kondisi yang tidak normal yang waras harus ngalah. Berada di situasi seperti ini memang harus hati-hati karena ada kecenderungan kalau yang normal dikumpulkan dengan yang tidak normal, meskipun jumlah yang normal lebih banyak biasanya yang kalah dan terpengaruh adalah yang normal. Memang dari awal pasti yang terbebani yang normal atau yang waras dibandingkan dengan yang tidak normal.
Lihat Juga :