Booming-nya Fenomena Child-Free: Memilih Hidup tanpa Anak Semakin Populer
Kamis, 04 Januari 2024 - 16:44 WIB
loading...
A
A
A
Berdasarkan riset yang telah dilakukan, tren child-free mengalami peningkatan, khususnya di kalangan generasi milenial di Indonesia. Persentase perempuan menikah antara usia 15-49 tahun yang memilih child-free berfluktuasi dari 59% pada tahun 2007 menjadi 56% pada tahun 2012 dan kembali naik ke 58% pada tahun 2017 (Nuroh & Sulhan, 2022). Laki-laki yang tidak memiliki anak meningkat dari 52% pada SDKI tahun 2007 menjadi 53% pada SDKI tahun 2012, serta tidak ada perubahan persentase ini sampai SDKI tahun 2017 (Mediaindonesia, 2021).
Namun, faktanya adalah bahwa tidak semua pasangan memiliki kemampuan untuk memiliki anak dalam kehidupan pernikahan mereka, yang sebenarnya bukan masuk dalam kategori child-free. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Khalis & Ayuningtyas (2023), komunikasi keluarga memegang peranan penting dalam menghadapi fenomena child-free ini.
Komunikasi keluarga sangat penting dalam membantu individu dan keluarga dalam memahami pilihan mereka dan merespons tekanan sosial yang muncul. Mulai dari maraknya para influencer yang secara sadar mengkampanyekan child-free ini, hingga komunitas online yang didirikan bagi individu yang memutuskan untuk tidak memiliki anak sedang berkembang pesat, yang dikenal sebagai gerakan "tanpa anak" atau child-free.
Selain itu, komunikasi keluarga juga dianggap penting karena keputusan untuk memiliki atau tidak memiliki anak dapat mempengaruhi hubungan dengan orang tua atau pasangan. Murdock mengelaborasikan bagaimana keluarga merupakan suatu konsep yang bersifat multidimensi dalam buku Psikologi Keluarga (1965).
Menurut Littlejohn & Foss, salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam keluarga adalah komunikasi, terutama antara orang tua dan anak. Keterbukaan dalam percakapan dan interaksi yang terjadi di antara setiap anggota keluarga, menghargai sudut pandang satu sama lain, serta tidak adanya upaya orang tua untuk memaksakan kehendaknya kepada anak dapat menjadi tanda komunikasi keluarga yang kuat (Santoro, 2021).
Namun, faktanya adalah bahwa tidak semua pasangan memiliki kemampuan untuk memiliki anak dalam kehidupan pernikahan mereka, yang sebenarnya bukan masuk dalam kategori child-free. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Khalis & Ayuningtyas (2023), komunikasi keluarga memegang peranan penting dalam menghadapi fenomena child-free ini.
Komunikasi keluarga sangat penting dalam membantu individu dan keluarga dalam memahami pilihan mereka dan merespons tekanan sosial yang muncul. Mulai dari maraknya para influencer yang secara sadar mengkampanyekan child-free ini, hingga komunitas online yang didirikan bagi individu yang memutuskan untuk tidak memiliki anak sedang berkembang pesat, yang dikenal sebagai gerakan "tanpa anak" atau child-free.
Selain itu, komunikasi keluarga juga dianggap penting karena keputusan untuk memiliki atau tidak memiliki anak dapat mempengaruhi hubungan dengan orang tua atau pasangan. Murdock mengelaborasikan bagaimana keluarga merupakan suatu konsep yang bersifat multidimensi dalam buku Psikologi Keluarga (1965).
Menurut Littlejohn & Foss, salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam keluarga adalah komunikasi, terutama antara orang tua dan anak. Keterbukaan dalam percakapan dan interaksi yang terjadi di antara setiap anggota keluarga, menghargai sudut pandang satu sama lain, serta tidak adanya upaya orang tua untuk memaksakan kehendaknya kepada anak dapat menjadi tanda komunikasi keluarga yang kuat (Santoro, 2021).
(poe)
Lihat Juga :