TPN Soroti Anomali Pilpres 2024: Yang Main-main dengan Suara Rakyat Nanti Kena Azab
Jum'at, 16 Februari 2024 - 19:13 WIB
loading...
Ketua Tim Penjadwalan TPN Ganjar Pranowo-Mahfud MD, Aria Bima merasa banyak kejanggalan dalam proses pemungutan hingga penghitungan suara Pilpres 2024. Foto/MPI
A
A
A
JAKARTA - Ketua Tim Penjadwalan Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar Pranowo-Mahfud MD , Aria Bima merasa banyak kejanggalan dalam proses pemungutan hingga penghitungan suara Pilpres 2024 . Ia mengingatkan bagi pihak yang bermain-main dengan suara rakyat akan terkena azab.
"Saya sekali lagi pakai ilmu wong jowo: yang main-main dengan suara rakyat, suara di TPS, itu bisa kena azab," ujar Aria saat jumpa pers di Media Center TPN Ganjar-Mahfud, Jakarta Pusat, Jumat (16/2/2024).
Baca juga: Haris Pertama Jubir TPN: Kecurangan 1997 saat Rezim Soeharto Mirip dengan Pemilu 2024
Aria pun mempersilakan kepada publik untuk membuktikannya bagi para penyelenggara pemilu yang bermain dengan suara rakyat. Ia mengingatkan penyelanggara pemilu yang bermain dengan suara rakyat akan terkena azab dan mendapat dosa.
"Tidak hanya menyalahi hukum, tapi juga dosa, vox populi vox dei. Itu saya orang jawa 4x jadi panitia, jadi tim kampanye, termasuk 5x jadi anggota legislatif, jangan macam-macam dengan rekap-rekapan manipulasi suara di KPU," tutur Aria.
"Saya sekali lagi pakai ilmu wong jowo: yang main-main dengan suara rakyat, suara di TPS, itu bisa kena azab," ujar Aria saat jumpa pers di Media Center TPN Ganjar-Mahfud, Jakarta Pusat, Jumat (16/2/2024).
Baca juga: Haris Pertama Jubir TPN: Kecurangan 1997 saat Rezim Soeharto Mirip dengan Pemilu 2024
Aria pun mempersilakan kepada publik untuk membuktikannya bagi para penyelenggara pemilu yang bermain dengan suara rakyat. Ia mengingatkan penyelanggara pemilu yang bermain dengan suara rakyat akan terkena azab dan mendapat dosa.
"Tidak hanya menyalahi hukum, tapi juga dosa, vox populi vox dei. Itu saya orang jawa 4x jadi panitia, jadi tim kampanye, termasuk 5x jadi anggota legislatif, jangan macam-macam dengan rekap-rekapan manipulasi suara di KPU," tutur Aria.
Lihat Juga :