Sivitas Akademika Serukan Pesan Moral, DPR: Guru Besar Bukan Partisan
Senin, 05 Februari 2024 - 10:34 WIB
loading...
A
A
A
Seruan, petisi, pernyataan sikap, dari para civitas akademika ini, lanjut Huda tentu didasarkan pada kondisi objektif yang terjadi jelang Pemilu 2024. Fenomena keberpihakkan aparat pemerintah kepada calon tertentu, munculnya dugaan intimadasi aparat kepada konstetan lain, hingga mobilisasi perangkat desa memenangkan calon tertentu merupakan kondisi yang harus disikapi oleh semua elemen bangsa, termasuk kalangan kampus.
"Kita tentu tidak bisa menutup mata dengan situasi politik saat ini di mana salah satu kontestan Pilpres adalah keluarga inti Presiden. Maka sudah sewajarnya jika ada seruan agar semua stake holder menjaga agar Pemilu kali ini berjalan jujur dan adil," katanya.
Huda berharap agar semua pihak menempatkan seruan civitas akademika ini sebagai lonceng peringatan agar semua pihak menjaga kualitas dan legitimasi Pemilu. Menurutnya harga yang harus dibayar bangsa ini terlalu mahal jika Pemilu diwarnai kecurangan.
"Pemilu tidak hanya butuh konstitusional tetapi juga butuh legitimasi. Jika diwarnai kecurangan mungkin hasilnya tetap konstitusional karena sesuai prosedur tetapi pasti tidak akan legimate dan itu pasti berbahaya karena pemerintah yang dihasilkan juga tidak akan mendapat dukungan mayoritas rakyat," katanya.
Untuk diketahui sejumlah civitas akademika berbagai kampus menyuarakan keprihatinan mereka atas situasi politik jelang pelaksanaan Pemilu 2024 pada Rabu (14/2/2024). Mayoritas meminta agar Pemilu 2024 berjalan jujur dan adil. Salah satunya dengan memastikan aparatus pemerintah mulai dari presiden hingga menteri agar bersikap netral. Seruan tersebut di antaranya disuarakan oleh civitas akademika UGM, UI, Universitas Islam Indonesia, UIN Sunan Kalijaga, dan Universitas Andalas.
"Kita tentu tidak bisa menutup mata dengan situasi politik saat ini di mana salah satu kontestan Pilpres adalah keluarga inti Presiden. Maka sudah sewajarnya jika ada seruan agar semua stake holder menjaga agar Pemilu kali ini berjalan jujur dan adil," katanya.
Huda berharap agar semua pihak menempatkan seruan civitas akademika ini sebagai lonceng peringatan agar semua pihak menjaga kualitas dan legitimasi Pemilu. Menurutnya harga yang harus dibayar bangsa ini terlalu mahal jika Pemilu diwarnai kecurangan.
"Pemilu tidak hanya butuh konstitusional tetapi juga butuh legitimasi. Jika diwarnai kecurangan mungkin hasilnya tetap konstitusional karena sesuai prosedur tetapi pasti tidak akan legimate dan itu pasti berbahaya karena pemerintah yang dihasilkan juga tidak akan mendapat dukungan mayoritas rakyat," katanya.
Untuk diketahui sejumlah civitas akademika berbagai kampus menyuarakan keprihatinan mereka atas situasi politik jelang pelaksanaan Pemilu 2024 pada Rabu (14/2/2024). Mayoritas meminta agar Pemilu 2024 berjalan jujur dan adil. Salah satunya dengan memastikan aparatus pemerintah mulai dari presiden hingga menteri agar bersikap netral. Seruan tersebut di antaranya disuarakan oleh civitas akademika UGM, UI, Universitas Islam Indonesia, UIN Sunan Kalijaga, dan Universitas Andalas.
(abd)
Lihat Juga :