Lewat Buku, Tiga Eks Menteri Bahas Jebakan Krisis dan Ketahanan Pangan

loading...
Lewat Buku, Tiga Eks Menteri Bahas Jebakan Krisis dan Ketahanan Pangan
Pandu Tani Indonesia (Patani) mengumpulkan gagasan-gagasan dan pemikiran yang kuat di masa krisis ini dengan menerbitkan buku berjudul Jebakan Krisis dan Ketahanan Pangan: Sehimpun Saran dan Solusi. Foto/SINDOnews/Hendri Irawan
A+ A-
JAKARTA - Hari-hari ini negeri ini semakin tertantang untuk mewujudkan kedaulatan pangan. Perubahan cuaca yang semakin tidak menentu dan pertambahan jumlah penduduk mengharuskan adanya langkah-langkah strategis untuk memenuhi kebutuhan pangan warga.

Ditambah serangan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang kian memaksa Indonesia agar mengedepankan ketahanan pangan. Untuk itu, Pandu Tani Indonesia (Patani) tengah mengumpulkan gagasan-gagasan dan pemikiran yang kuat di masa krisis ini dengan menerbitkan buku strategi berjudul Jebakan Krisis dan Ketahanan Pangan: Sehimpun Saran dan Solusi.

"Buku ini sebuah ikhtiar untuk mengonsepsikan dengan matang upaya mewujudkan kedaulatan pangan, buah pikir dari para ahli dan tokoh yang berkomitmen dalam isu pangan dan sumber daya alam," kata Direktur Utama Patani Sarjan Tahir, Sabtu (8/8/2020).

Sarjan berharap, sehimpun saran dan solusi dalam buku ini bisa diimplementasikan oleh para pengambil kebijakan dalam menelurkan kebijakan-kebijakan. "Mari kita hadapi kenyataan dengan tindakan dan kerja untuk mewujudkan harapan dan kemakmuran bangsa," ujar Sarjan seraya mengatakan, buku ini juga sebagai kado ulang tahun ke-75 kemerdekaan Republik Indonesia.

Menurut Sarjan, pandemi Covid-19 telah membawa ekor masalah ketahanan pangan di seluruh negeri, tidak terkecuali Indonesia. Laporan media massa, negara eksportir beras seperti Vietnam, Thailand, dan India mulai membatasi pengiriman ke Indonesia. (Baca juga: Di KLB Gerindra, Jokowi Ungkap Strategi Tunjuk Prabowo Urusi Cadangan Pangan)



Sementara, produksi beras dalam negeri pada April-Juni 2020 mencapai 11 juta ton. Stok beras diperkirakan hanya aman sampai Juli 2020. “Mau tidak mau, pemerintah dituntut untuk membuat strategi jitu guna memenuhi kebutuhan pangan 267 juta penduduk Indonesia. Semoga saja, buku Jebakan Krisis dan Ketahanan Pangan: Sehimpun Saran dan Solusi, mampu memberi saran dan solusi atas ancaman krisis pangan,” kata Sarjan.

Sementara penyunting buku tersebut, Jaelani Ali Muhammad mengungkapkan, buku Jebakan Krisis dan Ketahanan Pangan: Sehimpun Saran dan Solusi, menjadi sangat spesial karena ditulis di saat pandemi dan oleh orang-orang berkompeten. Bahkan, tiga di antaranya mantan menteri, yakni Prof Dr H Bomer Pasaribu (Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada paruh pertama era pemerintahan Abdurrahman Wahid), Prof Dr Rokhmin Dahuri (Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Gotong Royong), dan Dr Anton Apriyantono (Menteri Pertanian dalam Kabinet Indonesia Bersatu).

Tak hanya itu, buku ini juga memuat tulisan Prof Dr Hermanto Siregar, anggota dewan di sejumlah organisasi profesional, termasuk Dewan Ekonomi Nasional, Asosiasi Ekonom Indonesia, Asosiasi Ekonom Pertanian Indonesia, dan Forum Kebijakan Pertanian Asia Pasifik.

Ada pula tulisan eksekutif Indonesia yang pernah menjabat sebagai Kepala Bulog Sutarto Alimoeso, Direksi Indofood Franciscus Welirang, serta Ketua Umum Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo) sekaligus Managing Director di East West Seed Indonesia yang bergerak di bidang pembibitan Glenn Pardede.

“Buku ini juga memuat tulisan doktor bidang keahlian ilmu perencanaan pembangunan wilayah dan perdesaan Harry Santoso, serta penulis tamu dari kalangan milenial Agus Harimurti Yudhoyono,” kata Kepala Editor Bahasa KORAN SINDO ini.
(dam)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top