Rokhmin Dahuri Menunjukkan Peta Jalan Menuju Kedaulatan Pangan
Senin, 10 Agustus 2020 - 14:48 WIB
loading...
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri. Foto/dok.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki, karena sangat menentukan kesehatan dan kecerdasan. ”You are what you eat,” kata Prof Rokhmin Dahuri, dalam pembuka tulisannya di buku berjudul Jebakan Krisis dan Ketahanan Pangan: Sehimpun Saran dan Solusi.
Prof Rokhmin yang pernah menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Gotong Royong ini berpandangan, dalam jangka panjang, kekurangan pangan di suatu negara akan mewariskan generasi yang lemah, kurang cerdas, dan tidak produktif - a lost generation. Dengan kualitas SDM semacam ini, tidaklah mungkin sebuah bangsa bisa maju dan sejahtera.
Peran krusial pangan bagi sebuah bangsa, ujar sang profesor, semakin nyata di tengah pendemi Covid-19 ini. Di mana, negara-negara produsen pangan dunia (seperti AS, Kanada, dan Thailand) mengurangi ekspor pangannya, karena kendala logistik maupun demi mengamankan pemenuhan kebutuhan pangan nasionalnya.
“Indonesia akan terhindar dari ancaman krisis pangan akibat pandemi covid-19 dengan mengutamakan kesejahteraan petani, nelayan, dan produsen pangan lainnya. Kemudian, menjaga supaya seluruh unit usaha produksi pangan dan industri pengolahan pangan yang ada di seluruh Nusantara tetap berproduksi,” kata Ketua Umum Gerakan Nelayan dan Tani Indonesia ini.
(Baca: Lewat Buku, Tiga Eks Menteri Bahas Jebakan Krisis dan Ketahanan Pangan)
Dalam jangka menengah – panjang, Indonesia harus terus meningkatkan kapasitas dan etos kerja petani dan nelayan melalui program pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan secara berkesinambungan. Kapasitas R & D pun mesti terus ditingkatkan agar mampu menghasilkan beragam inovasi IPTEKS untuk menopang sektor ekonomi pangan yang produktif, efisien, berdaya saing, inklusif, dan sustainable.
Prof Rokhmin yang pernah menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Gotong Royong ini berpandangan, dalam jangka panjang, kekurangan pangan di suatu negara akan mewariskan generasi yang lemah, kurang cerdas, dan tidak produktif - a lost generation. Dengan kualitas SDM semacam ini, tidaklah mungkin sebuah bangsa bisa maju dan sejahtera.
Peran krusial pangan bagi sebuah bangsa, ujar sang profesor, semakin nyata di tengah pendemi Covid-19 ini. Di mana, negara-negara produsen pangan dunia (seperti AS, Kanada, dan Thailand) mengurangi ekspor pangannya, karena kendala logistik maupun demi mengamankan pemenuhan kebutuhan pangan nasionalnya.
“Indonesia akan terhindar dari ancaman krisis pangan akibat pandemi covid-19 dengan mengutamakan kesejahteraan petani, nelayan, dan produsen pangan lainnya. Kemudian, menjaga supaya seluruh unit usaha produksi pangan dan industri pengolahan pangan yang ada di seluruh Nusantara tetap berproduksi,” kata Ketua Umum Gerakan Nelayan dan Tani Indonesia ini.
(Baca: Lewat Buku, Tiga Eks Menteri Bahas Jebakan Krisis dan Ketahanan Pangan)
Dalam jangka menengah – panjang, Indonesia harus terus meningkatkan kapasitas dan etos kerja petani dan nelayan melalui program pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan secara berkesinambungan. Kapasitas R & D pun mesti terus ditingkatkan agar mampu menghasilkan beragam inovasi IPTEKS untuk menopang sektor ekonomi pangan yang produktif, efisien, berdaya saing, inklusif, dan sustainable.
Lihat Juga :